Oleh Salma Anis Maulia (Aktivis Dakwah Remaja)
wacana-edukasi.com, OPINI–Indonesia kembali digemparkan dengan maraknya kasus bunuh diri pada anak usia sekolah. Baru-baru ini, seorang anak sekolah dasar yang masih duduk di kelas IV SD di Nusa Tenggara Timur (NTT) memilih untuk mengakhiri hidupnya karena himpitan kemiskinan dan ketidak mampuannya untuk memenuhi kebutuhan dasar sebagai pelajar, yaitu membeli buku dan alat tulis (kompas.id, 05/02/2026).
Meningkatnya kasus bunuh diri pada anak Indonesia telah menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara. Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin mengumumkan data yang sangat memprihatinkan yaitu, sepanjang tahun 2026 sudah tercatat ada empat anak di beberapa daerah dengan latar belakang keluarga berbeda yang meninggal karena bunuh diri. Bayangkan, empat orang anak yang seharusnya sedang menikmati masa muda yang ceria berganti duka dan penuh bayang-bayang beban tanpa arahan, dukungan ataupun perhatian dari orang dewasa di sekitarnya (health.detik.com, 09/03/2026).
Penyebab Krisis Kesehatan Jiwa Anak
Setelah ditelusuri, peningkatan tren bunuh diri pada anak disebabkan adanya krisis kesehatan jiwa anak. Dari skrining yang dilakukan kemenkes terhadap 7 juta anak Indonesia, sekitar 338 ribu anak memiliki gejala kecemasan (anxiety disorder) dan 363 ribu anak mengalami gejala depresi (kemenkes.go.id, 09/03/2026).
Krisis ini tidak hanya terjadi pada anak dengan latar belakang keluarga kurang mampu, anak yang berasal dari keluarga menengah ke atas juga bisa terjebak dalam pusaran hitam ini. Krisis kesehatan jiwa anak dipengaruhi oleh beragam faktor, diantaranya ketidakmampuan anak meregulasi emosi yang dimilikinya, tekanan sosial dan akademik yang mereka tanggung, paparan tren di media sosial yang mengubah fokus hidup anak, dan kurangnya komunikasi antara anak dengan orang tua dan guru.
Ketiadaan harapan ataupun tempat aman untuk anak mengadu inilah yang menyebabkan krisis kesehatan jiwa anak tidak terdeksi dan tertangani dengan baik. Orang tua yang membebankan ekspektasi akademik anak yang tinggi, menyebabkan anak enggan untuk bercerita tentang apa yang mereka rasakan. Hal ini juga yang membuat anak hanya berfokus pada kebahagiaan yang didapat dari hasil akhir tanpa menikmati proses dan ilmu yang ia dapatkan.
Kebijakan Pemerintah Atasi Krisis Kesehatan Jiwa Anak
Merespon adanya krisis kesehatan jiwa pada anak, pemerintah menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB) Kesehatan Jiwa Anak bersama 9 kementerian terkait. Tujuan penandatanganan SKB 9 menteri ini untuk memperkuat penanganan kesehatan jiwa secara terintegrasi.
Beberapa kebijakan yang akan dilakukan pemerintah diantaranya memberikan penyadaran orangtua terhadap pandangan anak dan penggunaan waktu luang anak yang berkualitas. Kementerian kesehatan (Menkes) akan rutin melakukan skrining kesehatan jiwa sebagai langkah preventif.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) juga mengeluarkan beberapa kebijakan sebagai bentuk tindak lanjut dari SKB yang telah ditandatangani. Beberapa kebijakan itu diantaranya program sekolah sehat, penguatan karakter, layanan di sekolah dan gerakan rukun sama teman.
Namun yang menjadi pertanyaan, apakah langkah yang diambil pemerintah sudah tepat dan mampu menyelesaikan permasalahan tersebut bersih hingga ke akar masalahnya?
Akar Masalah dan Solusi
Dari banyaknya faktor krisis ini, generasi muda membutuhkan solusi yang mampu mencegah dan menyelesaikan krisis ini dari akar masalahnya. Fakta bahwa anak dan remaja adalah kelompok usia yang belum mampu meregulasi emosinya sendiri membuat peran keluarga, lingkungan dan negara menjadi sangat penting. Anak-anak dan remaja perlu kembali diarahkan untuk memahami tujuan utama hidupnya yaitu menjadi sebaik-baik manusia yang berlomba-lomba mengumpulkan pahala dan mengerjakan amal.
Kebijakan yang dilakukan pemerintah hanya berfokus pada permukaan masalahnya saja. Sedangkan generasi muda Indonesia belum memiliki tujuan hidup yang kuat, hanya memenuhi ekspektasi sosial dan mengikuti tren yang ada. Hal ini terjadi karena sistem yang mengatur kehidupan kita adalah sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Sehingga kebijakan-kebijakan yang diambil hanyalah kebijakan teknis.
Akar masalah utama yang dihadapi anak-anak dan remaja Indonesia sebenarnya adalah krisis tujuan hidup. Mereka belum menyadari apa yang menjadi tujuan hidup mereka melalui tiga pertanyaan utama, yaitu dari mana ia berasal, untuk apa dia hidup di dunia ini, dan kemana ia akan kembali setelah mati. Jika generasi muda sudah menyadari dan mampu merumuskan jawaban dari ketiga pertanyaan tersebut maka mereka akan memiliki landasan yang kuat dalam menghadapi setiap permasalahan yang ada. Generasi muda juga akan terhindar dari krisis kesehatan jiwa jika tujuan yang ingin dicapai bukan hanya materi, tetapi juga ridha dari Allah.
Solusi ini tidak bisa jika hanya dilakukan oleh masing-masing individu saja, karena seperti yang kita lihat bahwa krisis kesehatan mental merebak ke seluruh negeri. Maka kita memerlukan peran negara untuk kembali menjalankan perannya sebagai penjaga umat.
Solusi Mendasar dan Menyeluruh
Dengan menerapkan sistem Islam secara menyeluruh maka negara akan menjaga akidah, akhlak, dan akal dengan menjadikan media sosial sebagai sarana dakwah dan melakukan pengawasan ketat dalam penggunaannya. Negara harus memberikan pendidikan yang berlandaskan akidah Islam, menjadikan keluarga sebagai teladan pertama bagi anak dalam mempelajari Islam dan mengamalkan nilai-nilai Islam secara menyeluruh.
Selama sistem sekuler masih digunakan dalam kehidupan, maka krisis kesehatan mental akan tetap ada dan meningkat. Mari kita kembali pada aturan yang akan menjaga, memberikan kebahagiaan serta ketenangan hidup di dunia dan akhirat melalui penerapan sistem Khilafah.
Wallahualam bissawab.
Views: 21


Comment here