Surat Pembaca

Guru Direndahkan: Cermin Krisis Adab

Bagikan di media sosialmu

Wacana-edukasi.com, SURAT PEMBACA–Peristiwa viral yang memperlihatkan siswa merendahkan guru di dalam kelas kembali meramaikan publik. Dalam video tersebut, nampak siswa mengejek hingga menunjukkan gestur mengacungkan jari tengah kepada sosok yang seharusnya dihormati. Perilaku tidak terpuji ini, mendapatkan tindakan tegas dari sekolah yakni berupa sanksi skorsing selama 19 hari. Namun, apakah persoalan ini bisa selesai dengan hukuman administratif semata?

Kasus ini bukan hanya sekadar kenakalan remaja, tetapi mencerminkan adanya krisis adab dalam dunia pendidikan. Hubungan antara murid dan guru yang seharusnya dilandasi rasa hormat justru perlahan mulai menghilang. Guru tidak lagi dipandang sebagai figur yang dimuliakan, melainkan sekadar “orang biasa” yang bisa diperlakukan seenaknya.

Fenomena ini tidak lahir begitu saja. Semuanya karena terdapat perubahan cara pandang yang pelan-pelan terjadi dalam sistem pendidikan kita. Selama ini, pendidikan lebih banyak menekankan pada materi semata. Pelajar ditekan agar bisa mendapatkan nilai tinggi, prestasi lomba, hingga kelulusan sempurna. Sementara itu, pembentukan karakter sering kali hanya menjadi pemanis saja. Akibatnya, siswa mungkin cerdas secara intelektual, tetapi rapuh dalam sikap.

Di sisi lain, pengaruh media sosial semakin memperkuat masalah ini. Banyak remaja terdorong untuk tampil “berani” dan “beda” demi mendapatkan viralitas semata. Tidak jarang, batas antara hiburan dan penghinaan menjadi kabur. Apa yang seharusnya dianggap tidak pantas justru dipertontonkan demi meraih popularitas. Dalam konteks ini, merendahkan guru bisa dianggap sebagai bahan konten yang memperlihatkan keberanian dan perhatian.

Kondisi ini juga menunjukkan melemahnya wibawa guru. Tidak sedikit guru merasa serba salah dalam mendisiplinkan siswa. Di satu sisi, mereka ingin menegakkan aturan. Namun di sisi lain, ada kekhawatiran terhadap reaksi orang tua, tekanan publik, bahkan potensi masalah hukum yang berimbas pada pemecatan. Akibatnya, tindakan tegas menjadi terbatas, dan siswa pun merasa semakin berani melanggar.

Padahal, pendidikan sejatinya tidak hanya soal transfer ilmu, tetapi juga pembentukan sikap. Ketika adab tidak menjadi prioritas, maka ilmu kehilangan arah. Murid mungkin mengetahui banyak hal, tetapi tidak memahami bagaimana bersikap dengan benar.

Karena itu, solusi yang ditawarkan tidak cukup berhenti pada sanksi sesaat. Perlu ada pembenahan yang lebih mendasar yang diinisiasi oleh negara.

Islam telah memberikan solusi yang komprehensif. Pertama, pendidikan harus dibangun di atas akidah Islam. Tujuannya bukan hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk kepribadian Islam (syakhshiyah Islamiyyah), yakni pola pikir dan sikap yang sesuai dengan syariat. Dengan landasan ini, siswa akan memahami bahwa menghormati guru adalah kewajiban yang Allah perintahkan, bukan sekadar norma sosial dalam masyarakat.

Kedua, negara memiliki peran penting dalam menjaga moral generasi. Konten digital yang merusak, seperti tayangan yang menormalisasi pembangkangan dan pelecehan, harus disaring secara tegas. Lingkungan yang sehat akan membantu membentuk karakter siswa yang lebih baik.

Ketiga, penerapan sanksi harus memiliki fungsi mendidik sekaligus memberi efek jera. Dalam Islam, sanksi berfungsi sebagai jawabir (penebus kesalahan) dan zawajir (pencegah agar tidak terulang). Artinya, hukuman tidak sekadar formalitas, tetapi benar-benar mampu memperbaiki perilaku pelaku dan mencegah orang lain meniru.

Keempat, Islam menempatkan guru pada posisi yang sangat mulia. Negara wajib memberikan penghargaan dan kesejahteraan yang layak agar wibawa mereka terjaga. Ketika guru dihormati secara sistemik, maka siswa pun akan lebih segan dan menghargai.

Kasus pelecehan terhadap guru ini seharusnya menjadi alarm keras bagi semua pihak. Pendidikan tidak cukup hanya dengan kurikulum dan program formal. Ia membutuhkan fondasi nilai yang kokoh. Tanpa itu, kita hanya akan melahirkan generasi cerdas secara intelektual, tetapi rapuh dalam fondasi utama yang tidak boleh hilang.

Huri Salsabila

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 0

Comment here