Surat Pembaca

Anak Pelaku Kriminal, Rusaknya Peran Keluarga

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh : Muliani, S.Pd. (Guru & Aktivis Dakwah)

wacana-edukasi.com, SURAT PEMBACA– Kasus kriminal yang tengah marak saat ini sungguh sangat memprihatinkan, para pelaku bukan hanya berasal dari kalangan orang dewasa, namun kini tengah menjamur dikalangan remaja dan anak-anak. Dampak dari kriminalitas sendiri tidak hanya meninggalkan cacat fisik semata namun mental bagi korban hingga berujung kehilangan nyawa.

Seperti yang menimpa MA (6 tahun) asal Sukabumi ini menjadi korban pembunuhan dan sodomi oleh tetangganya sendiri yang juga berstatus sebagai pelajar yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Polisi kini menetapkan pelaku S (14 tahun) sebagai tersangka dan berstatus Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH). (Sukabumi.id, 02/05/2024).

Kasus di atas menjadi bukti makin maraknya tindak kriminal yang dilakukan oleh anak-anak. Pada faktanya, di lapangan masih banyak contoh kekerasan yang terjadi bukan hanya dilingkungan sekolah tetapi juga di lingkungan masyarakat.

Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia menunjukkan bahwa tindak kekerasan fisik dan kekerasan seksual adalah dua jenis tindak kriminal yang paling banyak dilakukan oleh anak. Dan menurut data dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia, menunjukkan bahwa terjadi tren peningkatan kasus anak yang berkonflik dengan hukum dari periode 2020 hingga 2023, tercatat hampir 2000 anak, dan sebanyak 1.467 anak diantaranya berstatus tahanan dan masih menjalani proses peradilan, sementara 526 anak sedang menjalani hukuman sebagai narapidana.

Buramnya Pendidikan Sekularisme

Semua pihak baik orang tua, keluarga, masyarakat maupun negara haruslah memiliki kepedulian yang tinggi dalam mencari solusi dari persoalan yang menjerat anak-anak hari ini. Tingkat kriminalitas yang tinggi yang dilakukan anak dan remaja bukanlah persoalan yang remeh yang hanya cukup dengan ucapan pemakluman semata, karena dianggapnya masih anak kecil, dan terjadi pembiaran sehingga persoalan tersebut semakin hari semakin banyak dan membuat hati miris, apalagi tak sedikit dari kasus tersebut membuat nyawa melayang.

Adanya sanksi yang diberikan kepada pelaku tindak kriminal tidak memberikan efek jera apalagi jika pelakunya adalah anak-anak (usia kurang dari 18 tahun).

Maraknya kriminalitas oleh anak-anak merupakan gambaran buruknya output dalam sistem Pendidikan Kapitalisme di mana orang tua dianggap hanya sebagai pihak pemberi materi. Sementara itu, orang tua juga hanya mengejar materi sebagaimana yang ditanamkan oleh kapitalisme.

Fitrahnya anak-anak adalah ingin diperhatikan, disayangi, dan diajak bermain oleh orang tua maupun orang terdekatnya. Bagaimana jadinya jika anak kekurangan perhatian dan waktu dari orang tua?

Dalam sistem sekularisme kapitalisme, agama telah dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, tujuan kehidupan adalah mencari materi atau keuntungan sebanyak-banyaknya sebagai sumber kebahagiaan.

Kebanyakan masyarakat beranggapan bahwa tugas ayah atau kepala keluarga adalah mencari nafkah, sehingga membuat ayah bekerja siang malam demi mencapai tuntutan kehidupan, dan juga gengsi, akibatnya banyak anak-anak yang kehilangan figur seorang ayah, karena ayah telah tersibukkan mencari nafkah dan melalaikan peran dan tanggungjawabnya dalam mendidik anak-anak mereka.

Begitupun dengan tugas Ibu sebagai pengatur dan pengurus rumah tangga telah banyak dilalaikan oleh para ibu di sistem hari ini. Bagaimana tidak, mindset ibu-ibu hari ini adalah bagaimana mencari tambahan cuan meskipun dari rumah. Kecanggihan teknologi hari ini menjadikan para orang tua terlenakkan hingga mencapakkan tugas utamanya dalam mendidik generasi, mereka hanya tersibukkan dengan urusan duniawi. Peran orang tua terbukti mandul dalam sistem kapitalis sekuler.

Jika kedua orang tua bekerja maka anak hanya akan memiliki sedikit waktu dengan orang tuanya, sehingga kepribadian anak terbentuk oleh lingkungan tempat dia bermain dan menghabiskan waktunya. Peran orang tua terbukti mandul dalam sistem kapitalis sekuler.

Pendidikan Anak Dalam Islam

Sebagai sekolah pertama bagi anak, maka orang tua sudah seharusnya menjalankan kewajibannya dengan sebaik-baiknya salah satunya menanamkan akidah Islam bagi anak-anaknya, dikenalkan Allah sebagai pencipta sekaligus sebagai pengatur berbagai urusan kehidupan sehingga anak-anak memahami bahwa segala sesuatu telah diatur oleh pencipta mereka. Selain itu, anak-anak juga memahami mana yang boleh dilakukan dan mana yang dilarang. Atau dengan kata lain anak-anak akan terikat Syariah Islam.

Sistem pendidikan yang berbasis pada akidah Islam akan menghasilkan peserta didik yang mempunyai kepribadian Islam. Memiliki pola pikir Islam dan pola sikap Islam, bukan kriminal. Karena itu, peran pendidikan anak sangat besar. Sebagaimana ibu merupakan sekolah pertama dan pendidik utama.

Selain itu, Islam juga telah menetapkan sanksi tegas dan tidak membedakan usia selama sudah baligh atau dilakukan dalam keadaan sadar. Dengan adanya tindakan preventif dan kuratif sesuai paradigma Islam, serta pelibatan semua pihak terutama mamaksimalkan peran keluarga sesuai dengan Islam, maka persoalan anak yang menjadi pelaku kriminal bisa tersolusikan.

Wallahu a’alam bisshawab.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 36

Comment here