Opini

Keluarga Kekinian, Anak Aniaya Ibu

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Isnawati

Wacana-edukasi.com — Publik dihebohkan dengan pemberitaan kisah keluarga kekinian dari Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Seorang pria bernama Hasbi (35) tega merampas kalung emas di leher ibunya sendiri, Tuo (62). Peristiwa perampasan emas tersebut terjadi saat pelaku menemui korban di rumahnya di Kecamatan Sinjai Utara, Selasa (12/1/2021). Pelaku sebelumnya meminta uang kepada ibunya karena butuh uang untuk bayar biaya gadai motor. Namun, karena tidak diberi uang, pelaku merampas kalung emas yang sedang dipakai korban.

Sebenarnya kasus Hasbi (35 tahun) hanyalah salah satu dari banyaknya kasus masalah anak aniaya ibunya. Selain di Sinjai Utara juga terjadi di Samarinda, seorang pria berinisial IS (26) di Kalimantan Timur, tega menghajar ibu kandungnya. Peristiwa itu terjadi karena IS tidak terima sang ibu menegur istrinya. Si anak ini kesal sama orang tuanya lantaran istrinya ditegur oleh sang ibu, dan membuat istrinya pergi ke rumah orang tuanya,” ujar Ketua Forum Kemitraan Polisi Masyarakat (FKPM), Marno, Rabu (13/1). Detiknews (15 Januari 2021)

Hilangnya ikatan batin anak pada orang tua adalah cermin hancurnya moralitas generasi, padahal ikatan anak dan ibu adalah ikatan yang kuat yang tak terkalahkan oleh apapun. Senang dan susahnya ibu demi anak-anaknya, tapi di keluarga kekinian anak menganiaya seorang ibu menjadi hal yang biasa, bukti rapuhnya sebuah hubungan hingga hilang arah.

Ibu bukanlah wanita yang hanya melahirkan saja, tapi juga wanita yang siap berkorban pikiran, perasaan, bahkan nyawa untuk anak-anaknya. Pola asuh yang salah menjadikan anak-anak salah langkah, kedurhakaan terjadi karena banyak faktor. Ayah yang tidak mampu berperan sebagai pelindung, pemimpin, pendidik bagi anak-anak dan istrinya. Mencukupkan hanya pada pemenuhan materi adalah awal pembentukan rapuhnya rumah tangga.

Ayah adalah figur contoh bagi anak-anaknya dalam menanamkan keimanan agar anak jauh dari kemaksiatan, Hasbi adalah salah satu contoh anak yang tega menganiaya ibunya karena terjerat riba. Kejahatan riba dan cara menghormati ibunya harus ditanamkan sejak dini, anak akan mengamati dan meniru cara orang tuanya mengatasi masalah, menyamakan sudut pandang yaitu meraih ridho Illahi akan menghantarkan pada kebahagiaan, rumahku menjadi surgaku. Tetapi impian itu hanyalah mimpi disiang bolong yang sulit terjadi, pertengkaran hingga berujung pada perceraian adalah ciri bobroknya hidup dalam negara yang menganut demokrasi. Halal haram adalah sesuatu yang bisa dikompromikan, kebenaran bersifat relatif walau harus ada nyawa yang dipertaruhkan.

Demokrasi adalah wadah menghancurkan harapan untuk hidup harmonis dalam berkeluarga, rasa saling menghormati, menyayangi terbentur dengan pertimbangan untung rugi. Naluri anak tergerus dan berubah menjadi ambisi untuk mencapai keinginan, anak menjadi durhaka, orang tua bagai musuh yang harus dikalahkan.

Negara memfasilitasi dan menunjukkan jalan dengan tontonan yang menjadi tuntunan diberbagai media, bebas berperilaku dan berbicara. Atas nama hak asasi, anak berargumen mencari pembenaran berdasarkan keuntungannya. Dari sisi kurikulum pendidikan, hanya mengarah pada kesempatan kerja guna memenuhi kepentingan oligarki, akidah dan keimanan umat dibiarkan  sesuai kadar ketakwaan individu masing-masing. Anak menganiaya orang tua menjadi hal yang lumrah atas nama hak.

Malapetaka tidak dapat dihindarkan, kerusakan sudah seperti lingkaran setan, Demokrasi gagal menjadi penanggung jawab penjaga akidah umat khususnya generasi muda. Kaum ibu terus dihadapkan pada berbagai kesulitan tanpa solusi, berjuang sendiri di tengah rapuhnya iman dan ekonomi. Jika saja Penguasa mau mengelola negeri ini secara mandiri, kekayaan alam sangat melimpah ruah, tidak akan ada malapetaka yang merusak tatanan kehidupan karena perekonomian yang berbasis ribawi.

Kembali kepada syariah dan khilafah adalah solusi pasti, Islam akan menghilangkan kesengsaraan yang luar bisa seperti saat ini, krisis disegala bidang. Dalam Islam lapangan pekerjaan di buka seluas-luasnya bagi laki-laki karena beban nafkah ada padanya. Bahkan negara akan menghilangkan semua aktifitas ribawi dan kembali pada mata uang emas. Jam kerja diatur tanpa mendholimi pekerja atau pengusaha agar ada waktu untuk keluarga. Kehidupan ideal hanya ada dalam khilafah, syariah bisa ditunaikan secara sempurna yang akan memanusiakan manusia.

Penerapan Islam akan menjaga kemuliaan ibu dan rasa hormat anak-anak pada orang tuanya, tidak akan ada anak menganiaya ibunya, surga ada ditelapak kaki ibu. Keluarga sakinah, mawaddah, warohmah, hanya ada dalam penerapan syariah dan khilafah.

رضا الله في رضا الوالدين, و سخط الوالدين

Wallahu a’lam bisshowab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 5

Comment here