Opini

Ulama Rujukan Umat Satu per Satu Wafat

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Ikhtiyatoh, S.Sos. (Kontributor Media, Pejuang Pena)

Wacana-edukasi.com — Awal tahun 2021, Indonesia dirundung duka dan bencana. Pesawat jatuh, longsor, banjir, gempa bumi, angin puting beliung, gunung meletus terjadi di banyak wilayah. BNPB mencatat sepanjang 1-18 Januari 2021 telah terjadi 154 bencana alam. Ada 140 korban meninggal dunia, 776 orang luka-luka (cbcnindonesia.com, 19/1/2021). Ada ribuan pengungsi korban terdampak bencana. Pada awal tahun ini pula belasan ulama mu’tamad banyak yang meninggal dunia.

Satu per Satu Ulama Wafat

Dikutip dari kompas.tv tanggal 19 Januari 2021 disebutkan dalam rentang waktu 1-18 Januari setidaknya ada 15 ulama yang wafat. Ulama yang wafat antara lain KH R Muhaimin Asnawi pengasuh Pesantren Al Asnawi meninggal di Magelang pada Jumat pagi (1/1). Habib Ja’far bin Muhammad Al Kaff meninggal di Samarinda pada Jumat sore (1/1). KH R Abdullah Nachrowi pengasuh Pesantren Ash-Shogiri Bogor meninggal pada Sabtu (2/1).
Ditambah lagi KH R Muhammad Najib Abdul Qodir Munawwir pengasuh Pesantren Al Munawir Krapyak meninggal pada Senin (4/1). Drs M Sai M.HI pengasuh Pesantren Nurul Yakin Malaka meninggal pada Selasa (5/1). KH Muhammad Fatih Naim asal Cipete meninggal pada Selasa (5/1). KH Muhammad Nuruddin A Rahman pengasuh Pesantren Al Hikam Bangkalan meninggal pada Sabtu (9/1). Habib Abubakar bin Salim Al Hamid Bondowoso meninggal pada Sabtu (9/1).
Selain itu, KH Zainuddin Badrus pengasuh Pesantren Al Hikmah Kediri meninggal pada Minggu (10/1). KH A Yasin Asmuni pengasuh Pesantren Hidyatut Thullab meninggal pada Senin (11/1). Drs H Ibnu Hazen pengurus LTMNU meninggal pada Selasa (12/1). Habib Thohir Bin Husain Pimpinan Majelis Raudhatul Mustofa Semarang meninggal pada Rabu (13/1). Syekh Ali Saleh Mohammed Ali Jaber meninggal pada Kamis (14/1).
Kemudian, Sayyidil Walid Al-Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf  pengasuh Majelis Ta’lim Al-Afaf Tebet Jakarta meninggal pada Jumat (15/1). Habib Muhammad bin Achmad al-Attas, ulama asal Simpang Ulim, Aceh Timur,  meninggal pada Senin (18/1).

Sungguh duka mendalam bagi umat Islam. Mengingat yang meninggal adalah ulama yang selama ini menjadi rujukan umat Islam.

Tanpa Ulama Dunia Gelap Gulita

Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Kelahiran ataupun kematian merupakan sesuatu yang biasa terjadi dalam kehidupan manusia. Pun demikian, terasa berbeda jika yang meninggal dunia adalah seorang ulama. Ulama bukanlah orang biasa tapi pewaris Nabi dimana memiliki banyak ilmu yang bisa diteruskan kepada umat Islam.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari hambaNya, tetapi mencabut ilmu dengan mencabut para ulama. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan satu ulama, maka manusia mengangkat pemimpin-pemimpin bodoh, mereka ditanya kemudian memberi fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.” (HR Al Bukhari)

Meninggalnya sebagian ulama berarti tercabut pula sebagian ilmu di dunia. Jika ulama-ulama wafat, maka kemana umat akan bertanya? Di saat pemahaman umat akan agama sangat minim. Apalagi kita hidup dimana kemaksiatan menjadi kebanggaan. Orang bangga umbar aurat, mabuk, pesta, judi hingga zina. Pun karut-marut di negeri merambah segala sendi kehidupan. Adanya kesenjangan sosial, kemiskinan, kebodohan, kejahatan pedofilia, aborsi, ketidakadilan hukum, korupsi, pengerukan SDA, penistaan agama, hingga kriminalisasi ulama.

