Bahasa dan SastraCerbung

I’m A Journalist (Part 6)

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Ummu Haneem

Penolakan

Wacana-edukasi.com — Pukul 06.00 WITA Alex dan Sherly tengah berada di Bandara Internasional Ngurah Rai. Sherly menyetujui ajakan sang suami untuk segera kembali ke Jakarta karena dirinya ingin menyelamatkan bukti foto yang pernah dia ambil. Ditambah lagi, kejadian di area parkiran di sebuah pusat perbelajaan. Tentunya, kedua peristiwa tersebut akan menjadi berita yang sangat menarik jika dirilis. Sherly sudah tidak sabar untuk melaporkan berita yang dia dapatkan pada atasannya.

“Lihat saja nanti! Akan kubuat beritanya semenarik mungkin biar publik tahu apa yang tengah terjadi. Seorang tersangka bisa menginap di hotel berbintang lima di Bali? Hah, tidak lucu! Apa kalian kira rakyat akan diam begitu saja kalau terus-menerus dibohongi? Jangan mimpi!” Sorot mata Sherly begitu tajam. Api kemarahan tampak jelas di matanya.

“Sher, are you okay? Let’s go now!” seru Alex. Namun, tak ada respons. Sherly masih sibuk dalam angannya. “Sher, let’s go! Nanti kita ketinggalan pesawat.” Alex menarik lengan Sherly dan setengah berlari. Sherly yang kebingungan hanya mengikuti saja apa yang dilakukan oleh sang suami.

Satu jam kemudian,

“Tuan muda, saya di sini.” Alex melihat ke arah sumber suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya.

“Pak Wingky, apa kabar?” tanya Alex kepada sopir pribadinya.

“Alhamdulillah, kondisi saya seperti yang Tuan lihat. Sehat. Tiga hari tidak bertemu tuan muda rasanya kangen sekali. Hehe ….”

“Ada-ada saja, Pak Wingky ini. Oh, ya, Pak, ini istri saya. Namanya Sherly Mayya Salsabila. Pak Wingky panggil saja Nyonya Alex.”

“Yach, Tuan. Sudah memperkenalkan Nyonya dengan nama panjangnya, eh, ujung-ujungnya manggilnya Nyonya Alex. Cieee … yang sudah punya soulmate. So sweet gitu, loh!”

Kedua lelaki tersebut tertawa renyah. Meski hubungan keduanya adalah majikan dan sopir pribadi, namun mereka tampak akrab. Lelaki berusia 40 tahun itu sudah seperti sahabat bagi tuan mudanya. Sementara, Sherly yang dijadikan sebagai bahan pembicaraan jadi salah tingkah.

“Oh, ya, Tuan, mari saya bantu membawakan barang-barangnya.” Pak Wingky menurunkan semua barang dari troli dan meletakkannya di bagasi mobil. “Silakan, Tuan dan Nyonya naik!” Pak Wingky mempersilakan kedua majikannya dengan ramah dan sopan.

Menempuh perjalanan dari bandara Soekarno-Hatta menuju rumah Alex memakan waktu 45 menit. Seperti biasa, kemacetan menghiasi jalanan ibu kota. Sungguh pemandangan yang tak sedap! Orang pergi ke sini untuk mengundi nasib. Mereka bekerja meninggalkan kampung halaman tercinta. Uang yang terkumpul dikirim untuk anak istri, sementara mereka makan ala kadarnya. Apalagi, sebagai pusat pemerintahan. Alhasil, kota Jakarta menjadi Kota Metropolitan yang sangat padat penduduk. Para pengguna jalan harus memiliki kesabaran ekstra.

Lepas dari kemacetan, mobil yang ditumpangi ketiganya bergerak menuju hunian kawasan elit hingga akhirnya mobil berhenti tepat di depan pintu gerbang, Sherly yang sedari tadi menahan kantuk kini membuka matanya lebar-lebar. Pak Wingky turun dari mobil sejenak dan memencet remot kontrol. Pintu tersebut membuka secara otomatis. Begitu gerbang terbuka dan memasuki halaman, Sherly tercengang. Rumah kediaman suaminya begitu mewah, lebih besar dibandingkan dengan rumah yang dia tempati dengan sang kakek.

