Opini

Kasus HIV/AIDS Makin Mengkhawatirkan

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Ummu Faiha Hasna (Pena Muslimah Cilacap)

wacana-edukasi.com, OPINI--Kasus HIV AIDS di tahun 2025 sangat mengkhawatirkan. Dikabarkan seorang balita dan 14 remaja usia 15 hingga 19 tahun di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, terdeteksi mengidap HIV/AIDS. Pasalnya, sepanjang 2025, Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes KB) Kabupaten Cilacap mencatat ada 128 kasus baru HIV/AIDS. Nah, dari jumlah kasus baru tersebut, 99 pasien berada pada rentang usia 20 sampai 49 tahun,” ungkap Hutomo, Sabtu (6/9/2025).

Untuk itulah, agar bisa menekan angka kasus HIV/AIDS, Dinkes mengungkap pentingnya langkah pencegahan dengan mengajak masyarakat menerapkan gaya hidup sehat serta menjauhi perilaku berisiko. (tribunnews, 8/9/25)

Kasus HIV AIDS ini menunjukkan bahwa orang dengan HIV/AIDS (ODHA) semakin muda dan banyak berasal dari usia produktif. Pergaulan bebas dan kecanggihan teknologi diduga menjadi pemicu terjadinya HIV/AIDS ini.

Generasi Makin Rusak

Miris, tak dipungkiri usia produktif yang seharusnya menjadi fase memperkuat akidah dan sibuk menggali potensi diri justru sudah melakukan perilaku yang tidak seharusnya. Apa jadinya bila generasi muda saat ini seperti itu semua? Na’udzubillahiminzdalik.

Perilaku seseorang itu berkaitan dengan pemahamannya. Jika asupannya sehari-hari adalah hal-hal yang merusak dan dia tidak punya filter maka perilakunya akan rusak juga. Sebaliknya, jika dia di didik dengan mindset yang benar maka perilakunya akan benar juga. Bisa ditebak apa yang mereka konsumsi. Dalam usia segitu, dia berarti sudah sering melihat atau menonton hal-hal berbau mesum atau porno.

Media Tak Mendukung

Media hari ini bisa dikatakan semakin parah. Film, Drama, Webtoon, You Tube, semuanya dipenuhi hal-hal yang serba bebas. Bahkan cenderung merusak.

Jika anak kecil dibiarkan berselancar di internet tanpa pengawasan, ya, begitu lah yang terjadi. Anak yang nggak kuat pemahaman agamanya akan mudah meniru menjadikan tontonan sebagai tuntunan.

Inilah ngerinya jika media massa dikuasai oleh sistem kapitalisme. Sistem ini akan menularkan mindset-mindset nya yang merusak. Dalam sistem kapitalisme, hidup ditujukan untuk meraih kepuasan jasadiyah sebesar-besarnya. Sehingga pergaulan bebas maupun konten-konten yang berbau porno akan terus diproduksi. Karena dianggap pemuasan secara jasadiyah.

Tata aturan dalam kehidupan kapitalisme saat ini tidak memikirkan daya rusak konten tersebut bagi generasi. Padahal, orang yang terbiasa mengonsumsi konten porno, akan mudah bangkit nafsunya, sehingga dia ingin memuaskannya dengan segera.

Oleh karena itu, bisa kita lihat sendiri di sekitar kita, betapa banyak kasus pelecehan seksual, pemerkosaan, zina, aborsi atau sejenisnya. Apalagi tata aturan kapitalisme sekuler juga menyingkirkan peran agama dari kehidupan.

Agama hanya di ingat ketika shalat saja. Sementara ketika berperilaku sehari-hari aturannya tidak dipakai. Sehingga yang terjadi banyak orang yang berperilaku bebas tanpa batasan agama. Pacaran pun dianggap wajar, sementara zina hanya dianggap aib, nonton porno pun dianggap biasa. Oleh karena itu, perilaku generasi saat ini bisa dibilang liar, karena mereka tidak pernah memahami bagaimana seharusnya seorang Muslim bersikap. Padahal bagi seorang Muslim hidup itu bukan untuk senang-senang semata, tapi untuk mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan akhirat yang abadi kelak.

