Opini

Jangan Takut Mengangkat Sejarah Kegemilangan Islam

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Novriyani, M.Pd. (Praktisi Pendidikan)

Wacana-edukasi.com — Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Bangka Belitung (Babel) membuat kebijakan yang mewajibkan siswa SMA/ SMK se-Babel membaca buku Muhammad Al-Fatih 1453 karya Felix Siauw untuk meningkatkan minat literasi siswa. Namun, hal ini justru menuai protes dari berbagai elemen masyarakat sebab, penulis buku tersebut adalah aktivis HTI dimana HTI merupakan ormas yang dilarang oleh pemerintah.

Hal ini seperti yang disampaikan oleh Ketua Pimpinan Wilayah Nahdatul Ulama (PWNU) Babel, KH Jaafar Siddiq, mengatakan pihaknya telah mengirimkan surat teguran kepada Gubernur Babel untuk menindaklanjuti perihal surat kepala Dinas Pendidikan Babel. “Tadi pagi saya sudah menghubungi kepala Dinas Pendidikan Babel, terkait surat perintahnya ke sekolah-sekolah untuk membaca dan merangkum buku” Muhammad Al-Fatih” karya Felix Siauw dan ternyata beliau sendiri belum pernah membaca buku ini. Selain itu, Kadis Pendidikan Babel tidak tahu bawah Felix Siauw merupakan aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), sebuah organisasi yang dilarang pemerintah Indonesia (iNews.id 2/10/2020).

Pernyataan lain pun disampaikan oleh Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah mengkritik keluarnya instruksi dari Kepala Dinas Pendidikan Bangka Belitung Muhammad Soleh kepada para siswa SMA/SMK di Bangka Belitung untuk membaca buku tokoh Hizbut Tahrir, Felix Siauw, berjudul “Muhammad Al-Fatih 1453”. “Seperti kita tahu, penulis buku itu adalah tokoh organisasi yang dibubarkan oleh pemerintah karena asas organisasinya berlawanan dengan pancasila.” Basarah menilai instruksi itu kontroversial karena penulis buku tersebut merupakan tokoh organisasi berideologi khilafah yang telah dibubarkan oleh pemerintah sehingga instruksinya dianggap bertentangan dengan ideologi pancasila (VIVA.co.id 3/10/2020).

Miris, jika elemen masyarakat maupun para politis beranggapan buku-buku yang mengusung sebuah materi keislaman dinilai bertentangan dengan ideologi pancasila dan akan menjadi propaganda terselubung dalam pengusung ideologi transnasional.

Oleh sebab itu, pemerintah ingin menghilangkan memori kejayaan Islam bagi generasi saat ini. Generasi saat ini seakan dijauhkan dari pemahaman Islam. Sehingga yang ada dalam memori mereka hanya bangsa barat yang berhasil memberikan kejayaan untuk negeri ini.

Di sisi lain, seakan mengkonfirmasi pemerintah tidak memahami urgensitas dari sejarah kejayaan Islam bagi keberlangsungan kehidupan bangsa dan generasi.

Padahal sejarah kejayaan Islam memuat informasi penting bagi generasi seperti karakteristik perjuangan pemimpin-pemin Islam dalam menaklukan negeri-negeri barat. Dengan mempelajari sejarah, para generasi memiliki informasi mengenai peristiwa yang pernah terjadi.

Dalam Islam, sejarah diposisikan sebagai mata pelajaran penting untuk diajarkan ke generasi. Sejarah dijadikan sebagai tsaqofah Islam dimana hal ini dijadikan sebagai informasi atau pengetahuan yang dipengaruhi oleh akidah dan pandangan hidup.

Selain itu, negara juga memiliki andil yang besar dalam menyaring informasi atau pengetahuan dari sejarah. Adapun hal yang akan dilakukan oleh negara yaitu memfalidasi jalur-jalur sejarah beserta informasinya. Dalam hal ini khalifah atau pemimpin akan menunjuk para ahli sejarah, sirah, hadist dan keahlian terkait untuk melakukan riset sejarah. Kemudian, hasil riet sejarah akan menjadi dokumen politik dan hukum negara.

Hasil riset dalam negara Islam harus memuat dua hal yaitu, pertama memuat aturan Islam dalam segala hal, baik yg menyangkut individu, masyarakat, maupun negara.

Kedua, memaparkan bagaimana sistem khilafah diterapkan dalam mengatur urusan umat seperti politik, ekonomi, pergaulan, dll.
Pengetahuan sejarah juga akan disampaikan sebagai Tsaqofah Islam sesuai dengan level atau jenjang pendidikannya. Untuk level dasar, menengah, dan atas sejarah akan diajarkan guna untuk menancapkan pemahaman Islam tentang kehidupan, diambil dari kisah sirah nabi maupun para sahabat nabi yang berjuang dalam membela Islam, kemudian dapat diambil ibroh dari setiap peristiwa dari sirah tersebut.

Sedangkan dalam level perguruan tinggi, sejarah diajarkan untuk memahami pola pikir bangsa dan umat lain untuk kepentingan interaksi dan pengembangan dakwah. Dengan begitu, generasi suatu bangsa menyadari akan pentingnya dakwah dalam menyebarkan nilai-nilai Islam di tengah-tengah masyarakat.

Begitulah gambaran negara Islam dalam menumbuhkan pola pikir bangsa dalam memahami hakikat dari kejayaan Islam dalam menaklukan negeri-negeri barat.
Wallahu’alam

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 4

Comments (1)

  1. blank

    Keren mbak Novi, 👍👍👍

Comment here