Bahasa dan SastraCerbung

I’m A Journalist (Part 9)

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Ummu Haneem

Bertemu si Bos

PoV Sherly

Wacana-edukasi.com — Aku tetap melangkahkan kaki ke luar rumah, meski Alex sempat menahanku untuk tidak pergi. Hanya saja, masa lalu Alex yang tiba-tiba muncul, entah kenapa membuat batinku bergejolak. Ada rasa tak rela saat dia menyebut Andini adalah sosok perempuan yang manis, lemah lembut, dan memiliki banyak tsaqofah. Bahkan, Alex pun menyebut perempuan berhijab syar’i itu juga sering mengisi berbagai majelis ilmu.

Alex, pasca bertemu dengannya, kau tampak melamun. Pikiranmu kalut. Apakah kau tengah memikirkan perempuan itu?

Ah, sudahlah. Kenapa aku harus memikirkannya? Hufttt …. Apa aku telah dilingkari oleh api cemburu? Nggak mungkin! Hal itu nggak mungkin terjadi padaku! Aku baru saja mengenal Alex. Tidak mungkin aku memiliki rasa padanya dalam waktu secepat ini. Apa kata dunia?

Sherly Mayya Salsabila, ada apa denganmu? Bukankah kamu adalah sosok perempuan yang selama ini tidak mau terlibat urusan asmara? Kenapa kini justru kamu merasakan perasaan yang begitu aneh menjalar di dada?

Ya Allah, aku pasti sudah gila. Ini benar-benar gila! Butiran kristal bening meluncur keluar tanpa permisi dari kedua sudut matanya. Apakah ini yang namanya cinta?

*

“Hei, elo bukannya masih libur cuti, ya? Kok, sudah ada di sini, sich? Pengantin baru, ada apa, nich? Elo nggak lagi ada masalah dengan Alex, kan?” Sofia berdiri menyejajari sahabat karibnya di depan lift yang ada di lantai dasar.

“Pertanyaan kamu seperti tembakan peluru saja. Beruntun, tiada henti.” jawab Sherly, kemudian masuk ke dalam lift.

“Hehe .. Iya dech, maafin gue ya, Ny. Alex! Jangan jutek gitu donk! Senyum, please!” Sofia menelangkupkan kedua tangannya di depan dada untuk meminta maaf kepada sahabatnya.

“Iya, gue maafin.” Senyum Sherly mengembang di bibirnya.

“Nah, gitu, dong. Sher, sebenernya gue seneng banget Elo udah balik kantor. Tahu nggak, sich. Beban tugas gue jadi berlipat-lipat saat Elo nggak ada di sini. Pusing banget gue.”

“Tadi nanya-nanya terus kenapa gue balik kantor secepat ini. Sekarang, elo bilang seneng. Yang bener yang mana, Sis? Jujurlah padaku! Jangan ada dusta di antara kita, Sobat.” Sherly mencairkan atmoster pagi hari supaya mood-nya segera pulih.

“Hahaha ….” Sofia tergelak mendengar celoteh Sherly.

Sherly dan Sofia termasuk karyawan senior di tempat kerja tersebut. Keduanya selalu menunjukkan hasil kerja yang memuaskan. Dari sisi kedisiplinan, tak perlu dipertanyakan. Keduanya sangat disiplin. Selama bekerja di perusahaan tersebut, mereka belum pernah datang terlambat. Saat mendapat tugas dari si Bos, mereka juga menyelesaikan tugas-tugasnya tepat waktu. Pekerjaan mereka perfect. Maka dari itu, perusahaan begitu bangga akan prestasi keduanya.

“Alhamdulillah, sudah sampai. Semangat!” Sofia meregangkan kedua tangannya. “Pagi ini langit begitu cerah ya, Sher?”

“Emmm, iya.” Sherly mencoba bersikap biasa seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Hatinya mendung, tapi dirinya tidak siap untuk berbagi kisahnya. Apa kata sahabatnya nanti kalau sampai mengetahui apa yang sedang terjadi dengan rumah tangganya.

“Sher?”

“Iya?”

