Opini

Pertamax Mahal, Rakyat Kesulitan

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Asriyanti, S.Si.

Wacana-edukasi.com, OPINI--Pemandangan SPBU berubah cukup drastis semenjak pertamax naik. Jika sebelumnya antrian di pengisian BBM bersubsidi (Pertalite) sudah panjang, kini kendaraan bermotor dan mobil tampak semakin padat. Sebaliknya, area pengisian BBM non subsidi semakin sepi. Imbasnya stok pertalite di beberapa daerah semakin cepat habis karena jumlahnya yang sangat terbatas.

Sebelumnya, tanpa ada aba-aba, pemerintah secara resmi menaikkan BBM jenis pertamax per tanggal 10 Juni 2026 dengan lonjakan harga yang sukses membuat masyarakat Indonesia kaget. Tidak tanggung-tanggung, pertamax (RON 92) naik dari harga Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sedangkan Pertamax Green (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Dilansir dari CNN Indonesia, (10-06-2026), pihak Pertamina menyampaikan alasan bahwa kenaikan harga ini sudah melalui proses evaluasi dengan pemerintah. Sebagai regulator, pemerintah telah memberikan formula harga yang disesuaikan dengan harga pasar minyak dunia.

Beragam reaksi masyarakat terpantau dalam berbagai platform baik di media massa maupun media sosial. Banyak yang frustasi karena memikirkan dampak ekonomi yang terjadi dan besarnya biaya hidup ke depannya.

Kekhawatiran mereka sangat beralasan, mengingat potensi kenaikan harga barang dan jasa sudah di depan mata. Kritik disertai penolakan keras terhadap kebijakan pemerintah juga semakin deras. Mereka miris dengan kondisi negeri ini. Pemerintah seolah tidak peduli lagi dengan nasib rakyatnya. Sekalipun tidak ada kenaikan pada BBM subsidi seperti Pertalite dan solar, kenaikan harga Pertamax terbukti membuat masyarakat semakin tercekik. Bukan sekedar memukul daya beli masyarakat, tapi juga meningkatkan biaya operasional. Mulai dari kebutuhan pribadi hingga para pelaku usaha di berbagai sektor.

Meski diklaim kenaikan Pertamax tidak akan berpengaruh besar dikarenakan mayoritas masyarakat menggunakan Pertalite, sementara Pertamax dikonsumsi oleh kalangan menengah ke atas. Namun, hal itu dianggap sebagai klaim sepihak. Terbukti dari beberapa hari setelah harga pertamax naik, telah banyak pemilik kendaraan yang lebih memilih untuk pindah menggunakan BBM bersubsidi demi menghindari biaya pengeluaran yang besar.

Selain itu, banyak pekerja transportasi yang semakin berkurang pendapatannya karena harus membeli bahan bakar yang lebih mahal. Belum lagi laju inflasi yang tidak bisa dihindari. Para pelaku usaha kecil juga kebingungan antara menaikkan harga jual atau menurunkan keuntungannya. Di waktu yang sama, banyak yang kesulitan memenuhi kebutuhan pokoknya akibat sisa penghasilan yang menipis. Mereka harus bertahan dan berusaha menyiasati pengeluaran harian.

Negara seharusnya memahami bahwa bahan bakar minyak merupakan komoditas strategis yang harus benar-benar diperhatikan, karena dampaknya begitu luas dalam kehidupan. Wajar jika setiap keputusan pemerintah terkait harga BBM selalu menyita perhatian khalayak. Kenaikan harga BBM akan langsung berpengaruh pada sistem mobilitas dan perekonomian masyarakat. Efek dominonya juga akan semakin luas dan berimbas pada semua komoditas.

Buah Penerapan Sistem Kapitalis

Inilah buah dari penerapan sistem kapitalis. Sistem yang menjadikan materi sebagai tujuan hidup seraya mengabaikan kepedulian pada sesama. Konsep kapitalis telah menguasai sistem ekonomi masyarakat. Begitupun dalam pengaturan sumber daya alam, sistem ini melahirkan liberalisasi migas dan dari situlah berbagai kebijakan pemerintah berpijak.

Setiap kebijakannya akan diatur sesuai keinginan para pemilik modal (swasta atau perusahaan), yang notabene menjadi pemilik dan pengelola sumber daya alam hari ini. Maka tidak heran kebijakan minyak dan gas yang dibuat pemerintah selalu tidak berpihak pada mayoritas masyarakat. Justru keuntungan para pemodal yang menjadi orientasinya.

