Opini

Wibawa Guru Direndahkan, Buah Pendidikan Sekuler

Bagikan di media sosialmu

Ditulis Oleh: Watini Aathifah  

wacana-edukasi.com, OPINI–Belakangan viral video pelecehan sejumlah siswa di SMAN 1 Purwakarta terhadap seorang guru. Dunia pendidikan di Jawa Barat kembali dihadapkan pada tantangan berat setelah sebuah video viral menunjukkan tindakan tidak pantas yang dilakukan sejumlah pelajar terhadap seorang guru. Peristiwa tersebut terjadi di salah satu sekolah unggulan. Hal ini memicu kecaman luas dan membuka diskusi mengenai akar masalah perilaku remaja di era digital. Segera setelah pelajaran usai, sejumlah siswa mulai melakukan gerakan tidak sopan.

Dalam rekaman yang beredar, mereka terlihat berulang kali mengacungkan jari tengah ke arah guru yang sedang berjalan keluar kelas. Tercatat ada sembilan siswa yang terlibat dalam aksi tersebut yang kemudian direkam dan diunggah hingga viral di media sosial.Pihak sekolah telah memberikan sanksi skorsing selama 19 hari. Namun, Dedi M menilai sanksi yang diberikan bukanlah solusi yang tepat untuk membentuk karakter siswa. Ia mengusulkan bentuk hukuman yang lebih edukatif dan berdampak langsung pada perubahan perilaku, (detik jabar, Senin, 20/04/2026)

Perilaku pelecehan yang dilakukan oleh sejumlah pelajar di Purwakarta ini adalah bukti bahwa krisis moral akibat dari penerapan sistem pendidikan sekulerisme – liberalisme yang mengabaikan adab terhadap seorang guru. Kurikulum pendidikan ini memisahkan agama dari kehidupan serta menjunjung tinggi kebebasan setiap individu, hak asasi manusia, dan demokrasi. Hal ini mendorong pelajar saat ini berlaku semena-mena terhadap guru. Mereka bebas berekspresi meskipun jauh dari moral dan sopan santun.

Era digital yang berkembang dengan pesat juga memberikan pengaruh terhadap pembentukan karakter siswa. Tindakan tersebut dilakukan demi konten atau pengakuan dari media sosial. Pelajar lebih mementingkan viral agar diakui berani dan keren di mata teman-teman sebayanya dari pada menjaga kehormatan dan menjaga martabat gurunya.

Kejadian ini adalah bukti bahwa saat ini guru sangatlah lemah wibawanya di hadapan murid. Apakah sanksi yang diberikan kepada siswa saat ini kurang tegas? Guru seolah tidak memiliki ruang untuk berlindung. Guru tidak berdaya menghadapi siswa yang berbuat salah karena takut dituntut jika menegur dan menasehatinya. Seperti yang kita ketahui bahwa banyak sekali kasus atau kejadian guru yang dituntut oleh wali murid hanya karena guru mencoba menasehatinya. Sehingga banyak guru yang diam dan menerima daripada memperpanjang urusan dengan hukum. Akhirnya mereka pun bungkam dan tak berdaya.

Seringkali pemerintah saat ini menggaungkan terkait “Profil Pelajar Pancasila’’, tapi dengan adanya kasus ini menjadi bukti nyata bahwa program-program yang dilakukan oleh pemerintah sebatas wacana tanpa hasil. Pemerintah telah gagal mencetak generasi yang berkepribadian baik.

 

Kasus ini tidak akan terjadi apabila sistem pendidikan Islam diterapkan secara sempurna. Penguasa Islam memiliki sistem pendidikan yang jelas yang dimana sistem ini dibangun atas dasar akidah Islam untuk mencetak generasi yang memiliki kepribadian Islam. Penguasa Islam akan melakukan pembinaan secara berkala. Mulai dari pendidikan di dalam rumah oleh orang tuanya dan di sekolah oleh gurunya,pengawasan terhadap lingkungan pergaulan diluar rumah, dan penerapan sistem pergaulan oleh negara. Upaya ini akan membantu terbentuknya kepribadian pola pikir dan pola sikap anak sesuai dengan kepribadian Islam lebih cepat dan tersistem.

Selain itu negara juga akan melakukan penyaringan terhadap konten digital yang berpotensi merusak moral. Seperti tayangan yang mempertontonkan adegan pembangkangan, pelecehan ataupun kekerasan. Era digital saat ini tidak hanya melahirkan kecanduan tetapi juga memberikan efek kepada anak merasa tertantang untuk melakukan hal yang ditontonnya. Akibatnya, kontrol terhadap diri akan melemah dan generasi tidak bisa membedakan baik buruknya suatu perbuatan. Maka dari itu tayangan dan tontonan harus diatur oleh pemerintah agar generasi terhindar dari tayangan yang tidak bermoral dan generasi memiliki arah yang jelas sesuai dengan syariat Islam.

Penguasa Islam akan memberikan sanksi terhadap pelaku pelecehan terhadap guru, sebagai penebus atas kesalahan atau dosa yang dilakukan dan juga pencegahan bagi orang lain agar tidak melakukan hal yang serupa. Sanksi yang diberikan penguasa terhadap pelaku harus memberikan efek jera namun tetap adil sesuai syariat Islam.

Islam sangat menjunjung tinggi martabat seorang guru. Guru diposisikan sebagai sosok yang mulia dan harus dihormati. Salah satu bentuk penguasa memuliakan guru adalah dengan cara memberikan jaminan keamanan dimana tempat dia mengajar dan dimanapun ia berada, memberikan gaji yang tinggi dan penghidupan yang sangat layak sehingga wibawa seorang guru akan terjaga di mata murid dan masyarakat. Gaji guru pada zaman Khalifah Umar bin khattab sebesar 15 dinar per bulan ini bisa kita baca di buku “Fikih Ekonomi Umar bin Khatab” kurang lebih saat ini jika dirupiahkan setara dengan 33 juta per bulan. Dengan demikian pada masa itu martabat guru sangatlah terjaga dan kehidupan guru sejahtera dibawah naungan penguasa Islam (khalifah) wallahualam bishowab.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 6

Comment here