“Kamu, baik-baik saja, kan?” tanya sahabatnya lagi. Meski Sherly bersikap biasa, namun Sofia mencium aroma masalah yang sedang ditutupi oleh sahabatnya. Sudah lama keduanya saling mengenal, Sofia tentu paham betul akan karakter sahabatnya itu.

“I’m fine. Harus berapa banyak lagi aku menjelaskan kalau aku baik-baik saja, Sofia?” Sherly mulai meninggikan nada suaranya.

“Hahaha … okelah kalau begitu. Ingat! Jika kamu butuh teman cerita, aku selalu siap untukmu.”

“Oke, Girl.” Sherly menerbitkan seulas senyuman.

“Selamat pagi, semuanya.” Suara seorang pria menyapa para karyawan yang dilaluinya.

“Selamat pagi, Bos.” satu per satu karyawan berdiri menyambut kedatangan bos mereka.

Adi Prayikno adalah nama bos mereka. Di usia yang hampir menginjak kepala tiga, bos itu pun masih setia nge-jomblo. Pria berkaca mata dengan tampang cakep, penampilan super keren, dan berwibawa. Namun, hingga detik ini belum ada pasangan yang mendampinginya. Si bos adalah nama julukan yang diberikan oleh para karyawan untuknya. Si bos terkenal disiplin dan perfeksionis. Jika dia mendapati karyawannya tidak serius dengan pekerjaannya, tak segan-segan dia akan menegurnya.

Sherly berdiri dan hendak melangkah ke ruang si bos. “Sher, mau ke mana?” tanya Sofia.

“Mau ketemu si Bos. Ada urusan penting.” jawab Sherly pelan.

Sampai di depan pintu ruangan si Bos, Sherly mengetuk pintu. “Bos, ini Sherly. Bolehkah saya masuk ke ruangan anda?”

“Oke, silakan.” jawab si Bos dari dalam ruangannya.

Sherly memasuki ruangan si Bos. “Selamat pagi, Bos. Mohon maaf menganggu.”

“Selamat pagi. Silakan duduk, Sher! Ada keperluan apa?”

“Saya ingin menanyakan laporan saya beberapa waktu lalu. Apakah anda sudah melihat foto dan laporan yang sudah saya berikan?”

“Laporan yang mana? Banyak sekali naskah yang masuk ke email saya. Saya tak bisa mengingatnya satu per satu.”

“Saya memberikannya langsung kepada Anda dua hari yang lalu di ruangan ini. Saya tidak mengirimnya via email,” ucap Sherly dengan penuh penekanan untuk menunjukkan bahwa dia berkata benar.

“Oh … yang itu. Baiklah, nanti akan saya cari. Kamu tenang saja, Sher.” Bos Sherly menepuk jidatnya.

“Aneh. Tidak biasanya si Bos bersikap seperti ini. Dia adalah orang yang perfect. Tidak mungkin melewatkan satu naskah pun untuk dibacanya. Dia juga bukan tipikal orang yang pelupa. Setiap kali ada naskah yang masuk, dia pasti akan melakukan monitoring. Meski ada si Edo, sang editor, tetap saja dia ikut turun tangan. Dia tidak mau ada kesalahan sedikit pun.” batin Sherly.

“Sher, Bukankah kamu masih dalam masa cuti? Kenapa sudah masuk kerja?” si Bos mengalihkan pembicaraan mereka.

“Oh, itu Pak. Saya bosan di rumah terus.”

“Hmmm, lebih baik kamu menikmati masa liburanmu. Sekali-kali pikirannya dibikin enjoy. Jarang sekali, kan, kamu meminta izin cuti. Mumpung saya masih berbaik hati untuk memberimu cuti.”

Sherly merasa bingung dengan pernyataan si Bos. Memang benar. Tidak seharusnya dia kembali ke kantor dalam waktu secepat ini.

“Hmmm … it’s because of you, Alex.” Tanpa sadar Sherly tengah diamati secara intens oleh pria berkaca mata yang ada di hadapannya.