Seperti itulah pengaturan kehidupan yang didasarkan pada hawa nafsu semata. Segala bentuk upaya perbaikan tidak akan mampu menyelesaikan permasalahan yang ada. Indonesia yang terkenal dengan kekayaan sumber daya alam dan minyak bumi justru masyarakatnya harus kesulitan dalam mengakses BBM dengan murah. Ibarat tikus yang mati di lumbung padi, masyarakat harus menanggung kemiskinan di tengah sumber daya alam yang melimpah.

Selama masih menerapkan sistem kapitalisme, negara ini akan selalu bergelut dengan permasalahan migas. Seperti saat ini, lonjakan harga minyak dunia bisa terjadi kapan saja akibat ketegangan geopolitik global. Belum lagi dengan banyaknya regulasi terkait migas yang saling tumpah tindih. Mulai di tingkat internasional seperti aturan WTO (World Trade Organization) kemudian di tingkat ASEAN dan Indonesia, masing-masing membuat aturan yang berbeda, sehingga sering bermasalah akibat konflik kepentingan. Harga seringkali ditentukan berdasarkan mekanisme pasar dunia yang mempertimbangkan kepentingan kalangan elit saja.

Setidaknya ada empat syarat terwujudnya kemandirian energi suatu negara;

Pertama, penguasaan terhadap sumber daya alam yang luas. Indonesia terbukti memiliki potensi yang cukup besar. Namun, kebanyakan dimiliki oleh individu atau perusahaan swasta.

Kedua, produksi mandiri dalam negeri. Dengannya negara bisa menguasai, mengelola, dan memanfaatkan sumber daya sebaik mungkin tanpa ada dependensi dari negara lain.

Ketiga, distribusi yang berkeadilan. Banyaknya permasalahan di negeri ini juga disebabkan tidak meratanya ketersediaan BBM terutama di daerah pelosok.

Keempat, kepemilikan dan penguasaan industri alat berat. Jika negara memiliki infrastruktur yang memadai maka akan mengurangi bahkan menghilangkan ketergantungan pada impor teknologi yang memakan biaya cukup besar. Saat suatu negara memiliki kemandirian energi, maka sebuah keniscayaan untuk menekan biaya BBM semurah mungkin tanpa mengikut pada harga minyak dunia.

Pentingnya Mewujudkan Sistem Islam dalam Kehidupan Ini

Hal tersebut bisa kita wujudkan dengan menggunakan sistem Islam. Di dalam Islam negara cukup memakai konsep al-milkiyah atau kepemilikan. Dimana semua energi yang bersumber dari kepemilikan umum akan mendapat perhatian besar negara dalam pengelolaannya. Selain itu, tidak boleh dieksploitasi oleh individu maupun swasta. Justru hasilnya akan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan masyarakat.

Sebagaimana sabda Rasulullah: “Kaum muslim berserikat dalam tiga hal; air, padang rumput, dan api.” (HR. Imam Ibnu Majah).

Negara dalam Islam menjadikan migas sebagai bagian dari kepemilikan umum. Negara akan mengelolanya dan memastikan hasilnya bisa dinikmati semua kalangan masyarakat. Adapun mekanisme pengelolaannya, negara tidak akan bergantung pada pihak swasta maupun asing. Baik dalam hal tenaga kerja maupun infrastruktur. Sekalipun boleh saja mempekerjakan mereka selama masih dalam batas yang ditentukan negara. Dominasi pihak asing harus dihilangkan.

Olehnya itu, kedaulatan negara atas pengelolaan sumber daya alam harus ditegakkan. Begitupun sumber daya manusia dan teknologi akan terus dikembangkan semaksimal mungkin. Semuanya dilakukan agar potensi sumber daya alam bisa tereksplorasi dan terdistribusi dengan baik dan merata untuk semua kalangan. Hal ini negara lakukan sebagai bentuk tanggung jawabnya selaku pengurus dan pelayan pada rakyatnya, bukan sebagai pebisnis yang mencari keuntungan.

Hanya dengan konsep ini masyarakat bisa menikmati semua hasil sumber daya alam, termasuk BBM dengan harga terjangkau. Jadi sistem Islamlah satu-satunya yang mampu menjawab berbagai permasalahan yang dalam sistem hari ini tidak bisa diselesaikan. Perubahan menuju sistem Islam akan mampu membawa perubahan secara mendasar dan menyeluruh dalam semua lini kehidupan.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 4

Comment here