Oleh. Eni Yulika
Wacana-edukasi.com, OPINI–Baru-baru ini digencarkan pemeriksaan gratis bagi penderita TB dan pengobatannya gratis. TB menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat karen penularannya yang sangat cepat. Seperti dikutip dari antaranews.com (12/08/2026) Pemerintah Kota Medan, Sumatera Utara menggencarkan program skiring Tuberkulosis (TB) yang terintegrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) guna menekan angka prevalensi penyakit tersebut secara nasional. Kegiatan tersebut bakal melibatkan seluruh kader kesehatan terkhusus puskesmas di seluruh kecamatan di wilayah itu.
Rico Waas mengatakan masyarakat yang teridentifikasi bakal mendapatkan pendampingan mulai dari pemberi terapi pencegahan TB, pemeriksaan lanjutan, hingga penanganan pengobatan gratis sampai dengan dinyatakan sembuh total.
Upaya pemerintahan kota Medan untuk menangani kasus TB patut diapresiasi. Karena usaha untuk mencari ke lapangan. Tetapi permasalahannya adalah kadang masyarakat tidak mau ikut pemeriksaan gratis tersebut karena belum merasa sakitnya parah. Sehingga penularannya akan terus berlanjut.
Menurut pakar kesehatan, kasus TB di kota Medan meningkat akibat beberapa faktor yaitu : penularan lewat udara yang tinggi akibat kontak erat serumah, rendahnya kesadaran masyarakat memeriksakan gejala, kondisi lingkungan dan ventilasi rumah yang kurang sehat, serta masifnya penemuan kasus aktif (Active Case Finding) oleh tenaga kesehatan.
Ternyata kasus TB secara nasional dari tahun ke tahun belum turun secara signifikan. Sehingga pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengubah strategi pengendalian tuberkulosis (TB) dengan mewajibkan pelacakan 100 persen terhadap keluarga dan kontak erat pasien. Langkah ini diambil untuk memutus rantai penularan dan mempercepat target eliminasi TB di Indonesia pada 2030.
Melihat wabah penyakit TB yang banyak memakan korban di berbagai daerah Indonesia, maka penanganan yang dilakukan dulu adalah cenderung berfokus pada pengobatan pasien yang sudah sakit tanpa memutus sumber penularan terdekat. Sekarang pemerintah membuat strategi baru yaitu memperluas pelacakan kontak erat dengan memanfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), rontgen portabel, dan tes cepat.
Sehingga diharapkan tingkat penularan, penyembuhan dan pencegahan bisa diharapkan ke arah yang lebih baik. Sebenarnya kasus TB ini selain dari peran petugas kesehatan, apakah membutuhkan peran elemen lain yang bisa mencegah dan memberhentikan kasus TB, ini juga harusnya dilakukan oleh pihak pemerintah.
Untuk melihat akar permasalahan TB adalah diantaranya:
Pertama,TB menular lewat udara, dimana bakteri Mycobacterium tuberculosis melayang lewat udara dari bersin, dahak, batuk dan mengenai orang lain yang ada disekitarnya. Selain itu resiko tinggi terhadap orang yang berinteraksi dengan penderita baik orang rumah, tetangga, teman kerja dan lain sebagainya. Sehingga memungkinkan lebih cepatnya penularan tersebut.
Kedua, daya tahan tubuh seseorang juga memengaruhi tingkat penularan dimana orang dengan imun lemah gampang terinfeksi daripada imun yang kuat. Daya tahan tubuh masyarakat dipengaruhi oleh makanan, lingkungan yang sehat, genetika, pola hidup sehat.
Ketiga, Jika sudah terangkat harus dilakukan pengobatan segera agar tidak menularkan dan penyembuhan bagi penderita.
Melihat penanganan kasus yang ada, kita masih berfokus pada informasi apa itu TB dan pengobatannya. Sedangkan pencegahan dari sisi meningkatkan daya tahan tubuh masyarakat tidak dilakukan dan dibenahi oleh pemerintah. Edukasi masyarakat dengan maksimal dan membantu masyarakat dalam peningkatan daya tahan tubuh sangatlah penting agar bisa melawan penyakit ini juga.
Jika berfokus pada pengobatan maka hasil kurang maksimal, bakal ada korban baru jika daya tahan tubuh lemah di masyarakat bahkan akan memunculkan penyakit lain juga.
Kemiskinan yang merajalela membuat masyarakat minim informasi, bahkan tempat tinggal yang kurang layak harus dihadapi, belum lagi konsumsi makanan dan pola hidup yang tidak sehat menjadi teman sehari-hari. Mengakibatkan masyarakat fokus bagaimana bisa memenuhi kehidupan dengan memenuhi makanan, dan tempat tinggal. Urusan kesehatan dinomorduakan karena kondisi yang tidak mendukung.
Inilah fenomena di dalam sistem kapitalisme. Dimana yang sejahtera adalah beberapa kalangan saja. Sedangkan mayoritas masyarakat hidup susah. Karena di dalam kapitalis yang diutamakan adalah bagaimana mendapatkan dan bisa menguasai materi sebanyak-banyaknya. Sehingga orang kaya akan berkuasa menguasai hajat hidup orang banyak. Sedangkan orang miskin yang semakin hari jumlahnya meningkat harus memikirkan besok makan apa, besok bayar uang kontrakan, bayar pajak, bayar pendidikan, dan lain sebagainya.
Jika itu yang terjadi, maka upaya pencegahan, pengobatan tidak bisa maksimal dilakukan. Karena akan terus berulang karena faktor hidup yang sulit, kumuh dan mahal dalam menjaga kesehatan.
Berbeda dengan sistem Islam, dimana dalam sistem Islam penguasa wajib memastikan setiap warganya dapat memenuhi kebutuhannya. Baik sandang, pangan dan papan yang layak. Maka pengaturan dalam negara akan memastikan distribusi kekayaan yang merata. Baik distribusi pekerjaan, bahan makanan, dan dipastikan masyarakat dapat membeli makanan sehat. Negara juga menyediakan produksi makanan sehat, lapangan pekerjaan dengan gaji yang layak, edukasi yang merata di masyarakat. Bahkan mengetuk pintu ke pintu untuk mengecek kesehatan masyarakat.
Semua ini pernah dilakukan di masa kekhilafahan terdahulu. Dimana banyak dokter dikirim ke Masya secara gratis. Mereka berkeliling untuk mencari dan memberikan edukasi kesehatan bahkan mengobatinya. Maka, di dalam sistem Islam penanganan TB akan maksimal dengan sempurna karena berbagai elemen akar permasalahan diselesaikan. Sudah saatnya kita kembali kepada sistem Islam yang memberikan kita pengaturan sempurna mengenai penjagaan hajat hidup manusia tanpa terkecuali.
Views: 0


Comment here