Opini

Bencana Alam Bertubi-tubi Ambillah Islam Sebagai Solusi

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Opa Anggraena

Wacana-edukasi.com — Innalilahi, Indonesia dirundung duka yang mendalam, covid -19 belum tampak usai, kini bencana bertubi-tubi terjadi. Kecelakaan, gempa bumi, banjir bandang, longsor, erupsi gunung, angin puting beliung menghampiri negeri ini. Bahkan, dinyatakan bahwa banjir yang terparah terjadi di Kalimantan Selatan pada tahun 2021 ini Suara.com (15/1/21).

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menegaskan bahwa banjir besar di Kalimantan Selatan yang terjadi beberapa hari terakhir bukan hanya karena cuaca ekstrem, tapi juga akibat rusaknya ekologi di tanah Borneo (Suara.com, 15/1/21).

Selain curah hujan yang tinggi, berkurangnya hutan primer dan sekunder, eksploitasi sumber daya alam demi pemenuhan hasrat hidup dan kerakusan manusia juga menimbulkan dampak buruk berupa kerusakan ekologi yang menyengsarakan manusia lainnya. Sumber daya alam menjadi sumber kehidupan semua makhluk hidup, termasuk manusia. Namun, akibat ulah manusia, alam dieksploitasi dan dijadikan komoditas demi tujuan pertumbuhan ekonomi. Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah juga tidak tepat, pasalnya kewajiban mempertahankan minimal 30 persen kawasan hutan dalam UU Kehutanan dicoret oleh Presiden yang termuat dalam pasal 18, UU No. 41 Tahun 1999. Hal ini akan berpotensi membuka seluruh kawasan hutan untuk investasi. Dan memberikan banyak keuntungan bagi para korporat. Bagaimana tidak? Mereka bisa dengan leluasa menebang hutan dengan seenaknya tanpa memikirkan dampaknya bagi manusia lainnya.

Penggundulan hutan akan terus meningkat. Hutan Indonesia akan semakin terancam, tidak ada lagi UU yang melindungi pelestarian hutan padahal hutan adalah penyangga kehidupan dan sumber kemakmuran rakyat. Maka tidak heran bencana banjir akan terjadi saat hutan terancam.

Beginilah dampak dari diterapkannya sistem kapitalisme saat ini. Para korporat bisa dengan sangat bebas mengeksploitasi sumber daya alam tanpa memperdulikan masa depan lingkungan alam. Yang terpenting bagi mereka adalah kepuasan akan materi yang didapat.

Islam dengan seperangkat aturannya menegaskan dalam Al-Qur’an perilaku alam semesta berhubungan erat dengan perilaku manusianya. Firman Allah SWT Dalam QS. Al-Ruum : 41

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Ya, semakin rusak perilaku manusianya maka akan semakin rusak juga alam semestanya. Musibah yang terjadi bertubi tubi sudah seharusnya membuat kita merenung dan kembali pada Islam yang memiliki solusi yang tepat untuk menyelesaikan suatu masalah.

Namun demikian, memanglah musibah juga merupakan sunatullah, qadha yang sudah Allah Swt. tetapkan yang tidak mungkin ditolak dan harus disikapi dengan sabar dan ridha. Bagi seorang mukmin qadha ini adalah merupakan ujian dari Allah Swt. seperti firman-Nya dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 155,

“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Namun, ada juga faktor di luar qadha yang menjadikan bencana itu terus datang yakni akibat dosa dan kemaksiatan manusia yang tidak menerapkan syariat Allah Swt. Bencana banjir yang sebagian faktornya sebenarnya bisa dikendalikan oleh manusia. Seperti kebijakan penguasa terkait pemanfaatan lahan dan perencanaan pembangunan dikaitkan pengelolaan tata ruang kawasan dan penguasa telah melegalkan eksploitasi sumber daya alam. Alih fungsi lahan dan pembangunan insfrastruktur atas nama investasi dan pertumbuhan ekonomi. Penebangan hutan dan alih fungsi lahan di dataran tinggi menyebabkan tanah tidak mampu menahan erosi, seningga laju sedimentasi tinggi dan menyebabkan longsor.

Inilah bentuk kelalaian manusia, bentuk kelalaian penguasa yang seharusnya bertanggung jawab dalam pencegahan dan penanggulangan. Kelalaian ini adalah bagian dari kemaksiatan. Kezaliman penguasa bisa menyebabkan bumi terus berguncang. Imam ibnu katsir mengutip pernyataan abu Al aliyah tentang kerusakan bumi. Abu Al-Aliyah berkata;

“Siapa saja yang bermaksiat kepada Allah Swt. dibumi maka sungguh ia telah merusak bumi. Sungguh kebaikan langit dan bumi adalah dengan ketaatan kepada Allah Swt.” (Ibnu Katsir, Tafsri Al-Qur’an, al’ Azhim 320/6)

Maka satu-satunya cara untuk mengakhiri banyaknya musibah ini adalah dengan bersegera bertaubat kepada Allah Swt. Taubat yang dilakukan oleh segenap komponen bangsa khususnya para penguasa dan pejabat negara. Semua pihak harus segera bertaubat dari dosa dan maksiat serta beragam kezaliman. Kezaliman yang besar adalah saat manusia tidak berhukum dengan hukum Allah Swt. Maka dari itu taubat yang harus dilakukan penguasa adalah mengamalkan dan memberlakukan syariat-Nya secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan dalam pemerintahan, politik, hukum, ekonomi, pendidikan, sosial dan sebagainya.

Jika syariat Islam di terapkan secara kafah maka keberkahan akan berlimpah memenuhi bumi. Sebab inilah wujud hakiki dari ketakwaan. Seperti firman-Nya: “ Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (TQS Al’araf:96).

InsyaAllah jika kita menerapkan Islam secara kafah bumi pun berkah dan jauh dari bencana.

Wallahua’lam bishshawab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

blank

Hits: 10

Comment here