Muslim Harus Berhati-hati Bersikap

Seorang Muslim haruslah berhati-hati dalam bersikap. Dia tidak akan bersikap hanya karena ingin, tetapi selalu menyesuaikan aktivitasnya dengan hukum syariat. Jika syariat melarang, meski dia ingin dia akan rela meninggalkannya. Namun, jika syariat memerintahkan meski dia dalam kondisi malas pun dia akan tetap menaatinya. Sebab, dia paham bahwa setiap perbuatan baik atau buruknya akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak.

Begitulah seharusnya seorang Muslim. Seseorang akan berusaha agar Allah Subhanahu waTa’ala ridha dalam setiap aktivitasnya. Sayangnya, mindset atau pola pikir yang demikian tidak dipahami oleh generasi Muslim saat ini. Individunya tidak paham jati dirinya sebagai hamba. Sehingga, ketika menjadi orang tua dia tidak mendidik anaknya berdasarkan Islam. Kebanyakan orang tua membiarkan anaknya bermain hape dengan bebas tanpa di beri pemahaman yang benar dan mana yang salah. Akibatnya anak tumbuh dengan mindset yang rusak. Demikian seterusnya terjadi pada cucu generasi mendatang.

Maka dari itu, jika kita ingin menyelamatkan generasi maka butuh adanya institusi negara yang mampu melindungi generasi dari segala mindset yang merusak.

Islam Punya Solusi

Selama kurang lebih 1300 tahun, pernah ada peradaban gemilang yang mampu melindungi generasi dari segala mindset yang merusak, mampu mewujudkan generasi yang beriman dan bertakwa secara massal. Peradaban tersebut adalah negara yang menerapkan Islam secara sempurna yaitu Daulah. Daulah mampu menyuasanakan individu dan masyarakat agar bersikap benar agar sesuai syariat Islam. Dengan hadirnya Daulah maka terbentuk individu yang bertakwa. Institusi Daulah selalu menstandarkan Islam dalam berprilaku. Mereka akan takut dalam bermaksiat meski dalam keadaan sendirian sekalipun.

Masyarakat nya juga masyarakat yang islami yang tidak akan bersikap abai jika ada orang lain atau tetangga yang berperilaku melanggar atau menyimpang dari syariat. Masyarakat Islami akan berperan menjadi penasehat satu sama lainnya. Aktivitas amal ma’ruf nahi munkar akan menjadi aktivitas utama di tengah-tengah masyarakat. Sehingga generasi akan terselamatkan dari mindset-mindset yang merusak.

Sangat disayangkan program-program yang telah dilakukan pemerintah saat ini tidak menyentuh akar permasalahan yang terjadi di masyarakat. Justru yang ada malah menjadikan pergaulan bebas menjadi legal. Pergaulan anak zaman sekarang inilah yang sangat mengkhawatirkan.

Oleh karena itu, butuh solusi yang menyentuh akar masalah. Sebab program tersebut lahir dari ide liberalisme sekuler. Dimana agama tidak boleh ikut campur dalam urusan pribadi atau area privat, khususnya tentang hubungan seksual.

Jadi, selama yang diterapkan adalah sistem liberalisme sekuler bukan lah Islam, maka permasalahan HIV/AIDS ini tidak akan pernah kunjung usai.

Setiap permasalahan yang ada di dunia ini, Islam punya solusi termasuk permasalahan HIV AIDS ini. Sebagai seorang muslim perlu cerdas dan harus peduli terhadap permasalahan yang ada di masyarakat. Sehingga umat tidak terbawa arus akan hal-hal negatif. Kemudian seorang muslim juga perlu memahami Islam. Sebab memahami Islam adalah kewajiban seorang muslim tidak terkecuali generasi muda saat ini. Kita perlu memahami Islam untuk bisa memahami setiap solusi akan permasalahan yang ada di kehidupan.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 5

Comment here