“Bisnis apa yang digeluti oleh Alex? Rumahnya begitu mewah. Hmm, benarkah Kakek memilihkanku seorang lelaki yang tepat? Bagaimana kalau laki-laki yang ada di sampingku ini juga seseorang yang suka menghalalkan berbagai macam cara untuk memuluskan bisnisnya? Oh, no!” Sherly refleks menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Sherly, what’s wrong with you? Kita sudah sampai. Ayo, turun!” Ajak Alex pada istrinya.

“B-baiklah.” Sherly tergagap karena kaget.

Alex berjalan menuju pintu utama. Dia menggesekkan sebuah kartu untuk membuka pintu rumahnya. “Sher, ini untukmu. Kamu bawa saja. Masing-masing dari kita yang tinggal di sini sudah memiliki kartu ini. Hanya orang-orang pemegang kartu ini saja yang bisa keluar-masuk hunian ini. Do you understand?”

“Yes, I do,” jawab Sherly singkat.

Memasuki rumah, Sherly semakin tercengang. Hunian berwarna emas gading itu benar-benar telah membuatnya jatuh cinta. Desain interiornya begitu menakjubkan. Alex seolah-olah mengerti apa yang disukainya. “This house is amazing. I love it very much.”

Alex melihat rona bahagia di wajah istrinya. Dengan memandang wajahnya saja Alex paham bahwa Sherly menyukai hunian tersebut. Alex pun tersenyum puas. “Sher, ayo ke atas!”Alex menunjuk ke arah tangga yang terhubung ke lantai dua.

Sherly mengangguk dan mengikuti langkah suaminya. Hingga di depan sebuah pintu, Alex berhenti. Silakan masuk! This is our room, Sherly.” Alex mengerlingkan mata kanannya.

“Hmmm … kamu suka sekali menggodaku. Apa itu sudah menjadi kebiasaanmu?” Sambil berucap demikian, Sherly langsung masuk kamar begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih.”

Alex pun masuk, lalu menutup pintunya. Ceklik. “Kebiasaan? Bagus juga ide kamu. Nggodain istri akan menjadi kebiasaan baruku. Oke, fix.” Alex terkekeh.

“Nggodain istri?!!! Aku tidak percaya. Kamu nampak begitu lihai. Bisa jadi, aku adalah perempuan ke sekian yang kamu goda.” Suara Sherly agak meninggi.

“Honey, jangan seperti itu. Aku adalah suamimu.” Tangan kanan Alex mencubit hidung mancung istrinya. Tangan kirinya, melingkar di pinggang sang istri. “Sher, dengarkan aku, Sayang. Status kamu sekarang adalah sebagai Nyonya Alex. Kamu adalah wanita yang telah kunikahi secara sah beberapa waktu lalu. Jadi, kalimat rayuan ataupun gombalan itu sah-sah saja disampaikan. Perlu kamu tahu, meski aku lebih banyak tinggal di Jerman, tapi aku tidak pernah merayu ataupun menjamah wanita mana pun. Aku selalu membatasi diriku saat berkenalan dengan perempuan. So, you are the first.”

Satu sisi Sherly merasa bahagia. Itu artinya, dia beruntung. Di sisi yang lain, terselip rasa bersalah karena telah berprasangka buruk terhadap Alex. “Alex, forgive me, please?”

“For what?”

“Aku telah berprasangka buruk padamu tadi. I’m sorry.”

“It’s oke. No problem. Forget it, please!”

“Thank you,” Sherly tersenyum.

“Senyummu begitu manis. Apa kamu tahu, senyummu itu membuatku jatuh cinta. Sher?”

“Iya ….” jawab Sherly sambil menatap wajah suaminya.

