Oleh: Mekar Sari (Ibu Generasi)
Wacana-edukasi.com, OPINI–Bulan Muharram kembali menyapa, menandai lembaran baru kalender Hijriah. Seharusnya Muharram menjadi momentum untuk membangkitkan spirit hijrah, yaitu berpindah dari keterpurukan menuju kemuliaan. Namun realitanya, umat Islam justru semakin terjerembab. Rupiah anjlok, ekonomi terhimpit, rakyat terjerat judol dan pinjol. Utang negara menumpuk tanpa ujung.
Di sekolah dan pesantren, bullying jadi santapan harian. Korupsi merajalela tanpa rasa malu. Kemiskinan, ekploitasi seksual, krisis moral menjerat erat.
Kekerasan antar pelajar dianggap biasa, sampai tega ada anak yang membunuh orang tuanya sendiri. Di awal Tahun Baru Islam, pertanyaannya adalah: mengapa setiap tahun angka kalender berganti, tetapi kondisi umat tak kunjung beranjak dari lubang yang sama?
Sangat disayangkan, perayaan tahun baru Hijriyah setiap tahunnya diperingati hanya sebatas seremoni dan ritual tahunan, tanpa diikuti pemahaman mendalam tentang makna hijrah yang sesungguhnya. Padahal, Muharram memiliki spirit hijrah yang luar biasa untuk merubah kondisi umat Islam yang sedang terpuruk saat ini menuju kondisi yang lebih baik. Sudah terpuruk di dalam negeri, terpuruk juga di belahan bumi lain. Perpecahan umat yang kini sedang terjadi membuat umat Islam semakin lemah dimangsa Barat penjajah.
Lihat saja, penjajahan yang terjadi di negeri-negeri muslim, genosida di Palestina terus berlangsung. Umat Islam di Gaza dibiarkan kelaparan, sementara para penguasa negeri-negeri Muslim tidak bergerak mengirimkan pasukan. Anak-anak Gaza trauma hingga lukanya membuat enggan berbicara. Entah sampai kapan penjajahan ini berakhir?
Kegagalan Sistem Sekuler Kapitalisme
Bukan tanpa alasan, mengapa kondisi umat Islam saat ini begitu tragis. Krisis dan rusak di segala bidang. Semua ini bermula sejak umat Islam meninggalkan syariat. Ya, sejak manusia menerapkan sistem kehidupan buatan manusia yaitu sekularisme-kapitalisme.
Sistem kehidupan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, serta kapitalisme yang berorientasi pada materi tanpa mempertimbangkan halal dan haram, terbukti gagal menghadirkan keadilan dan kesejahteraan. Krisis dan kerusakan terjadi di berbagai bidang yang kini terjadi di negeri ini menjadi bukti nyata yang terlihat jelas oleh mata. Rakyat semakin terjepit dan sulit menjalani hari-hari, karena harga semakin naik sementara pemasukan tidak naik bahkan nol karena PHK. Jeritan rakyat tak didengar oleh penguasa.
Fakta ini seharusnya membuat umat Islam semakin yakin bahwa kerusakan yang terjadi karena tidak menerapkan sistem Islam. Sekaligus menegaskan bahwa sistem sekularisme-kapitalisme tidak mampu memberikan solusi. Kemuliaan umat Islam pun hilang karena meninggalkan syariat. Wajar, setiap Muharram terlewati tetapi kondisi umat Islam masih jauh dari predikat khairu ummah.
Tahun baru Hijriah setiap tahun hadir menyapa umat Islam di seluruh dunia. Namun, tidak sedikit kaum Muslim yang memaknai pergantian tahun sebatas seremoni, tradisi, atau rutinitas tahunan. Padahal, Muharram adalah momentum untuk mengingat peristiwa hijrah Rasulullah ﷺ yang menjadi titik balik kebangkitan Islam dan umatnya. Hijrah bukan hanya perpindahan dari Makkah ke Madinah, melainkan perpindahan dari kondisi tertindas menuju tegaknya kehidupan yang diatur dengan syariat Allah Swt. secara menyeluruh.
Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah Swt. saja, tetapi juga mengatur aspek sosial, ekonomi, pendidikan, hukum, dan politik. Dengan demikian, hijrah menjadi titik awal lahirnya peradaban Islam yang agung dan mampu membawa rahmat bagi seluruh alam. Muharram adalah sebuah renungan, apakah sudah sesuai dengan syariat Allah hingga menebar rahmat dan kesejahteraan? Ataukah masih jauh dari syariat? Muharram juga momentum untuk memulai kembali agar kembali pada fitrah, meninggalkan maksiat menuju taat. Meninggalkan aturan jahiliyah modern menuju Islam.
Hijrah Politik: Dari Sistem Sekuler Menuju Khilafah
Karena itu, makna hijrah yang harus dibangkitkan pada bulan Muharram bukan sekadar hijrah individu dari maksiat menuju ketaatan. Lebih dari itu, umat harus berhijrah dari penerimaan terhadap sistem sekuler kapitalis menuju kesadaran akan kewajiban menerapkan Islam secara menyeluruh dalam bingkai Khilafah. Umat harus memahami bahwa berbagai problem yang mereka hadapi tidak akan terselesaikan secara tuntas selama akar persoalannya, yaitu penerapan sistem yang bertentangan dengan syariat Islam, masih dipertahankan.
Umat Islam perlu memperkuat pemahaman terhadap ajaran Islam dan berkomitmen untuk menerapkannya secara Kaffah. Umat harus memahami bahwa cara mewujudkan janji Allah berupa tegaknya Khilafah adalah dengan menempuh metode dakwah Rasulullah ﷺ. Oleh karena itu, dakwah Islam harus terus digencarkan agar semakin banyak kaum Muslim yang memahami bahwa Islam bukan hanya mengatur ibadah ritual, melainkan juga memiliki solusi atas berbagai persoalan kehidupan. Dengan dakwah, kesadaran umat akan tumbuh dan semangat perubahan akan semakin kuat.
Selain itu, persatuan umat di atas dasar akidah Islam harus terus diperkuat. Sejarah telah membuktikan bahwa ketika umat bersatu dan menjadikan Islam sebagai pedoman hidup, mereka mampu menjadi kekuatan besar yang disegani dunia. Sebaliknya, perpecahan hanya akan memperpanjang berbagai problem yang dihadapi kaum Muslim.
Muharram bukan sekadar pergantian tahun, tetapi momentum untuk membangkitkan kembali semangat hijrah dalam diri setiap muslim. Saatnya umat bangkit, memperkuat keimanan, mengokohkan perjuangan dakwah, dan berkomitmen mewujudkan Islam kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Dengan demikian, predikat khairu ummah, keberkahan, kemuliaan, dan rida Allah Swt. dapat diraih baik di dunia maupun di akhirat.
Khatimah
Muharam, salah satu bulan yang dimuliakan sebagaimana sabda Baginda Nabi saw., “Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram, tiga berurutan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, kita merenung sejenak di bulan yang mulia ini, bulan yang Allah sebut secara langsung sebagai syahrullah (bulan Allah). Sudah saatnya kita jujur pada diri sendiri—selama sistem rusak dipertahankan, selama Islam hanya jadi identitas tanpa diterapkan kaffah, maka krisis ini tak akan pernah berhenti. Inilah saatnya membangkitkan spirit hijrah sejati: beralih dari keterpurukan menuju penerapan Islam kaffah dalam naungan Khilafah, demi meraih kesejahteraan dan rahmat yang Allah Swt. janjikan.
Views: 8


Comment here