Cerbung

I’m A Journalist

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Ummu Haneem

PART 4
Surat Ancaman

Wacana-edukasi.com — Alex menunaikan salat malam, berlanjut membaca Al-Qur’an. Meski keturunan Indo-Jerman, rupanya lelaki itu begitu fasih melafazkan makhraj huruf-huruf hijaiah. Tajwidnya juga sudah benar. Ditambah lagi, suaranya begitu merdu. Sherly yang sedari tadi masih ingin bermalas-malasan di atas ranjang menjadi terbuai karenanya. Ada sebuah perasaan tentram yang tiba-tiba menyelimuti hatinya. Dia melirik ke arah samping di mana sang suami sedang membaca ayat demi ayat Al-Qur’an dengan khusyuk.

“Dari mana dia belajar Al-Qur’an?” batin Sherly. Tak lama setelah itu, dirinya menyelimuti tubuhnya lagi untuk melanjutkan tidur.

“Sher, ayo bangun! Salatlah dulu, Sayang!” Alex membangunkan sang istri dengan lemah lembut.

Serasa ada hawa panas menjalar ke seluruh tubuh padahal kamar itu menggunakan pendingin ruangan. Kata “Sayang” yang diucapkan oleh sang suami telah membuat hatinya meletup-letup, namun dia berupaya untuk menepis semua rasa dan bersikap biasa seolah-olah tidak terjadi apa-apa. “Nanti saja … belum saatnya salat subuh. Aku masih ngantuk,” jawab Sherly dengan malas. Lalu, menaikkan selimut hingga menutupi wajah cantiknya.

“Okay, aku temani, ya?”ucap Alex sambil mendaratkan lengannya memeluk Sherly.

Sontak saja Sherly kaget. Dia membuka sebagian selimut yang menutupi wajahnya. Dia berusaha melepaskan diri dari pelukan Alex. “Alex, lepaskan! Aku tidak bisa bernapas.”

“Tidak mau. Aku tidak semudah itu untuk kamu bodohi, Nyonya Alex. Tidak ada kaitannya antara pelukan dan tidak bisa bernapas. Atau … jangan-jangan jantungmu sedang berdebar-debar karena ini kali pertama kamu berdekatan dengan seorang pria? Lagi pula, kamu yang telah memancingku untuk mendatangimu, betul, kan?” Alex mempererat pelukannya dan mendaratkan kecupan singkat di pipi kiri Sherly.

“Kamu? Kamu mencuri kesempatan dariku?”

“Mencuri? Kenapa harus mencuri? Bukankah kita sudah menjadi pasangan yang halal? Jadi, kapan pun aku mau, aku bisa menciummu dan bahkan meminta hakku. Betul, kan, Sayang?” Alex mengerlingkan mata kanannya kepada sang istri dan sekali lagi mencium pipi kiri sang istri. Entah kenapa dia ingin sekali menggoda istrinya yang super bawel.

“Kamu?” Sherly mendengkus kesal. Namun, dia tak bisa menolak perlakuan suaminya.

“Izinkan aku tidur sebentar. Tolong, bangunkan aku saat azan Subuh berkumandang.” Alex memiringkan badannya menghadap sang istri. Lalu, menyandarkan kepalanya di bahu Sherly.

Napas Sherly kembang kempis. Jantungnya berdegup kencang. “Kapan adzan Subuhnya? Kenapa lama sekali? Satu … dua … tiga ….” Akhirnya Sherly pun tertidur.

*

“Sher … ayo bangun!” Sebuah suara lembut membangunkan Sherly.

Sherly mencoba membuka matanya yang masih terasa berat. “Alex? Aku?”

Alex tersenyum. “Sudahlah, ayo segera bangun. Kita tunaikan salat Subuh berjamaah”.

Sherly mengambil wudu dan bersiap mengenakan mukena untuk menjalankan salat Subuh berjemaah dengan imamnya.

Seusai salat, Sherly mencium punggung tangan suaminya. “Alex, aku minta maaf. Aku tertidur. Jadi ….”

“Iya, tidak apa-apa. Oh, ya, kita harus bergegas pergi dari tempat ini. Tempat ini sudah tidak aman lagi.”

“Kenapa kita harus pergi? Aku belum sempat jalan-jalan di kota ini. Aku mau shopping dulu sampai puas,” jawab Sherly dengan nada sedikit kesal.

“Apa kamu tidak ingat kejadian semalam? Seseorang telah membuntuti kita. Apa kamu sudah berbuat sesuatu yang mendatangkan bahaya bagi kita?” Alex menginterupsi Sherly.

“Dengar ya, tidak ada kata “takut” dalam kamus Sherly Mayya Salsabila. Sudahlah, aku ingin menikmati hari ini dengan berbelanja sepuas-puasnya.”

“Ya, sudah … kalau itu sudah menjadi keinginan Nyonya Alex. Saya siap mengantar Nyonya. This day is for you.” Alex memilih untuk mengalah. “Berdo’a saja semoga tidak terjadi apa-apa dengan kita.”

Sherly senang karena keinginannya dituruti. “Oke, kata Kakek kamu adalah seorang pebisnis sukses. Siap-siap saja akan kukuras ATM-mu,” gumam Sherly lirih. Tentu saja Alex tidak mendengarnya.

