Opini

Duka Dokter, Duka Indonesia

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Ummu Athifa

Wacana-edukasi.com — Kasus covid-19 memperlihatkan keganasannya. Semakin hari kasusnya mengalami peningkatan. Terhitung pada hari Senin, 14 September total korban positif mencapai 214.000 jiwa. Tak heran sebaran virus covid-19 melebar ke seantero wilayah tanah air.

Akibatnya, tenaga medis yang mengemban penyembuhan pasien di garda terdepan menjadi korban. Tercatat terdapat 114 dokter yang meninggal dunia akibat covid-19. Hal itu disampaikan Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, Adib Khumaidi dalam diskusi virtual, Sabtu (12/9/2020). Namun, perlu dicatat tak semua dokter tersebut ditugaskan untuk menangani pasien covid-19 yang tengah diisolasi, karena ada juga yang terpapar covid-19 (kompas.com, 12/09/2020).

Fakta terbaru, ada seorang dokter di Provinsi Riau yang meninggal akibat covid-19. Dia adalah dokter Oki Alfian, meninggal pada hari Sabtu (12/09/2020). Gubernur Riau, Syamsuar tak kuasa menahan tangis ketika memberikan sambutan pada pelepasan jenazah dokter berusia 29 tahun itu. Bukti kalau virus covid-19 dapat menyerang siapapun dan dimanapun (kompas.com, 13/09/2020).

Tenaga medis yang berjuang nyawa tak kenal lelah melawan covid-19. Perlu adanya dukungan dari pemerintah dan masyarakat untuk mencegah tersebarnya virus covid-19. Salah satunya dengan menerapkan protokol kesehatan dengan tertib, tidak keluar rumah jika tidak ada kepentingan mendesak, serta menggunakan masker jika keluar rumah. Selain itu, perlu diperhatikan fasilitas yang memadai dari pemerintah.

Seperti perlengkapan APD (alat pelindung diri) dipastikan selalu tersedia di rumah sakit. Adanya masker secara gratis oleh pemerintah. Tak lupa hand sanitizer tercukupi di setiap pelayanan kesehatan. Ini perlu dikontrol langsung oleh pemerintah.

Adapun hal yang paling utama dalam penanganan covid-19 dengan karantina wilayah. Bukan hanya dengan PSBB total saja, tetapi benar-benar melarang orang untuk datang ke wilayah tersebut ataupun sebaliknya. Ini berguna untuk menekan penyebaran tak meluas ke wilayah lain. Kemudian, pemerintah menjamin seluruh pasokan makanan yang dibutuhkan wilayah yang terkena wabah dengan gratis. Inilah yang diajarkan pula dalam Islam.
Seyogianya, pemerintah janganlah abai terhadapa pelayanan kepada masyarakat. Hiangnya satu nyawa tenaga medis haruslah menjadi duka bangsa ini. Namun, itu tak akan terjadi jikalau negeri ini tidak menerapkan aturan demokrasi. Karena di aturan demokrasi, penguasa hanyalah pembuat kebijakan yang sepihak, tidak berpihak kepada rakyat. Rakyat diminta untuk melayani kesehatannya secara mandiri.

Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Berkaca pada sistem Islam di era keemasan. Betapa, Islam menjadi garda terdepan dalam urusan kesehatan. Sejarah mencatat, bahwa kesehatan termasuk ke dalam kebutuhan primer yang wajib disediakan oleh negara. Seperti kebijakan kesehatan yang dilakukan oleh Muhammad Al-Fatih memberikan pelayanan yang sungguh luar biasa, diantaranya merekrut juru masak terbaik rumah sakit, dokter datang minimal 2 kali sehari untuk visit pasien. Tenaga medis dan pegawai rumah sakit harus bersifat qona’ah dan juga punya perhatian besar kepada pasien.

Sungguh peradaban Islam telah mencontohkan paradigma yang benar tentang kesehatan. Nabi SAW bersabda bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab untuk orang-orang yang dipimpin. Jadi penguasa adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas rakyatnya.

Betapa luar biasanya perhatian Islam terhadap kesehatan di masa itu. Apalagi perhatian terhadap dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Dengan perhatian yang luar biasa pada pasien, maka Islam dapat dipastikan memberikan fasilitas terbaik untuk tenaga medisnya. Berupa tunjangan dan akses pendidikan mudah dan gratis serta sarana prasarana.

Wallahu’alam bi shawab.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 0

Comment here