Opini

Khilafah di Nusantara, Terukir Abadi dalam Sejarah

Bagikan di media sosialmu

Oleh : Hera Mumtazah

wacana-edukasi.com, Siapa yang tidak kenal kekhilafahan Islam? Sistem pemerintahan yang diwariskan Nabi Muhammad saw, telah berhasil memimpin dunia dengan peradaban Islam, menyatukan 2/3 dunia dan berjaya hampir 13 abad lamanya.

Tak heran, wilayah Nusantara menjadi salah satu bagian kekuasaan dari kekhilafahan Utsmaniyah saat itu. Islam menyebar ke Nusantara lewat pengutusan para wali yang dikirim oleh Khalifah. Para wali diutus untuk satu misi yakni mengemban dan menyebarkan dakwah Islam di wilayah Nusantara.

Sejarah Indonesia mencatat, ada peran para wali di dalam upaya perjuangan merebut kemerdekaan bangsa dari tangan para penjajah, pekikan takbir serta glora jihad fi sabilillah dan babu runcing menjadi senjata utama bagaimana rakyat bisa memenangkan pertarungan.

Maka, tidak benar apabila jejak khilafah di Nusantara itu tidak ada, jejak sejarah merekam bagaimana para wali dengan gigih menyebarkan ajaran Islam, para wali angkatan I yang dipimpin oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim, asal Turki, pada tahun 1400 an. Ia yang ahli politik dan irigasi itu menjadi peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara.

Seangkatan dengannya, ada dua wali dari Palestina yang berdakwah di Banten. Yaitu Maulana Hasanudin, kakek Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Aliudin. Jadi, masyarakat Banten sesungguhnya punya hubungan biologis dan ideologis dengan Palestina.

Lalu ada Syekh Ja’far Shadiq dan Syarif Hidayatullah yang di sini lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati. Keduanya juga berasal dari Palestina. Sunan Kudus mendirikan sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang kemudian disebut Kudus – berasal dari kata al Quds (Jerusalem).

Maka saat sistem Khilafah itu sirna, digantikan dengan sistem demokrasi kapitalisme sekuler, saat itu juga muncul problematika yang menghampiri umat muslim diseluruh dunia.

Problematika menggurita seolah tak pernah ada habisnya, mulai dari pemerintahan yang diktator, kesenjangan ekonomi dan kemiskinan, rasa tidak aman, krisis keadilan serta pendidikan dan kesehatan yang mahal, menjadi problematika yang dirasakan saat sistem Islam tidak lagi menaungi.

Kita lihat bagaimana tanah Palestina sampai saat ini masih belum dibebaskan dari cengkraman Zionis Yahudi Laknatullah. Muslim Rohingya terusir dari tanah kelahirannya akibat kediktatoran pemerintah Myanmar. Terlunta-lunta mencari suaka ke pelosok negri. Suriah dengan ISIS-nya mengadu domba umat Islam dan memunculkan konflik internal ditubuh kaum muslimin. Muslim Yaman, Muslim Katsmir India dan Uighur China tak luput dari kezaliman pemerintahnya.

Kesedihan, kenestapaan terus dialami umat Islam, tanpa Khilafah umat Islam kehilangan perisai. Tanpa Khilafah umat Islam dijauhkan dari kemuliaan. Tanpa Khilafah umat Islam kembali terjajah dalam segala aspek kehidupan.

Untuk itu, sangatlah wajar apabila umat Islam diseluruh dunia mendambakan Khilafah. Sangatlah wajar di Indonesia yang mayoritas muslim menginginkan sistem Allah ditegakan, karena hanya dengan Islam semua problematika bisa diselesaikan, hanya dengan penerapan sistem Islam dalam bingkai Daulah Khilafah yang bisa mengembalikan kegemilangan peradaban Islam.

Ketika Khilafah Islam telah ditegakkan, seluruh syiar Islam takkan terhinakan, Khilafah Rasyidah wujudkan kekuatan
tegakkan Al-Islam hancurkan kemungkaran.

dalam sabda Rasulullah Saw:
“Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode khilafah aala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’ala mengangkatnya. Kemudian datang periode mulkan aadhdhan (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.”
(HR Ahmad; Sahih).

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَيَخْشَ ٱللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَآئِزُونَ

Terjemah Arti: Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.

Kini kemenangan itu ada didepan mata, wahai khoirul ummah mari rapatkan barisan songsong kemenangan Islam, fajar Khilafah segera menyingsing menerangi kejahilan dan menghilangkan kezaliman saat ini.

Wallau a’lam bishowab.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 3

Comment here