Oleh: Mekar Sari (Ibu Generasi )
Wacana-edukasi.com, OPINI--Tragedi Palestina yang bermula dari peristiwa Nakba pada 1948 bukan sekadar catatan sejarah, melainkan realitas panjang yang terus berlangsung hingga hari ini. Perampasan tanah, konflik berkepanjangan, terusirnya rakyat Palestina, dan penderitaan rakyat sipil masih menjadi wajah sehari-hari di Palestina. Umat Islam berharap, dari Nakba belajar bahwa tanpa kepemimpinan Islam dunia nasib rakyat Palestina terkatung-katung tanpa ada yang melindunginya.
Liga Arab mendesak perlindungan internasional bagi rakyat Palestina dan berharap komunitas global untuk memaksa Israel agar mengakhiri pendudukan ilegal mereka atas tanah Palestina, termasuk Yerusalem Timur. Organisasi regional itu juga mendesak Zionis agar menjalankan pendapat penasihat Mahkamah Internasional (ICJ) tentang ilegalitas pendudukan tersebut dan memberikan kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan. Dalam sebuah pernyataan yang menandai peringatan 78 tahun Nakba Palestina, Sektor Liga Arab untuk Palestina dan Wilayah Arab yang diduduki menegaskan perlunya mengakhiri ketidakadilan historis terhadap rakyat Palestina dan melanjutkan upaya internasional untuk mengakhiri pendudukan Israel atas wilayah yang diduduki sejak 1967.
Para menteri luar negeri (Menlu) negara-negara anggota BRICS mengeluarkan pernyataan bersama usai pertemuan setingkat menlu di New Delhi, India, yaitu mendesak para pihak untuk memiliki itikad baik dalam negosiasi lebih lanjut guna mencapai gencatan senjata segera, permanen, dan tanpa syarat, serta penarikan penuh pasukan Israel dari Jalur Gaza dan semua bagian lain dari wilayah Palestina yang diduduki.
Sejak dimulainya konflik Hamas dan Israel pada 7 Oktober 2023, lebih dari 70.000 warga Palestina meninggal dunia dan lebih dari 170.000 terluka. Otoritas Israel melaporkan setidaknya 1.200 warga Yahudi tewas dalam perang tersebut. Perkiraan regional dan internasional membuktikan bahwa pembangunan kembali wilayah kantong yang hampir hancur total akan memakan waktu sekitar 10 tahun dan membutuhkan dana sekitar 70 miliar dolar AS (sekitar Rp1,2 kuadriliun) (Antaranews.com, 15-5-2026).
Palestina Masih Dijajah
Apa yang terjadi saat ini di Palestina, hampir sama dengan tragedi besar Nakba yang pernah terjadi di masa lalu. Tragedi Nakba yang terjadi pada tanggal 15 Mei, mengingatkan umat bahwa ketika umat Islam tidak bersatu bisa saja tragedi Nakba terjadi berulang kali tanpa ada keadilan dan kemerdekaan sejati bagi rakyat Palestina. Maka, tragedi Nakba bukan sekadar sejarah masa lalu, melainkan siklus kekerasan dan perampasan hak yang masih terus membayangi Palestina hingga hari ini.
Konflik Palestina menunjukkan bahwa krisis yang terjadi bukan hanya bersifat politis, tetapi juga tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung akibat penjajahan, blokade, dan diamnya dunia internasional terhadap penderitaan rakyat Palestina. Hal ini membuktikan bahwa sistem internasional yang ada saat ini belum mampu menjadi mekanisme yang efektif untuk menghentikan konflik dan melindungi hak-hak rakyat yang tertindas serta menjamin keadilan bagi rakyat Palestina. Umat Islam sebagai bagian besar dari komunitas global masih belum memiliki kekuatan kolektif yang terorganisir secara optimal dalam merespons isu ini.
Berlanjutnya penjajahan Palestina adalah potret kegagalan sistem yang sedang tegak dalam menciptakan kerahmatan di dunia, sekaligus menunjukkan kebusukan konsep negara bangsa (nation state) yang membuat umat Islam kehilangan powernya. Dominasi kepentingan politik global serta rapuhnya persatuan negeri-negeri muslim menunjukkan bahwa keadilan tidak akan pernah terwujud bagi umat Islam, pun keamanan hanya milik manusia serakah yang dilindungi sistem rudal kapitalisme global yang menjajah negeri-negeri kaum Muslim termasuk Palestina. Negara bangsa (nation state) terbukti memecah kekuatan umat Islam menjadi lemah, teecera-berai, dan kehilangan daya untuk melindungi tanah suci serta kaum Muslim yang tertindas.
Urgen, Butuh Khilafah
Pembebasan Palestina bukan sekadar agenda kemanusiaan, tetapi bagian dari kewajiban politik umat Islam untuk mengakhiri penjajahan atas tanah kaum Muslim. Oleh karena itu, perjuangan pembebasan Palestina harus terintegrasi dengan perjuangan menegakkan kepemimpinan Islam kaffah dalam institusi Khilafah. Hanya Khilafah yang memiliki visi jihad fi sabilillah, persatuan umat, dan kekuatan politik-militer yang mampu mengusir penjajah serta menghadapi kekuatan global pendukungnya.
Maka umat harus memahami bahwa agenda utama perjuangan umat hari ini yaitu membangun kesadaran politik Islam di tengah kaum Muslim tentang urgensi hidup di bawah naungan syariat dan kepemimpinan Islam sebagai konsekuensi keimanan. Sebab, tercerai-berainya negeri-negeri Muslim dalam sistem negara bangsa telah melemahkan kekuatan umat dan membuka jalan bagi penjajahan kafir penjajah yang terus berlangsung hingga saat ini.
Khilafah akan menyatukan potensi umat Islam dalam satu kepemimpinan, satu visi perjuangan, dan satu kekuatan strategis sehingga kaum Muslim memiliki kembali izzah dan kewibawaan di hadapan dunia. Dengan penerapan syariat secara kaffah, Khilafah bukan hanya menjadi pelindung kaum Muslim, tetapi juga rahmat bagi seluruh manusia di dunia melalui tegaknya keadilan, keamanan, dan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Allah Swt. berfirman dalam surah An-Nuur ayat 55, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi…”
Bagi seorang muslim, seharusnya ayat ini menjadi motivasi bahwa kemenangan dan kemuliaan umat hanya akan diraih dengan keimanan, persatuan, dan penerapan aturan Allah secara menyeluruh dalam kehidupan. Tugas manusia sebagai hamba-Nya menjemput dengan sungguh-sungguh janji yang sudah Allah sampaikan di dalam ayat tersebut. Bersegera, tidak berleha-leha karena Khilafah adalah sebuah keniscayaan dan kebutuhan umat Islam termasuk rakyat Palestina. Karena hanya dengan jihad dan Khilafah, Palestina bisa merdeka dan tanah suci tersebut bisa kembali ke pangkuan umat Islam, ke pangkuan Khilafah. Allahua’lam bishawab
Views: 2


Comment here