Bagaimanapun juga umat membutuhkan pemimpin yang bisa mengarahkan pada jalan yang benar. Ketiadaan ulama berpotensi bagi umat untuk mengangkat orang-orang bodoh (minim ilmu agama) menjadi pemimpin. Jika demikian tentu akan menjadi bencana karena akan mendatangkan kesesatan bukan kebenaran.

Rasulullah saw bersabda, “Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama.” (HR al-Thabrani dalam Mujam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Abu Darda’)

Sementara Menurut Imam Baihaqi dari hadis Ma’ruf bin Kharbudz dari Abu Ja’far radhiallahu ‘anhu berkata: “Kematian ulama lebih dicintai Iblis daripada kematian 70 orang ahli Ibadah.” Iblis senang karena ketiadaan ulama akan menjadikan dunia ini gelap gulita. Penuh kemaksiatan dan kezaliman hingga menghantarkan manusia pada kehancuran.

Mencetak Generasi Ulama

Begitu pentingnya kedudukan ulama dalam menerangi umat manusia. Para ulama adalah orang-orang yang senantiasa sabar, tegas, berani dan lantang melakukan amar makruf nahi mungkar. Keberadaan ulama akan mempertahankan perkara hak dimuka bumi. Mengingat peran ulama juga sebagai pengontrol penguasa, sehingga urusan ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, kesehatan, hukum, politik dan segala sendi kehidupan tetap terjaga dalam relnya.

Wafatnya banyak ulama mengingatkan kita akan pentingnya melakukan regenerasi. Melahirkan ulama-ulama baru hingga Islam kembali memancarkan cahayanya. Dimulai dari mengembalikan peran orang tua sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak di rumah. Orang tua wajib memberi pemahaman dan teladan kepada anak dengan ajaran Islam, mengawasi pergaulan anak. dan mengawasi gadget yang sering dipakai mereka. Hidup di era revolusi industri 4.0 dimana gadget sudah menjadi kebutuhan, sangat penting untuk terus dipantau.

Mengingat gadget memiliki pengaruh sangat besar terhadap pola pikir yang nantinya akan membentuk pola sikap anak. Tentu akan berbahaya jika anak mendapatkan konten negatif yang bisa dengan mudah didapat dari gadget.

Meski demikian, gadget sesungguhnya hanyalah sarana. Jika pandai memanfaatkan, bisa digunakan untuk hafalan atau menambah tsaqofah Islam. Kelebihan gadged dengan fasilitas audio-video lebih memudahkan terserapnya materi. Bagus juga untuk mengajari anak menjadi hafiz/hafidzah atau penceramah. Lebih dari itu, pendidikan sekolah formal tetap penting dalam mencetak generasi unggul.

Mengharapkan pendidikan Islam yang komprehensif dari sistem pendidikan kita saat ini memang cukup sulit. Sistem pendidikan kita cenderung sekuler. Namun, kita bisa berharap pada sekolah Islam Terpadu (IT) yang menggabungkan kurikulum dari kementerian pendidikan dengan kurikulum pendidikan Islam. Keberadaan sekolah IT saat ini menjadi solusi bagi orangtua muslim yang menginginkan anaknya berakhlakul karimah dan bersyakhsiah islamiah.

Demikian juga sekolah IT tidaklah murah. Sehingga hanya keluarga ekonomi kelas menengah dan atas yang mampu mendaftarkan anak-anaknya di sana. Tidak hanya itu, memasukkan anak di pesantren saat ini harus mengeluarkan biaya cukup besar. Namun, jika orang tua sudah mengazamkan diri menjadikan anak sebagai calon ulama, maka Allah akan mempermudah jalannya. Setiap anak memiliki rezekinya masing-masing.

Dengan penduduk mayoritas beragama Islam, seharusnya pemerintah bisa memberikan fasilitas lebih untuk mencetak generasi muda menjadi calon ulama. Yaitu melalui kurikulum resmi dalam Sistem Pendidikan Nasional. Masih terus berharap suatu saat syariat Islam termasuk kurikulum Islam akan diterapkan dalam sistem pendidikan kita. Sehingga, banyak ulama yang dilahirkan dan kemuliaan Islam tidak hanya menyebar di seluruh nusantara tapi juga di penjuru dunia.

Wallahua’lam bishshawab.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

blank

Hits: 3

Comment here