Pria berkaca mata itu sebenarnya telah menaruh hati pada Sherly. Selama ini dia sering memberikan beberapa perhatian kecil padanya, namun perempuan di hadapannya itu tidak mampu membaca sinyal yang diberikannya. Sherly terlalu asyik dengan naskah-naskahnya. Sementara, dirinya pun terlalu sibuk menghandle berbagai urusan. Alhasil, saat dirinya hendak serius menyampaikan maksudnya untuk mempersunting Sherly menjadi bidadarinya, ternyata Sherly telah menjatuhkan pilihannya kepada Alex. Sebuah surat undangan berwarna merah muda berpadu dengan biru laut tergeletak di atas meja kerjanya. Saat membaca undangan itu, dirinya terkulai lemas. Sudah terlambat. Pak Bos patah hati. Cintanya bertepuk sebelah tangan.

“Bos, soal laporan saya waktu itu. Benarkah Anda tidak mengingatnya sama sekali? Kalau laporannya hilang, Bos tidak perlu khawatir. Saya bisa mengirim ulang. Yang jelas kita harus membuka kebusukan pria berkepala botak itu. Dia telah merampok uang negara. Ini tidak boleh dibiarkan. Masyarakat harus mengetahui kebenarannya.”

“Apa kamu bilang?” Pria berkaca mata itu tiba-tiba berdiri dan geram kepada Sherly.

“Maaf, Bos. Apakah ada kata-kata yang salah? Saya minta maaf.” ujar Sherly sambil bergidik ngeri. Baru kali ini dirinya mendapati si Bos-nya geram seperti itu. Bos yang terkenal ramah, namun tegas kepada seluruh karyawannya, tiba-tiba saja marah untuk sesuatu hal yang sulit dipahami.

“Keluarlah, Sher! Aku sedang sibuk. Oh ya, saranku kamu hapus saja file sekaligus isi video itu.”

“Apa?” Sherly begitu terkejut dengan ucapan si Bos. Dirinya tak pernah menyangka si Bos-nya akan berkata demikian. Pantas saja, laporan yang disampaikannya beberapa waktu lalu belum tayang sampai sekarang. “Ada apa dengan si Bos?” Pikiran Sherly melayang-layang di udara.

“Sher, keluarlah!” Adi masih menunjukkan kemarahannya.

“B-baik, Pak. Saya permisi.”

Sherly berjalan kembali ke ruang kerjanya dengan langkah gontai. Sofia yang melihatnya mencoba menggodanya. “Hai, apa yang terjadi? Gurat wajahmu hari ini begitu suntuk, Nona. Aku tidak suka melihatnya,” goda Sofia. Namun, lawan bicaranya tidak meresponsnya.

“Hei!” Sofia terpaksa menyenggol lengan kiri Sherly dan menyadarkannya dari lamunannya.

“Oh, iya. Ada apa Sofia?”

“Aku bertanya, kau balik nanya. Kenapa kamu tadi ke ruang Pak Adi?”

“Aku menanyakan laporan yang kuserahkan padanya dua hari yang lalu. Tapi, aneh. Baru kali ini sikapnya seperti itu. Barusan Pak Adi marah padaku dan memintaku untuk tidak mempedulikan kasus yang saat ini masih bergulir. Kamu tahu kan, kasus korupsi yang menyeret pria berkepala botak masuk jeruji? Aku dapati pria itu tengah menikmati surga dunia di Bali. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri dan mengambil fotonya. Apa kamu tahu? Karena foto itu, aku dan suamiku pulang lebih awal dari bulan madu kami. Ada seorang pria memakai penutup kepala mengancamku.”

“Oh, ya?” Sontak Sofia terkejut dengan cerita rekannya. “Ini kasus serius, Sis. Tapi, kenapa si Bos malah nampak tak berkenan dengan apa yang telah kamu lakukan? Kita harus selidiki ini, Sher.”

“Kamu benar. Kita tidak boleh membiarkan koruptor itu bebas berkeliaran tanpa dosa. Kita harus melakukan sesuatu.”

Di setiap ruangan tempat mereka bekerja telah dipasangi CCTV. Saat Sherly dan sahabatnya tengah asyik berbincang, sepasang mata mengamati mereka.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 1

Comment here