Wacana-edukasi.com, SURATPEMBACA–Anak muda selalu menjadi pusat perhatian, mulai dari masa pertumbuhan dalam keluarga, masa pendidikan, hingga masa depan yang akan mereka capai. Semua itu bukan hanya menjadi tanggung jawab pribadi dan keluarga, tetapi juga masyarakat serta negara yang berkewajiban memperhatikannya.
Namun, ketika sistem yang diterapkan adalah sistem demokrasi kapitalisme seperti saat ini, masihkah harapan agar generasi muda tumbuh menjadi generasi terbaik dapat terwujud?
Baru-baru ini Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menjelaskan bahwa dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) tahun 2025–2026 terhadap sekitar 7 juta anak, ditemukan sebanyak 4,4 persen mengalami gejala kecemasan dan 4,8 persen mengalami gejala depresi. Sementara itu, WHO juga menegaskan bahwa 1 dari 7 remaja usia 10–19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental.
Tidak dapat dimungkiri, kehidupan saat ini dipenuhi berbagai persoalan, mulai dari ketidakstabilan ekonomi, perubahan sosial yang begitu cepat, krisis lingkungan, hingga ketidakpastian masa depan. Semua kondisi tersebut membuat anak muda lebih rentan mengalami depresi dan kecemasan.
Sebagai anggota dewan yang seharusnya mewakili suara rakyat, seharusnya mereka bekerja demi kepentingan rakyat. Namun, yang sering terjadi justru kepentingan pribadi dan kelompok lebih diutamakan. Akibatnya, suara rakyat lebih banyak disuarakan oleh para pemuda dan pelajar, meskipun suara mereka belum tentu didengar.
Kapitalisme yang berasaskan materi telah membentuk cara pandang bahwa kebahagiaan diukur dari banyaknya harta dan terpenuhinya kebutuhan duniawi semata.
Di sisi lain, kondisi yang dirasakan masyarakat saat ini juga semakin berat. Biaya pendidikan yang mahal membuat banyak anak cerdas dari keluarga menengah kesulitan memperoleh pendidikan yang layak. Lapangan pekerjaan yang semakin sempit menjadikan generasi muda yang telah lulus sekolah atau perguruan tinggi merasa bimbang, kehilangan arah, dan tidak memiliki kepastian masa depan. Ditambah lagi, sumber daya alam banyak dikelola pihak swasta sehingga hasilnya tidak sepenuhnya dinikmati untuk menyejahterakan rakyat.
Di saat yang sama, paham sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan menjadikan agama hanya diposisikan sebagai aktivitas ritual semata. Pendidikan Agama Islam pun mendapat porsi yang sangat terbatas sehingga para pelajar belum mampu memahami aqidah Islam secara utuh.
Padahal, Allah Swt. telah menjelaskan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya, memahami syariat Islam, dan menjalankan hukum-hukum Allah dalam kehidupan. Dengan memahami hakikat kehidupan tersebut, aqidah Islam akan semakin kuat. Sebab, hanya dengan mengingat Allah hati akan memperoleh ketenangan.
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an Surah Ar-Ra’d ayat 28:
“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28).
Negara berkewajiban mengurusi seluruh urusan rakyatnya, terlebih para pemuda sebagai generasi penerus bangsa. Kemajuan dan kejayaan suatu negeri sangat bergantung pada kualitas generasi mudanya.
Sejarah peradaban Islam telah membuktikan selama berabad-abad bahwa sistem Islam mampu melahirkan generasi yang memiliki aqidah yang kokoh, berkepribadian Islam, tangguh, cerdas, dan siap mengurus urusan umat sesuai dengan syariat Allah Swt.
Muhammad Al-Fatih, misalnya, pada usia 22 tahun berhasil menaklukkan Konstantinopel ketika para jenderal besar merasa putus asa. Ada pula Usamah bin Zaid yang pada usia sekitar 18 tahun dipercaya memimpin pasukan besar yang di dalamnya terdapat sahabat-sahabat senior seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Selain itu, Al-Arqam bin Abil Arqam yang masih berusia sekitar 16 tahun menjadikan rumahnya sebagai markas dakwah Rasulullah saw. selama bertahun-tahun pada periode Makkah.
Mereka adalah para pemuda yang memiliki keimanan yang kuat, kecerdasan berpikir, dan ketakwaan kepada Allah Swt. Aqidah yang kokoh menjadikan mereka tidak mudah diliputi kecemasan, tetapi justru tampil sebagai generasi penerus peradaban Islam yang membawa keberkahan bagi negeri.
Allah Swt. berfirman:
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf [7]: 96).
Karena itu, semangat mengkaji Islam secara kaffah dan memahami makna kehidupan yang sesungguhnya dengan semakin mendekat kepada Allah Swt. merupakan jalan untuk membangun ketenangan jiwa. Dengan aqidah Islam yang kokoh, depresi dan kecemasan dapat dicegah, sehingga lahir generasi yang kuat, optimis, dan siap menjadi penerus peradaban.
Ummu Nazriel
Views: 28


Comment here