Opini

Remaja Terjerat Narkoba, Pendidikan Salah Arah

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Ledy Ummu Zaid

Wacana-edukasi.com, OPINI–Kalau mendengar istilah ‘Kampung Nelayan’ mungkin sudah biasa. Di pikiran kita pasti terbayang bahwa mayoritas warga di kampung tersebut bermata pencaharian sebagai nelayan. Namun, apa jadinya jika ada ‘Kampung Narkoba’ di Indonesia? Apakah warga di sana mayoritas pengedar dan pengguna narkoba? Faktanya, memang sering ada transaksi narkoba hingga penggerebekan lantaran barang haram tersebut.

Belasan Remaja Terjerat Narkoba

Dilansir dari laman cnnindonesia.com (14/11/2025), Badan Nasional Narkotika Provinsi (BNNP) Jawa Timur menemukan 15 siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) positif mengonsumsi Narkotika dan Obat-obatan (Narkoba). Temuan ini terkuak setelah BNNP Jawa Timur melakukan tes urine secara acak kepada 50 siswa sekolah menengah di Jalan Kunti, Kecamatan Semampir, Surabaya.

Adapun Jalan Kunti ini biasa disebut ‘Kampung Narkoba’ oleh masyarakat Surabaya. Meski tampak seperti kampung pada umumnya, tetapi terdapat banyak bedeng-bedeng kecil yang terbuat dari kayu dan beratapkan terpal. Di sanalah dugaan kerap adanya transaksi narkoba hingga pesta sabu.

Eri Cahyadi, Wali Kota Surabaya mengingatkan para orang tua untuk mengevaluasi diri dan sadar dengan perannya dalam mengasuh anak, seperti yang dilansir dari laman suarasurabaya.net (14/11/2025). Meski pemerintah setempat dan BNNP Jawa Timur telah memantau secara rutin Jalan Kunti tersebut, namun transaksi narkoba masih saja ditemukan hingga penggerebekan beberapa waktu lalu.

Eri menekankan kurangnya peran orang tua dalam mengasuh anak hingga banyak remaja yang terjerat narkoba. Para orang tua seharusnya dapat menjaga anak dan lingkungannya. Jadi, pengasuhannya tidak bisa hanya diberikan kepada guru di sekolah.

Selanjutnya, anak-anak yang terbukti menjadi pengguna akan diberikan rehabilitasi dan pendampingan untuk menjadi pribadi yang baik di masyarakat. Sejauh ini, upaya yang dilakukan pemerintah kota Surabaya, yakni terus berkoordinasi dengan pengurus tingkat Rukun Warga (RW) dan tokoh masyarakat untuk mengamankan Jalan Kunti.

Kemudian, pemerintah juga berkomitmen dalam pencegahan dan pemberantasan narkoba di Surabaya. Pihaknya akan bekerja sama dengan pihak kepolisian, BNN, dan seluruh warga kota Surabaya. Khususnya, BNN secara rutin akan menggelar uji sampling acak kepada siswa sekolah.

Pendidikan Salah Arah

Seperti yang kita ketahui, hari ini banyak remaja yang kehilangan arah. Mereka seolah tidak memiliki keimanan yang kuat hingga mencari kebahagiaan dengan cara yang salah. Tak sedikit yang akhirnya terjebak kenakalan remaja, seperti free sex, LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender), dan narkoba.

Dalam hal ini, peredaran narkoba yang tidak terbendung lagi seperti sekarang seharusnya membuka mata kita. Inilah bukti negara telah gagal mengawasi peredaran obat-obatan terlarang. Kini, peredarannya yang sistematis dapat menembus garda negara. Masyarakat yang taraf berpikirnya masih lemah akhirnya mudah terjerumus pada tindak kriminal, baik sebagai pengguna maupun pengedar narkoba.

Faktanya, dalam sistem kapitalisme yang menjunjung tinggi materi belaka, berbagai transaksi yang menguntungkan negara tentu tidak akan mudah diberantas. Negara memang memiliki kedaulatan untuk membuat kebijakan, tetapi sayangnya kebijakan yang diambil acapkali hanya menguntungkan kalangan elit saja. Sedangkan rakyat semakin terimpit oleh kebijakan yang salah tersebut.

Kemudian, arus sekulerisme liberal juga semakin kencang menerpa kehidupan masyarakat. Dengan mengindahkan aturan agama dan hidup bebas ala Barat, generasi muda terancam suram masa depannya. Narkoba sejatinya dapat merusak akal yang mana menjadi jalan utama atas segala perbuatan manusia. Jika akalnya rusak, maka tak heran kepribadiannya juga rusak.

Dengan adanya Kampung Narkoba ini seharusnya menjadi booster bagi negara untuk memberantas habis transaksi haram tersebut. Tak hanya sekedar melaksanakan kontrol secara rutin, tetapi menutup rapat-rapat akses narkoba untuk dapat masuk ke negeri ini. Jika terus dibiarkan, hal ini akan menjadi malapetaka bagi remaja.

Islam Melindungi Generasi

Adapun dalam sistem Islam, keluarga wajib menjadi madrasah pertama bagi setiap muslim. Di sini peran orang tua sangat strategis karena merekalah yang wajib menanamkan akidah yang kuat bagi seluruh anggota keluarganya. Apalagi seorang ayah harus menjadi pemimpin keluarga yang memiliki sifat qowwam, yakni bertanggung jawab dan melindungi keluarganya di dunia dan akhirat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam QS. At-Tahrim: 6 yang berbunyi, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (TQS. At-Tahrim: 6).

Selanjutnya, daulah (negara) juga wajib memfasilitasi pendidikan Islam yang komprehensif. Dengan kurikulumnya yang berbasis akidah islamiah, tentu pendidikan Islam akan melahirkan generasi-generasi emas yang memiliki syakhsiyah (kepribadian) Islam. Mereka mengetahui bahwa kehidupan harus berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunah. Semua dilakukan guna meraih rida Allah subhanahu wa ta’ala.

Dengan demikian, penerapan syariat Islam secara kafah atau menyeluruh sangat dibutuhkan. Seorang khalifah akan bertanggung jawab atas pengurusan hajat hidup rakyatnya, termasuk memenuhi segala kebutuhannya. Sebagai contoh, pendidikan dan kesehatan akan diberikan secara gratis kepada setiap individu rakyat. Jadi, rakyat tidak memiliki beban yang berat dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Imam adalah raa’in (gembala) dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR Bukhari).

Karena daulah secara mandiri mengelola sumber daya alam yang ada, maka hasilnya dapat dikembalikan kepada rakyat. Tentu saja kondisi baitul mal atau kas negara menjadi stabil. Di satu sisi, daulah juga memiliki sistem hukum yang tegas dengan asasnya, yakni jawabir (hukuman) dan zawajir (pencegahan). Dengan demikian, dalam pemberantasan narkoba, daulah akan berlaku tegas kepada pengguna dan pengedarnya tanpa pandang bulu.

Khatimah

Tidak perlu dipertanyakan lagi, kasus remaja terjerat narkoba ini akibat pendidikan yang salah arah. Ketiadaan sistem kehidupan yang sahih bagi umat meniscayakan adanya kerusakan di segala lini. Oleh karena itu, umat seharusnya sadar dan menginginkan perubahan yang hakiki, yakni penerapan syariat Islam kafah. Adapun satu-satunya jalan yang bisa ditempuh adalah dengan mengembalikan peradaban yang mulia dalam naungan kepemimpinan Islam, khilafah islamiyyah ‘ala minhajin nubuwwah.

Wallahu a’lam bishshowab. []

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 7

Comment here