Oleh: Nurhy Niha
wacana-edukasi.com, OPINI–Dunia pendidikan kembali dihebohkan tindak kekerasan yang melibatkan guru dan murid. Sekolah yang seharusnya menjadi tonggak peradaban berubah menjadi ring tinju. Potret rapuhnya pendidikan saat ini. Kasus ini terus berulang tanpa adanya penanganan yang benar.
Dikutip dari detik.com (17/01/2026), terjadi kasus pengeroyokan seorang guru SMK di Jambi oleh muridnya. Peristiwa yang berawal dari teguran dengan ucapan kurang pantas yang berakhir dengan tindakan anarkis. Tak ada titik temu hingga akhirnya sang guru memilih menempuh jalur hukum setelah upaya mediasi gagal karena merasa ada kerugian baik fisik maupun mental.
Ini sungguh mencederai martabat pendidikan, sekaligus menunjukkan kegagalan institusi dalam meredam konflik secara internal.
Kasus pengeroyokan ini bisa dijadikan indikator problem serius dunia pendidikan. Mengacu pada data terbaru KPAI sepanjang tahun 2025, terdapat lebih dari 2.300 kasus pengaduan kekerasan di satuan pendidikan. Dalam laporan FSGI di tahun yang sama yang mencatat kenaikan kasus kekerasan sebesar 25%, dengan 158 insiden fisik serius yang terjadi dalam kurun waktu enam bulan.
Pengeroyokan guru dan murid ini bukan hanya konflik personal atau emosi sesaat, tetapi fenomena gunung es. Ini menjadi potret buruknya relasi dalam dunia pendidikan. Relasi guru dan murid yang semestinya dibangun di atas penghormatan justru bergeser menjadi relasi penuh ketegangan, kebencian, hingga kekerasan fisik. Hilangnya fungsi sekolah sebagai pembentuk karakter. Tergerusnya nilai kemanusian dan rasa hormat akan guru.
Munculnya Istilah “Bestie” Bukti Hilangnya Batas Adab Guru dan Murid
Fenomena ini menunjukkan adanya disfungsi karakter guru dan murid dalam kegiatan belajar mengajar. Akibatnya, dalam berinteraksi kehilangan rasa saling menghargai. Hilang juga batas adab terhadap sosok yang seharusnya dihormati.
Adanya tren guru yang menjadi “bestie” bagi murid seolah yang mengaburkan posisi keduanya. Tak jarang oknum pendidik terjebak dalam penggunaan lisan yang merendahkan mentalitas anak didik dengan kamuflase motivasi untuk menyemangati murid. Akhirnya kedua belah pihak terjebak dalam konflik batin yang tak jarang berakhir dengan kekerasan.
Timbulnya perilaku menyimpang anak didik ke permukaan ini, tidak lepas dari peran keluarga sebagai sekolah pertama. Sering kita jumpai banyak keluarga kehilangan fungsi utama dalam menanamkan adab sejak dini akibat pengaruh gaya hidup materialistik. Bukti nyata ketika rumah tidak lagi menjadi tempat pulang. Padahal, rumah seharusnya menjadi tempat pertama di mana nilai kesantunan diajarkan. Hilangnya fondasi adab dari rumah, sekolah hanya akan menjadi tempat transfer ilmu tanpa jiwa yang berkembang. Sekolah dan rumah seolah menjadi sasana pelampiasan gejolak emosi yang harus disalurkan.
Fatamorgana Sistem Kapitalis Sekuler
Sistem kapitalis-sekuler berusaha meniadakan eksistensi agama dari kehidupan. Dimana pendidikan adalah komoditas bisnis yang bisa menghasilkan keuntungan. Pendidikan yang hanya berfokus pada nilai dan keahlian tertentu. Dimana keahlian tersebut bisa memenuhi kebutuhan industri, tetapi abai dalam pembentukan kepribadian. Hasilnya banyak generasi yang cerdas dalam akademik, tetapi nol besar dalam kepribadian.