“Bagaimana kalau kita menyempurnakan ibadah kita sebagai pasangan yang halal? Bolehkah?”

“Alex, sorry. I can’t do it now.” Sherly melepaskan diri dari pelukan Alex dan pergi ke kamar mandi.

“Oh, my God. Hampir saja aku masuk jeratan Alex. Oh, no! Aku tidak boleh lemah. Puncak karirku sudah di depan mata. Aku harus bertahan. Harus!” Sherly bermonolog seorang diri di depan cermin yang ada di dalam kamar mandi.

Sementara itu,

Telepon kamar berdering meminta si empunya untuk mengangkatnya.

“Assalaamu’alaykum. Tuan muda, Anda dan Nyonya ingin dimasakkan apa untuk makan siang?”

“Wa’alaykumussalam warohmatullaahi wabarokaatuh. Oh, Bibi. Minta tolong buatkan sup jamur tiram, sambal terasi, fried chicken, dan jangan lupa tempe goreng kesukaan saya. Untuk minumannya, cukup teh hangat saja.”

“Baiklah, Tuan. Bakda zuhur InshaaAllah makanan siap tersaji di meja makan.”

“Terima kasih, Bi.”

“Iya, Tuan. Ini sudah menjadi tugas saya. Tuan tenang saja. Tuan muda, Bibi minta maaf jika sudah menganggu.”

“Hehe … iya Bi, tidak apa-apa.”

“Alhamdulillah, kini Tuan sudah memiliki pasangan hidup. Tuan orang baik, makanya dapat istri cantik. Mereka pasangan yang cocok.”gumam Bi Ijah seorang diri.

Alex dan Sherly makan siang bersama. Belum ada pembicaraan di antara keduanya selepas kejadian penolakan yang dilakukan oleh Sherly. Setelah menerima telepon, Alex langsung pergi ke alam mimpi. Menikmati tidurnya hingga menjelang zuhur dia baru bangun. Itu pun sang suami langsung ke kamar mandi mengambil wudu dan baru berbicara lagi padanya saat Alex mengajaknya menunaikan salat Zuhur berjemaah. Sementara Sherly, selama Alex tidur dia menikmati me time-nya. Dia manfaatkan peluang emas tersebut untuk menulis karena besok pagi dia berencana pergi ke kantor untuk menyerahkan data yang dimilikinya kepada Big Boss.

Bi Ijah pun merasakan suasana yang tidak nyaman tengah terjadi di antara Tuan dan nyonyanya. Tapi, Bi Ijah memilih diam, tidak banyak bertanya. Dalam hati dia mendoakan semoga tuan muda dan nyonyanya selalu diberikan limpahan kebahagiaan oleh Allah dan tak lama lagi mereka akan diberikan momongan.

Alex masih memilih diam. Bukan karena kecewa atas penolakan yang dilakukan oleh wanita yang telah sah di nikahinya itu karena dari awal sebelum pernikahan terjadi, Sherly sudah mengajukan permohonan mengenai hal tersebut. Jadi, Alex tidak kaget saat ditolak. Hanya saja, apa yang dipikirkan oleh sang istri sampai berani melakukan penolakan? Tidakkah dia mengetahui hadis Rasulullah:

Abu Hurairah berkata Rasulullah saw. bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, tidaklah seorang suami mengajak istrinya ke ranjang (untuk berjima’) sedangkan dia (istri) enggan, melainkan yang ada di langit dia muka kepadanya sampai suaminya memaafkannya.” (H.R. Muslim)

“Hmm … kini Sherly adalah amanahku. Aku punya PR cukup serius. Ya Allah, mohon berikanlah bimbingan bagi hamba-Mu ini. Semoga hamba bisa menjadi imam yang baik untuk istri hamba dan memiliki kemampuan untuk mengajaknya meniti jalan menuju jalan Engkau ridloi.” Sambil menikmati sajian menu makan siang, pikiran Alex jalan-jalan untuk menggapai firdaus.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 2

Comment here