Opini

Ratusan Dokter Wafat, Dokter Asing Merapat

blank
Bagikan di media sosialmu

Penulis : Sri Indrianti (Pemerhati Sosial dan Generasi)

Wacana-edukasi.com — Pandemi Covid 19 belum juga usai. Kebijakan new normal yang ditempuh pemerintah pun tak memberikan dampak signifikan. Nyatanya, angka kasus Covid 19 masih menyentuh angka ribuan per hari. Tercatat kasus positif virus corona (Covid-19) hingga 4 September 2020 bertambah 3.269 kasus. Sehingga akumulasi sebanyak 187.537 orang (Okezone.com, 4/9/2020).

Dari angka tersebut, terdapat didalamnya ratusan dokter gugur terpapar Covid 19. Angka yang sangat mencengangkan. Bahkan, angka kasus kematian dokter di Indonesia termasuk tertinggi di dunia. Namun, tingginya angka kasus Covid 19 tidak lekas membuat pemerintah menangani secara serius pandemi ini. Terbukti, dengan kurva kasus yang belum melandai pemerintah justru nekad menetapkan kebijakan adaptasi terhadap tatanan baru. Dengan dalih sektor ekonomi yang mengalami kelesuan selama pandemi.

Tak cukup sampai di situ, kini pemerintah mengeluarkan wacana baru terkait industri wisata medis. Wacana ini dikeluarkan lantaran disinyalir jumlah penduduk Indonesia yang berobat ke luar negeri tiap tahunnya terbilang cukup tinggi. Analisa dari PwC di tahun 2015 menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara asal wisatawan medis dengan jumlah 600.000 orang, terbesar di dunia mengalahkan Amerika Serikat dengan 500.000 orang wisatawan medis di tahun yang sama (Cnbcindonesia.com, 29/8/2020).

Sektor Ekonomi Prioritas Utama

Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, berkoordinasi dengan para jajarannya untuk mengembangkan industri wisata medis. Menurut Luhut, lewat wisata medis ini nantinya pemerintah ingin Indonesia melakukan diversifikasi ekonomi, menarik investasi luar negeri, penyediaan lapangan pekerjaan, pembangunan industri layanan kesehatan di Indonesia, serta menahan laju layanan kesehatan serta devisa kita agar tidak mengalir ke negara-negara yang lebih sejahtera (Cnbcindonesia.com, 29/8/2020)

Selalu saja sektor ekonomi menempati prioritas utama. Tentu bukanlah hal yang aneh. Pasalnya, negara ini memang negara korporasi dengan sistem Kapitalisme yang membelenggu. Tabiatnya, negara korporasi senantiasa mengejar keuntungan. Tak heran, jika dalam situasi pandemi yang kian pelik ini yang dipikirkan hanyalah sektor ekonomi. Abai dengan pandemi yang menuntut untuk segera dipulihkan.

Gugurnya para dokter ahli pun tak menarik simpati dan empati dari pemerintah. Kematian para pahlawan Covid 19 tersebut tak ubahnya sekedar angka statistik. Belum kering air mata karena duka atas kematian pejuang garda terdepan pandemi, kini disuguhkan wacana impor dokter asing dalam rangka membangun rumah sakit berskala internasional.

Islam Solusi Kesehatan Paripurna

Pandemi Covid 19 yang semakin merebak dan tak kunjung berakhir ini semestinya menampar pemerintah atas keseriusan penanganannya. Sudahkah segala daya upaya dikerahkan demi memutus pandemi Covid 19 ? Atau sebaliknya justru tak begitu serius menangani pandemi ?

Sepertinya kemungkinan yang terakhir pantas disematkan. Sebab, dari awal pandemi pemerintah tak menggubris usul dan saran dari para ahli. Saran karantina wilayah dari IDI pun tak diambil. Sebagai gantinya, diterapkanlah PSBB yang merupakan karantina wilayah versi ekonomis. Disebut versi ekonomis, lantaran jika PSBB pemerintah hanya mencukupi kebutuhan pokok sebagian masyarakat dengan kriteria tertentu. Yang pada faktanya muncul berbagai problematika baru dari bantuan sosial yang tidak tepat sasaran. Pun juga karena tak ada karantina, menyebabkan virus menyebar dengan cepat. Wacana impor dokter asing dengan dalih dalam rangka membangun rumah sakit bertaraf internasional tentu tak bisa diterima. Ini semakin membuktikan pemerintah tak fokus dengan permasalahan utama bangsa, yakni pandemi Covid 19.

Islam begitu serius menangani wabah yang melanda. Khilafah benar-benar menghargai nyawa masyarakatnya. Sebab walaupun hanya ada satu nyawa manusia yang melayang karena kelalaian penguasa maka kelak akan menuntut di akhirat.

Khilafah memberikan jaminan kesehatan secara gratis untuk semua warganya tanpa terkecuali. Fasilitas terbaik pun diberikan baik berupa rumah sakit, obat-obatan, peralatan medis, dan para tenaga kesehatan yang mumpuni. Kebersihan dari rumah sakit pun senantiasa diperhatikan. Kemewahan rumah sakit Khilafah terkenal ke seluruh antero dunia. Sehingga mengundang para pelancong untuk mencicipi kemewahan rumah sakit tanpa biaya tersebut.

Seperti itulah semestinya pemerintah mengelola bidang kesehatan. Tak ada yang timpang salah satu, ekonomi atau kesehatan. Semuanya menuntut penanganan yang seimbang. Tak perlu impor dokter asing atau membuka investasi asing jika menginginkan rumah sakit bertaraf internasional. Berkaca dari Daulah Khilafah, sebaiknya pemerintah membenahi fasilitas kesehatan yang ada dengan fasilitas terbaik.

Wallahu a’lam bish-showab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 0

Comment here