Opini

Ulama Seharusnya Dimuliakan

blank
Bagikan di media sosialmu

Penulis: Nita Karlina (Relawan Media)

Wacana-edukasi.com — Kasus penggerudukan yang dilakukan Banser Ansor ke salah satu lembaga pendidikan di Rembang, Pasuruan, Jawa Timur mendapat sorotan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. Wakil Sekjen MUI, Nadjamuddin Ramli mengingatkan kepada Banser Ansor untuk menjaga adab terhadap Ulama.

“Adinda tidak boleh seperti itu. Membentak-bentak Kyai itu bahkan polisi pun tidak boleh melakukan. Jadi ada adab. Tidak boleh anak-anak muda melakukan seperti itu kepada orang tua apalagi kepada Kyai. Anda sok kuasa, tidak boleh ini, tidak boleh itu. Di negeri ini ada piranti hukum, ada kekuasaan Yudikatif, yang perlu kita hormati,” kata Wakil Sekjen MUI Nadjamuddin Ramli di acara Kabar Petang TVone, Sabtu (22/8/2020). (Portal-Islam.id, 23/08/2020)

Tidak hanya MUI yang mengecam tindakan banser tersebut, ulama NU garis lurus juga mengecam tindakan yang dilakukan banser. Dalam video yang diunggah akun youtube NU Garis Lurus yang dikutip gelora.co pada Selasa (22/8), ulama NU menyatakan tidak ridho dan mengecam tindakan Banser tersebut.

“Saya sebagai warga NU, keturunan asli orang NU, pendidikan dari SD-MTS sampai pondok pesantren adalah kultur pendidikan NU dan saya juga mengkaji kitab-kitab Ahlussunnah wal Jamaah. Saya sangat tidak ridho bahkan saya mengecam tindakan tidak sopan Banser yang dengan kasar menginterogasi dan memaksa seorang kyai membuat pernyataan. Padahal kyai tersebut belum diadili, belum disidang dan belum ditetapkan status hukumnya”, ungkapnya. Ia juga mengingatkan ormas Banser untuk menjaga perilaku tidak merusak citra para ulama.

Tindakan oknum banser yang membentak kiyai sangatlah tidak beradab, Dalam video viral yang beredar, nampak kata- kata yang di keluarkan oleh ketua banser tersebut bernada tinggi, dengan tangan yang menunjuk-nunjuk kiyai Zainullah. Sikap ini tentulah sangat tidak sopan dan tidak beradab.

Ulama adalah pewaris para nabi. Karena itu, sudah selayaknya ulama dihormati dan dimuliakan. Ulama tidak boleh dibentak-bentak, apalagi sampai menunjuk-nunjuk. Disinilah penting bagi setiap muslim untuk mempelajari adab, terlebih adab terhadap ulama.

Mana lebih utama, ilmu atau adab? Hampir semua ulama bersepakat menjawab: adab lebih utama. Berkata Syekh Abdul Qadir Al Jailani: ‘Aku lebih menghargai orang yang beradab, dari pada orang yang berilmu. Jika hanya berilmu, iblis pun lebih tinggi ilmunya dari pada manusia.

Nabi Shallallahu’alaihi Wassalam bersabda:

“Sesungguhnya perkara yang lebih berat ditimbangan amal bagi seorang mu’min adalah akhlak yang baik. Dan Allah tidak menyukai orang yang berbicara keji dan kotor”. (HR At Tirmidzi)

Seseorang dikatakan sebagai ulama disebabkan oleh rasa takutnya pada Allah karena ilmu dan kedalaman hikmahnya. Derajat mereka ditinggikan oleh Allah sebelum dimuliakan manusia. Allah Swt berfirman:
“Niscaya Allah meninggikan orang beriman di antaramu, dan orang orang yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat. Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Qs al mujadilah: 11).

Adapun kriteria ulama yang mendapatkan tempat untuk dihormati adalah ulama yang takut kepada Allah dan senantiasa berada dalam syariat-Nya. Mereka ikhas dalam melanjutkan risalah kenabian. Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba Nya hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahapengampun. (Qs Fathir: 28).

Wallahualam bishowwab.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 5

Comment here