*

“Sher, belanjamu banyak sekali. Lihat ini! Sudah ada lima tas belanjaan, apakah semuanya ini belum cukup? Ayo, pulang. Lain kali kita bisa belanja lagi. Aku janji padamu.”

Sherly tidak menghiraukan perkataan Alex. Dia tersenyum puas karena berhasil membalas perlakuan suaminya kepadanya. “Hmmm … ini adalah pembalasan dariku karena kamu berani macam-macam padaku tadi pagi,” batin Sherly.

“Alex, lihat! Kita ke sana yuk! Aku mau baju yang dipasang di etalase itu. Cantik bukan bajunya?”

“No. Please, choose another.”

“Why? Aku ingin baju itu.” Sherly bersikukuh meminta persetujuan suaminya.

“Ikuti aku. Aku lapar. Kita makan dulu.” Alex mengalihkan pembicaraan supaya tidak terjadi perdebatan yang berkepanjangan.

“Tapi …. “

“Ayo!”

Sherly berjalan di belakang Alex. Begitu sampai di sebuah tempat makan di dalam mall, keduanya berhenti.

“Sherly, come on. Sit down here, please!” pinta Alex.

Sherly mengikuti perintah Alex. Dia duduk dan menyilangkan kakinya. Sementara, tangannya mengetuk-ngetuk meja pelan.

“Ada apa dengan dirimu, Nyonya Alex? Kamu tampak sedang tidak baik-baik saja. Ayolah, kita nikmati makan siang kita dulu dengan rileks. Tersenyumlah, jangan cemberut seperti itu. Kamu tahu, kalau kamu sedang marah kamu semakin cantik.”

“Apa? Kamu terus saja menggodaku. Ini tempat umum.”

“Oke, Nyonya Alex. Siap.” Alex meraih tangan kanan Sherly dan mengusap-usap punggung tangannya, lalu berkata “Sayang, apakah kamu masih menginginkan pakaian tadi?”

“Tentu saja.”

“Are you sure?”

“Yes, I am sure.”

“Apa kamu telah lupa, aku ingin istriku yang cantik ini tubuhnya dibalut pakaian syar’i secara sempurna. Sayang, aku menyayangimu karena Allah karena itu aku sebagai imammu memintamu untuk merubah tampilana busanamu.”

“Tapi, permintaanmu itu berat Alex. Apa kata teman-teman kantor nanti? Lalu, apakah bosku akan mengizinkannya? Alex, karirku sedang bersinar. Please, kuharap kamu bisa memahami aku.”

“Tuan, Nyonya, hidangan sudah siap. Silakan dinikmati.” Seorang pegawai rumah makan menyajikan menu pesanan mereka denganku ramah.

“Ayo, makan dulu cantik.”

“Aku tidak mau. Aku tidak lapar.”

“Oke … kalau begitu aku suapi saja ya.”

“Baiklah, aku akan makan sendiri. Tidak perlu menyuapiku seperti anak kecil saja.”

Alex tersenyum.

Sherly membelah fried chicken yang ada di piring. “Alex, apa ini? Ada kertas di dalam ayam goreng ini. Ini tidak boleh dibiarkan. Aku akan sampaikan hal ini kepada bos rumah makan.”

“Wait.” Alex mencegah Sherly berdiri dari tempat duduknya dan mengambil kertas yang ada di tangan kanannya. Dia memeriksa kertas itu dan betapa kagetnya dia. Kertas itu bertuliskan “Serahkan fotonya atau nyawa taruhannya”.

“Ada apa, Alex?”

“Silakan, lihat ini!” Alex menunjukkan isi kertas tersebut kepada Sherly.

“Apa? Berani sekali mereka mengancamku. Sedikitpun aku tidak takut pada mereka.”

“Sher, let’s go now. Tempat ini sudah tidak aman bagi kita.” Alex mengeluarkan uang Rp100.000,00 dan meletakkannya di bawah gelas es teh. Tangan kirinya segera meraih barang-barang belanjaan, sementara tangan kanannya menggenggam sang istri.

“Alex, aku tidak takut sama mereka. Kita berada di pihak yang benar.”

“Kita selamatkan diri dulu. Diamlah. Mereka pasti sudah memasang mata-mata untuk mengekori kita.”

Alex segera mengambil mobilnya di parkiran dan meminta Sherly naik. Namun, mobil tersebut tidak bergerak sedikitpun. “Ada apa dengan mobil ini? Sebentar aku turun dulu. Aku akan memeriksa mobilnya.”

Alex turun dan mengamati kondisi mobilnya.

“Keempat bannnya kempes. Bagaimana bisa? Pasti ini ada kaitannya dengan surat ancaman itu.”

“Alex, tolong aku.” Sherly berteriak minta tolong. Seseorang memakai penutup kepala berwarna hitam dan berpakaian serba hitam telah membuka pintu mobilnya dan menodongkan pisau ke arah leher Sherly.

“Turun. Bawa tasmu kemari.” Pria itu menghardik Sherly.

“Baik”. Sherly menuruti permintaannya.

“Ayo cepat! Serahkan tasmu itu padaku!”

*

Akankah Sherly menyerahkan tasnya kepada pria bertopeng? Simak kelanjutan kisahnya di part berikutnya…

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 1

Comment here