Generasi ini memang lulus di atas kertas, tetapi gagal dalam menemukan makna hidup. Mereka bertahan hanya untuk menjalani rutinitas dan mengejar puja-puji khalayak. Berperilaku semaunya tanpa batas seolah dialah penguasa dunia. Tidak mengenal siapa yang harus dihargai atau dihormati. Kebenaran mereka yang tentukan sendiri karena begitulah ajaran kapitalis.
Di lain sisi, guru secara ekonomi masih jauh dari sejahtera. Ditambah beban akademik dan administrasi yang sangat tinggi, guru dipaksa terus bekerja tanpa jaminan hidup yang layak. Akibatnya, emosi menjadi tidak stabil karena tekanan mental dan beban ekonomi yang menghimpit. Ruang kelas yang harusnya tenang berubah menjadi tegang karena baik guru maupun murid sama-sama mengalami tekanan sistemik yang luar biasa.
Islam memandang pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan proses pembentukan kepribadian. Dalam kitab Nizhamul Islam karya Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, tujuan pendidikan adalah membentuk Syakhshiyyah Islamiyyah (Kepribadian Islam) yang terdiri dari pola pikir (Aqliyah) dan pola sikap (Nafsiyah) dengan akidah Islam sebagai asasnya. Ini juga sesuai dengan tujuan diutusnya Rasulullah saw., “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” Hadist Riwayat Imam Ahmad, Baihaqi dan Al-Bukhari.
Dalam sistem pendidikan Islam, adab didahulukan sebelum ilmu ditanamkan secara mendalam. Seperti perkataan Imam Malik, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.” Prinsip ini memastikan murid memiliki kesiapan mental untuk memuliakan ilmu dan pembawanya.
Dengan menjadikan adab sebagai fondasi utama, ilmu yang diperoleh akan menjadi sarana pengabdian kepada Sang Pencipta. Ilmu tidak lagi menjadi alat kesombongan atau pembangkangan terhadap guru, melainkan menjadi pemberi manfaat bagi sesama.
Kembalinya Peran Guru Sebagai Figur Teladan
Untuk menghentikan fenomena ini membutuhkan kembalinya peran guru sebagai figur teladan atau pendidik adab. Guru memang harus dekat dengan murid, tetapi harus jelas batasan posisi masing-masing. Bukan seperti ajaran sekuler dimana guru dan murid mempunyai posisi setara sehingga mengaburkan peran masing-masing.
Guru harus menjadi cermin integritas yang mendidik dengan kasih sayang tanpa lisan yang merendahkan. Negara wajib bertanggung jawab dalam mengurusi urusan umat, salah satunya menjamin kesejahteraan guru secara maksimal agar martabat mereka terjaga.
Pentingnya kurikulum yang mengintegrasikan tsaqafah Islam, untuk membentengi akal siswa dari pemikiran asing yang merusak moral. Negara berwenang untuk merombak kurikulum agar berbasis Akidah Islam dan membersihkan lingkungan dari nilai-nilai liberal yang destruktif.
Diperlukan keterlibatan negara dalam memfasilitasi pendidikan yang bermutu dan berbasis syariat, lingkaran setan kekerasan di sekolah dapat diputus hingga ke akarnya.
Ketika negara menerapkan aturan yang berlandaskan aturan islam, maka masalah kesejahteraan guru dan ketenangan jiwa murid akan mendapatkan jalan keluar melalui keberkahan sistemik. Seperti yang terkandung dalam Al-quran surat Al-Araf ayat 96
”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…”
Orientasi pendidikan Islam tidak terpaku pada nilai atau memiliki keahlian tertentu saja.Pendidikan karakter yang berkepribadian Islam bukanlah materi tambahan, melainkan ruh yang menjiwai seluruh interaksi agar setiap individu memiliki kesadaran spiritual dalam menjalani hidup.
Views: 16


Comment here