Oleh: Della Damayanti
Wacana-edukasi.com, OPINI--Keadaan ekonomi keluarga di tanah air kembali diguncang oleh ketidakpastian pasokan energi yang sangat mencekik. Pemerintah berulang kali mengeluarkan pernyataan bahwa harga BBM bersubsidi tidak naik demi menjaga daya beli rakyat. Namun, kenyataannya jauh berbeda, bahkan memprihatinkan.
Di berbagai daerah, masyarakat berhadapan dengan antrean kendaraan yang mengular demi beberapa liter bahan bakar. Di Bandung misalnya, warga dirundung kecemasan hebat akibat isu kenaikan harga BBM. Hal ini memicu antrean panjang di hampir seluruh SPBU (kompas.id, 28/03/2026).
Sementara itu, diberitakan oleh kompas.id (01/04/2026), di Makassar pun kondisinya jauh lebih dramatis. Para sopir dan warga rela begadang demi mengamankan jatah solar agar bisa tetap bekerja keesokan harinya. Kesulitan ini kian terasa bagi rakyat kecil di Sulawesi Selatan, saat dilaporkan harga Pertalite di tingkat eceran melonjak hingga Rp20.000,00 per liter (kompas.id, 30/03/2026).
Kekacauan distribusi ini merupakan dampak berantai dari tertahannya kapal tanker Pertamina di Selat Hormuz. Ketegangan geopolitik ini seketika memicu lonjakan harga BBM nonsubsidi di pasar domestik (kabar24.bisnis.com, 30/03/2026).
Rapuhnya Ketahanan Energi Nasional
Fenomena kelangkaan dan ancaman kenaikan harga BBM ini merupakan alarm keras yang menunjukkan betapa rapuhnya ketahanan energi bangsa kita saat ini.
Pertama, otoritas pembuat kebijakan saat ini tampak berada dalam dilema yang tidak berujung. Jika harga BBM terpaksa dinaikkan mengikuti harga pasar global, maka inflasi barang-barang kebutuhan pokok akan melonjak dan berisiko memicu gejolak sosial yang tidak terkendali.
Namun, jika harga tetap dipaksakan tertahan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak akan sanggup menanggung beban subsidi yang terus membengkak. Padahal, anggaran itu diproyeksikan hanya mampu bertahan dalam hitungan minggu saja.
Kedua, fakta yang tidak bisa disembunyikan adalah Indonesia saat ini telah menjadi negara net importir minyak. Hal ini membuat kita sangat bergantung pada pasokan dari luar negeri. Dampaknya, setiap kali ada gesekan politik atau konflik senjata di Timur Tengah, maka akan langsung berimbas di depan pintu rumah kita. Di antaranya yaitu berupa harga kebutuhan yang melambung.
Ketiga, kebijakan bekerja dari rumah (WFH), hingga rencana pembatasan pembelian BBM untuk kendaraan roda empat, hanyalah solusi jangka pendek. Hal itu justru menambah beban aktivitas harian masyarakat, dan tidak menyentuh akar persoalan yang sebenarnya.
Keempat, seluruh kondisi ini memberikan gambaran nyata tentang sebuah negeri yang ketergantungan ekonominya sangat tinggi. Kita seolah menjadi tawanan dari situasi global karena menggantungkan nasib energi pada komoditas impor yang strategis.
Akibatnya, stabilitas ekonomi di dalam negeri menjadi sangat mudah goyah hanya karena sentimen atau konflik yang terjadi di belahan dunia lain. Kondisi ini tentu sangat menyulitkan bagi ibu-ibu yang harus mengatur keuangan dapur di tengah ketidakpastian harga yang terus berubah setiap waktu.
Islam Mewujudkan Kemandirian Energi yang Berdaulat
Dalam pandangan Islam, urusan energi dan sumber daya alam bukanlah sekadar komoditas dagang untuk mencari keuntungan. Akan tetapi, hal itu adalah sebuah amanah pelayanan publik yang wajib dikelola secara mandiri, berdaulat, dan penuh tanggung jawab.
Pertama, kemandirian energi yang sejati dan kokoh hanya akan terwujud melalui kesatuan politik negeri-negeri Muslim yang terintegrasi dalam naungan sistem Khilafah. Dengan bersatunya wilayah-wilayah yang memiliki cadangan minyak melimpah seperti Indonesia, Iran, dan negeri-negeri Arab lainnya, maka distribusi energi tidak lagi tersekat oleh kepentingan batas negara yang sempit atau dikendalikan oleh kepentingan korporasi global.
Sebaliknya, seluruh kekayaan tersebut akan mengalir untuk menjamin kesejahteraan seluruh umat tanpa terkecuali. Allah Swt. telah memerintahkan umat Islam untuk bersatu dalam kebaikan, sebagaimana firman-Nya,
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS Al-Ma’idah: 2)
Kedua, dengan tercapainya kemandirian energi tersebut, bangsa-bangsa Muslim akan muncul sebagai kekuatan adidaya yang memiliki posisi tawar tinggi di dunia internasional. Ekonomi kita tidak akan lagi mudah diguncang oleh provokasi politik atau konflik luar negeri karena kita memiliki kendali penuh atas sumber daya kita sendiri.
Ketiga, meskipun memiliki sumber daya yang sangat melimpah, sistem Islam tetap mengajarkan pola pengelolaan yang bijaksana berdasarkan kaidah syariat.
Penghematan dilakukan pada sektor-sektor yang tidak mendesak, sementara pelayanan publik, fasilitas transportasi rakyat, dan kebutuhan strategis tetap menjadi prioritas utama.
Keempat, negara Islam tidak akan berhenti pada eksploitasi minyak bumi saja, tetapi akan secara serius mengembangkan inovasi teknologi energi alternatif seperti nuklir dan energi terbarukan lainnya. Hal ini dilakukan untuk menjamin bahwa kebutuhan energi umat akan selalu terpenuhi secara berkelanjutan. Rasulullah saw. telah menetapkan standar kepemimpinan yang agung sebagaimana dalam sabdanya,
فَالإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Artinya: “Seorang pemimpin yang memimpin manusia adalah pengurus (rakyatnya) dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR Bukhari & Muslim)
Khatimah
Derita antrean panjang di SPBU yang melelahkan serta sulitnya para ibu dalam mengatur sisa uang belanja adalah bukti konkret kegagalan sistem ekonomi saat ini dalam mewujudkan kemandirian. Kesejahteraan sejati hanya bisa dirasakan ketika pengelolaan sumber daya alam dikembalikan pada fungsinya yang mulia, yakni untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat.
Dengan demikian, sudah saatnya kita menoleh pada solusi Islam yang menjanjikan kemandirian dan perlindungan kedaulatan, serta membawa keberkahan di setiap rumah tangga kita. Hanya dengan menerapkan aturan Sang Pencipta, kita bisa memutus rantai ketergantungan yang menyengsarakan ini.
Wallahualam bissawab.
Views: 9


Comment here