Opini

Tabayun di Era Post-Truth: Kembali ke Al-Qur’an

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Juju Juwaenah

Wacana-edukasi.com, OPINI--Pernyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang dimuat Tribunnews.com (31/5/2026) tentang tantangan tokoh agama di era post-truth menarik untuk dicermati. Menurut beliau, saat ini masyarakat tidak lagi otomatis mengikuti pendapat tokoh agama sebagaimana dulu. Opini publik, media sosial, dan berbagai pengaruh lain sering kali lebih dominan dalam membentuk cara pandang masyarakat.

Fenomena ini memang nyata. Di tengah kemajuan teknologi informasi, seseorang dapat memperoleh berbagai informasi hanya dalam hitungan detik. Sayangnya, kemudahan tersebut tidak selalu diiringi dengan kemampuan menyaring informasi secara benar. Akibatnya, sesuatu yang viral sering dianggap benar, meskipun belum tentu didukung oleh fakta yang kuat.

Kondisi inilah yang dikenal sebagai era post-truth, yaitu situasi ketika emosi, persepsi, dan keyakinan pribadi lebih berpengaruh dalam membentuk opini publik dibandingkan fakta objektif. Dalam keadaan seperti ini, masyarakat mudah terpengaruh oleh narasi yang menarik perhatian, meskipun tidak selalu sesuai dengan kebenaran.

Bagi umat Islam, fenomena tersebut sesungguhnya bukan sesuatu yang benar-benar baru. Jauh sebelum istilah post-truth dikenal, Al-Qur’an telah mengingatkan manusia agar tidak mengikuti prasangka tanpa dasar. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-An’am ayat 116 bahwa kebanyakan manusia sering mengikuti dugaan semata yang dapat menyesatkan dari jalan Allah. Selain itu, Allah juga memerintahkan kaum mukmin untuk melakukan tabayun atau verifikasi terhadap setiap berita yang diterima sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Hujurat ayat 6.

Pesan ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi kebenaran dan kehati-hatian dalam menerima informasi. Oleh karena itu, salah satu pendidikan penting yang perlu terus ditanamkan kepada umat adalah budaya tabayun, berpikir kritis, dan menjadikan wahyu sebagai rujukan utama dalam menilai berbagai persoalan kehidupan.

Namun demikian, persoalan yang dihadapi umat saat ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memilah informasi. Yang lebih mendasar adalah adanya krisis rujukan. Banyak orang mengaku beriman kepada Al-Qur’an, tetapi dalam praktik kehidupan sehari-hari justru lebih sering menjadikan tren, opini publik, atau tokoh populer sebagai acuan utama dalam menentukan sikap.

Padahal Al-Qur’an diturunkan bukan hanya untuk dibaca dan dihafal, melainkan juga untuk menjadi petunjuk hidup manusia. Allah SWT menegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 2 bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Karena itu, menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup bukan sekadar pilihan, melainkan bagian dari konsekuensi keimanan seorang Muslim.

Di era digital saat ini, tantangan yang dihadapi umat semakin kompleks. Informasi datang dari berbagai arah tanpa henti. Media sosial menghadirkan jutaan konten setiap hari. Tidak sedikit konten yang mengandung hoaks, fitnah, atau pemikiran yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Jika tidak memiliki standar yang jelas, seseorang dapat dengan mudah terseret oleh arus opini yang berubah-ubah.

Dalam kondisi seperti ini, Al-Qur’an berfungsi sebagai kompas yang menunjukkan arah. Ketika manusia bingung menentukan mana yang benar dan mana yang salah, Al-Qur’an memberikan prinsip-prinsip yang tetap dan tidak berubah. Kebenaran tidak diukur dari banyaknya pengikut, jumlah tayangan, atau tingkat popularitas suatu pendapat, melainkan berdasarkan kesesuaiannya dengan petunjuk Allah SWT dan Sunnah Rasulullah saw.

Tentu saja kemampuan komunikasi para dai dan tokoh agama tetap penting. Dakwah yang baik membutuhkan cara penyampaian yang bijak dan mudah dipahami masyarakat. Akan tetapi, peningkatan kemampuan komunikasi semata tidak cukup apabila umat tidak dibiasakan untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber nilai dan pedoman berpikir.

Karena itu, pendidikan Islam harus terus menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak dini. Anak-anak perlu dibimbing bukan hanya agar mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Keluarga, sekolah, dan masyarakat memiliki peran besar dalam membangun generasi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan dalam mengambil keputusan.

Selain itu, umat Islam juga perlu membiasakan diri untuk melakukan tabayun terhadap berbagai informasi yang beredar. Jangan mudah membagikan berita sebelum memastikan kebenarannya. Jangan pula menerima suatu pendapat hanya karena disampaikan oleh figur yang populer. Sikap kritis yang dibimbing oleh nilai-nilai Islam merupakan benteng penting agar umat tidak mudah terombang-ambing oleh arus informasi.

Pada akhirnya, tantangan era post-truth seharusnya menjadi momentum bagi umat Islam untuk semakin mendekatkan diri kepada Al-Qur’an. Semakin deras arus informasi, semakin besar pula kebutuhan manusia terhadap pedoman yang pasti. Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci yang dibaca pada momen tertentu, tetapi petunjuk hidup yang mampu membimbing manusia dalam menghadapi berbagai perubahan zaman.

Oleh karena itu, di tengah derasnya opini, viralitas, dan persaingan narasi di ruang digital, umat Islam perlu kembali meneguhkan keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah sumber petunjuk terbaik. Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman berpikir dan bertindak, umat akan memiliki pijakan yang kokoh dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan, baik di dunia nyata maupun di dunia digital.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 29

Comment here