Opini

Lockdown diabaikan, Kluster Baru Bermunculan?

blank
Bagikan di media sosialmu

Penulis: Shita Ummu Bisyarah

Wacana-edukasi.com — Apa yang kita tanam sekarang akan kita panen 2 pekan yang akan datang. Begitulah hukum alam sekarang, di era pandemi yang tak berkesudahan. Karena masa inkubasi si virus adalah 2 pekan. Dua pekan yang lalu Indonesia merayakan hari kemerdekaannya. Dengan peraturan yang tidak tegas jelas masyarakat akan berlibur atau mudik ke daerah asalnya. Hal ini terlihat dari ramainya jalan tol ketika liburan kemerdekaan. Dilansir dari www jabar.suara.com, arus lalu lintas di jalan Tol Cikopo-Palimanan (Cikopo) arah Palimanan dan sekitarnya terpantau ramai pada libur panjang HUT Ke-75 Kemerdekaan RI, Senin (17/8/2020).

Tempat liburan juga masih tetap dibuka, padahal Epidemiologi Universitas Indonesia Pandu Riono mengatakan, saat liburan masyarakat cenderung melupakan protokol kesehatan. Apalagi saat di tempat wisata yang mengharuskan setiap orang harus berkomunikasi. Tempat wisatapun ramai dikunjungi warga karena tak ada aturan tegas untuk menutupnya. Sebut saja Taman Marga Satwa Ragunan, Ancol, Margocity dll, bahkan dilansir dari travel.kompas.com banyak promo tempat – tempat wisata di berbagai daerah yang notabennya zona merah covid 19.

Alhasil hari ini kita lihat bagaimana Indonesia memanen apa yang ia tanam. Kluster baru liburan kemerdekaan menyumbang kenaikan tajam kurva pandemik. Tiga hari berturut – turut total cases corona di Indonesia mencapai 3.308 cases. Kabar buruknya lagi per 30 Agustus 2020 Indonesia telah kehilangan 100 dokter karena sebab yang sama, yakni terinveksi Covid-19. Selamat Indonesia, kebahagiaan semu yang kalian kejar telah kalian panen, bahkan kalian menjadi pembunuh para dokter tak bersalah yang rela mengorbankan nyawa demi kalian.

Pemerintah juga tak kunjung mengeluarkan kebijakan yang tegas. Kebijakan New Normal jelas bukan solusi, bahkan terkesan berlepas tangan. Pemerintah hanya sibuk urusi ekonomi demi kepentingan pribadi. Mengorbankan para ahli dan rakyat yang tak cukup materi. Kebijakan yang dibuat seenaknya sendiri, malah membuka bioskop dengan dalih ” bahagia tingkatkan imun badan katanya”. Tempat wisata dibuka lebar, Mall dan pusat perbelanjaan lainnya di dibuka dengan alasan ekonomi. Sedangkan sosialisasi dan solusi tak dijalankan bahkan dicari secepatnya.

Pertanyaan yang ada dibenak masyarakat adalah mengapa negri ini begitu abai dan lalai atasi pandemi? Padahal ribuan nyawa telah melayang dan sistem kesehatan negri sudah kehilangan penjaga terdepan dengan meninggalnya ratusan dokter dan tenaga kesehatan lainnya seperti perawat.

Bila kita analisis di negri ini, pemerintah dalam mengambil keputusan seolah lebih mengedepankan masalah ekonomi ketimbang nyawa rakyatnya. Sejak awal ketika pandemi ini muncul pemerintah tak serius melockdown negara, malah memasukkan TKA China dimana virus ini berasal. Pun ketika virus ini menyebar ke seluruh penjuru negeri, dana untuk tangani pandemi tak kunjung cair, bahkan sarat akan kepentingan golongan. Bahkan hingga sekarang kebijakan pemerintah tak tegas.

Hal ini semata karena paradigma negara dalam tangani pandemi sudah salah. Sistem Kapitalisme yang diadobsi oleh negeri ini sebagai tatanan hidup bernegara jelas merupakan ideologi yang berasaskan materialisme, dimana segala sesuatu di pandang dari segi materi yang menguntungkan segelintir orang yang memiliki modal alias para kapitalis. Maka wajar saja jika penanganan pandemi juga demikian. Prioritas utama adalah materi, yakni mengumpulkan keuntungan sebesar – besarnya oleh para pemilik modal, dengan paradigma penanganan yang salah akhirnya membuat pandemi semakin parah.

Berbeda dengan Islam. Islam memberikan penghargaan tertinggi pada nyawa manusia, sebagaimana firman Allah SWT yang artinya “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR Nasa’i); Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (TQS Al Maidah [5]:3).
Maka kebijakan yang diambil oleh Islam dalam menangani pandemi harus secepat mungkin dan sebisa mungkin tidak ada korban jiwa.

Ada tiga prinsip Islam dalam penanggulangan wabah sehingga segera berakhir tanpa korban lebih banyak lagi. Pertama pengambilan kebijakan lockdown sesegera mungkin. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah saw, “Apabila kalian mendengarkan wabah di suatu tempat maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu maka janganlah keluar darinya.” (HR Imam Muslim). Ke-dua mengisolasi orang yang sakit. Sabda Rasulullah saw, “Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menular mendekati yang sehat.”(HR Imam Bukhari). Ke-tiga Pengobatan segera hingga sembuh. Bersabada Rasulullah saw, “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat, dan diadakan-Nya bagi tiap-tiap penyakit obatnya maka berobatlah kamu, tetapi janganlah berobat dengan yang haram.”

Islam memandang kesehatan sebagai kebutuhan pokok rakyat, sehingga negara wajib memberikannya secara cuma – cuma alias gratis. Hal ini tentu didukung sepenuhnya oleh sistem kesehatan Islam yang merupakan resultante (hasil) dari sistem kehidupan Islam yakni sistem ekonomi dan politik Islam berikut sekumpulan konsep sahihnya. Sistem pendidikan sebagai pilar utama membentuk masyarakat yang hidup sehat, politik riset dan industri dilandaskan pada paradigma shahih Islam, sementara pembiayaan berbasis baitul mal dengan anggaran bersifat mutlak.

Dengan paradigma dan prinsip seperti itu mudah saja bagi negara dalam menyelesaikan wabah. Seperti melakukan screening epidemiology, berupa pemeriksaan yang cepat dan akurat terhadap semua orang dengan gejala klinis atau contac tracing. Dalam waktu kurang dari 12 jam bahkan akan bisa dipilah mana orang yang terinfeksi dan mana yang sehat, sehingga bisa dilaksanakan 3 prinsip yang sudah dijelaskan di atas.

Begitulah Islam sebagai sistem kehidupan yang sohih dengan seperangkat aturan yang kompleks dan paradigma yang mulia sehingga bisa menjadi solusi setiap problematika dunia. Karena Islam hadir tak hanya menjadi rahmat bagi kaum muslim tapi rahmat bagi seluruh alam.

Wallahualambissawab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 0

Comment here