Opini

Trending #JanganJadiDosen, Kemuliaan Pendidik Diabaikan

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: A Tenri Sarwan, S.M
(Guru & Aktivis Dakwah)

wacana-edukasi.com, OPINI-– Alinea keempat dalam pembukaan UUD 1945 berisi fungsi sekaligus tujuan negara Indonesia salah satunya “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Tentu mencapai hal tersebut tidak lepas dari hadirnya para pendidik. Menjadi jembatan demi terwujudnya generasi penerus harapan bangsa. Tetapi, para pendidik lagi-lagi harus ‘gigit jari’. Tanggung jawab besar, tetapi gaji bercanda?

Sejumlah dosen mengungkapkan gaji mereka yang masih di bawah Upah Minimum Regional (UMR) di media sosial, disertai dengan tagar #JanganJadiDosen. Pengamat pendidikan menyebut gaji dosen rendah dapat berdampak buruk pada kualitas pendidikan di perguruan tinggi. (BBC.com 25/02/2024)

Hasil penelitian Serikat Pekerja Kampus atau SPK mengungkap mayoritas dosen menerima gaji bersih kurang dari Rp 3 juta pada kuartal pertama 2023. Termasuk dosen yang telah mengabdi selama lebih dari enam tahun. Sekitar 76 persen responden atau dosen mengaku harus mengambil pekerjaan sampingan karena rendahnya gaji dosen. Pekerjaan itu membuat tugas utama mereka sebagai dosen menjadi terhambat dan berpotensi menurunkan kualitas pendidikan. (bisnis.tempo.co 02/05/2024)

Penghargaan dan perhatian negara terhadap tenaga pendidik ternyata jauh panggang dari api. Terbukti dengan rendahnya gaji para tenaga pendidik tak terkecuali seperti para dosen, hingga #janganjadidosen sempat trending, mengapa hal ini terjadi?

— Buah Pahit Sistem? —

Ironis, #janganjadidosen sepertinya akan memunculkan pergeseran di tengah-tengah ummat. Tenaga pendidik, ilmuwan ataupun orang-orang berilmu yang harusnya dimuliakan tidak akan lagi dihargai apatah lagi menjadikan mereka idola. Apa mau dikata, inilah buah dari penerapan sistem kapitalisme yang menggerus penghargaan atas jasa para pendidik. Terbukti para pendidik yang harusnya fokus mendidik generasi penerus bangsa terpaksa harus bekerja sampingan karena gaji yang tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup. Alhasil, tugas utama mereka terhambat dan cita-cita mencerdaskan bangsa akan semakin sulit terwujud.

Wajar jika hari ini generasi kian rusak. Jauh dari generasi impian. Generasi yang membangun peradaban agung dan mulia. Saat tenaga pendidik tak dimuliakan, hingga abai dalam melaksanakan tugasnya. Maka, jadilah generasi rusak dengan berbagai bentuk kerusakan, saling bunuh, tawuran, seks bebas, aborsi, kriminalitas, LGBT dsb. Lagi-lagi buah pahit kapitalisme, yang memandang semuanya dalam pandangan materi.

Asas sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan, menjadikan tenaga pendidik tidak lebih dari sebuah profesi yang menjalankan tugas sesuai kualifikasinya lalu digaji sesuai yang telah disepakati. Padahal para pendidik adalah mereka yang bertanggung jawab penuh untuk membentuk generasi penerus peradaban. Tetapi, hanya diupah dengan gaji bercanda tak sebanding dengan pengorbanan yang telah mereka lakukan dalam mendapatkan keilmuan mereka. Inilah buah pahit sistem kapitalisme sekuler, tak ada penghormatan pada pemilik ilmu yang ada pada pemilik money. Lalu, bagaimana seharusnya?

— Mulia dengan Islam —

Islam adalah sistem sempurna dan paripurna karena sumbernya dari yang Maha Sempurna, Allah SWT. Hanya sistem Islam yang memuliakan para pemilik ilmu dan pencari ilmu.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

… يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ ۙ وَا لَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ۗ وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

“…niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Mujadilah 58: Ayat 11)

Betapa tidak cukup hanya beriman tetapi Allah mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat. Sejalan dengan itu, hasilnya negara dengan sistem Islam tentu sangat memuliakan para pendidik (orang yang mengajarkan ilmu).

Islam sangat memuliakan pemilik ilmu karena Rasulullah Saw. adalah teladan terbaik yang hadirnya juga membawa ilmu dan mengajarkannya. Bagaimana mungkin pemilik ilmu tak dimuliakan dalam Islam.

Pada masa Kekhalifahan Abbasiyah misalnya, penghargaan bagi pendidik atau orang berilmu pun sangat besar. Gaji pengajar kala itu mencapai 1.000 dinar/tahun. Khalifah juga memberikan gaji dua kali lipat bagi pengajar Al-Qur’an. Bahkan, ketika pengajar atau ilmuwan menghasilkan buku, mereka akan mendapatkan penghargaan sesuai berat buku tersebut (dalam dinar), ini adalah bukti bahwa Islam sangat menghargai ilmu dan orang yang berilmu. Jika 1 dinar = 4,25 gram emas dengan mengacu harga emas saat ini (Mei 2024) senilai Rp 1,3 juta maka dalam sebulan seorang pengajar mendapatkan gaji Rp460,416 juta/bulan.

Mungkinkah hal itu bisa terwujud? Tentu saja mungkin karena sistem Islam tidak akan membiarkan SDA dikuasai oleh asing ataupun aseng. SDA dikelola mandiri dan hasilnya kembali kepada ummat. Kredibilitas para aparatur negara dijamin sebab, dorongan keimanan bahwa amanah adalah tanggung jawab antara dirinya dan Rabb-Nya.

Hanya dalam Islam pemilik ilmu dimuliakan dan tak terabaikan, sehingga mereka mampu menjalankan amanahnya dengan baik. Sistem Islam dengan pendidikan Islam membentuk generasi berpola pikir dan pola sikap islami. Terbentuklah generasi agung dan mulia yang akan mewujudkan peradaban terbaik. Walhasil, siapkah kita merealisasikannya?

Wallahu’alam bishshawab.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Loading

Visits: 23

Comment here