Oleh: Neni Arini
Wacana-edukasi.com, OPINI–Dalam Islam, peran ibu bukan hanya sebagai pengasuh anak dan pengurus rumah tangga, tetapi juga sebagai garda depan dalam mencetak generasi yang akan menjadi penerus perjuangan di masyarakat. Dalam pandangan Islam, seorang perempuan, khususnya ibu, berperan sebagai tiang keluarga dan generasi. Selain mengurus rumah tangga, ibu memiliki tugas mendidik generasi yang beriman dan bertakwa. Di tangan seorang ibulah kaderisasi generasi baru tercetak dengan memiliki karakter diri yng kuat, keilmuan, dan keterampilan agar dapat berperan di masyarakat.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an,
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13)
Di dalam surat Al hujurat tersebut menegaskan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah SWT tidak ditentukan oleh jenis kelamin atau asal-usulnya, melainkan oleh ketakwaannya. Oleh karena itu perlunya laki-laki dan perempuan bisa menjalankan perannya secara totalitas.
Seorang ibu harus menjadi seorang yang multitasking, tidak hanya piawai dalam urusan domestik saja tepao juga memiliki pandangan jauh ke depan dalan menyiapkan generasi dan menjadikan kewajiban berdakwah serta kesadaran politik sebagai pilar dalam hidupnya sehingga ia mampu mencetak anak-anak yang kuat secara ideologi, berkarakter pemimpin yang siap memimpin sebuah peradaban Islam. Membentuk generasi yang berintegritas dan visioner.
Teladan yang luar biasa dalam hal ini adalah Ibunda Khadijah binti Khuwailid RA, istri Nabi Muhammad SAW. Ketika Rasulullah SAW menerima wahyu pertama, Khadijah RA hadir sebagai pendamping yang menguatkan hati beliau, mendukung perjuangannya dengan tulus, menyumbangkan seluruh hartanya, dan memberi motivasi di masa-masa sulit. Khadijah RA adalah contoh bagaimana seorang istri berperan mendukung suaminya dalam perjuangan dan dalam kaderisasi generasi yang beriman.
Seorang ibu yang memilki kesadaran politik tinggi, akak mendidik anak-anaknya sebagai seorang pejuang yang akan memberikan perubahan pada dunia. Ia akan berjuang sekuat tenaga dan kemampuannya agar bisa menghasilkan generasi yang tidak hanya pandai dalam akademis saja tetapi bagaimana memiliki jiwa-jiwa kepemimpinan yang bisa memimpin sebuah peradaban.
Sebagaimana Kisah ibu Muhammad Al Fatih yang bernama Hüma Hatun. Beliau dikenal sebagai teladan dalam mendidik anaknya dengan penuh dedikasi dan visi yang jelas. Ia menanamkan ambisi besar pada putranya sejak dini, terutama terkait penaklukan Konstantinopel, yang saat itu merupakan impian lama umat Islam.
Dikisahkan bahwa beliau
setiap pagi selalu menggendong Muhammad kecil dan membawanya ke tepi tebing atau tempat tinggi untuk menunjukkan ke arah Konstantinopel, sambil mengingatkannya akan sabda Rasulullah SAW tentang penakluk kota tersebut. Hal ini menumbuhkan tekad dan cita-cita yang kuat dalam diri Al-Fatih.
Bersama dengan ayah Al-Fatih, Sultan Murad II, ia memastikan putranya menerima pendidikan yang komprehensif dari guru-guru terbaik.
Al-Fatih tidak hanya dididik dalam ilmu agama seperti menghafal Al-Qur’an, hadits, fiqh, dan tafsir, tetapi juga ilmu umum seperti sejarah, bahasa (menguasai beberapa bahasa), matematika, dan astronomi, yang semuanya membentuknya menjadi pemimpin yang cerdas dan visioner.
Hüma Hatun mengajarkan pentingnya kesabaran, ketekunan, doa, dan ketakwaan kepada Allah SWT, yang menjadi landasan spiritual Al-Fatih dalam menghadapi tantangan besar, termasuk penaklukan Konstantinopel.
Namun, dalam naungan sistem kapitalis peran ibu telah bergeser, tidak lagi menjadi madarasah pertama, tetapi beralih fungsi menjadi penggerak roda perekonomian keluarga dan negara. Paham feminisme yang lahir dari sistem kapitalis telah mampu mengoyakkan kewajiban seorang ibu. Dan sistem ini pun mampu menciptakan tatanan kehidupan yang rusak dan menjatuhkan peran ibu sebagai pencetak gemerasi peradaban.
Serangan digital hari ini semakin memperparah kondisi generasi. Mereka tumbuh menjadi geneeasi- generasi yang tak tentu arah. Dan saat ini generasi muda menjadi sasaran empuk dalam serangan hegemoni digital kapitalisme. Mereka dibentuk oleh konten-konten yang menjauhkan mereka dari berpikir islam, tetapi justru menstimulus para pemuda menjadi orang-orang yang lemah iman, mengikis nilai-nilai akhlak dan moral sehingga merusak masa depan bangsa.
Betapa berat tantanga yang dihadapi oleh para ibu dalan mewujudkan para generasi yang Khoiru ummah dan sekarang Khalifah fii ardh. Tetapi walau tantangannya sangatlah berat, akan tetapi kita sebagai seorang ibu tidak boleh sampai pada keputusasaan karena di tangan kitalah, ibu, generasi masa depan akan segera terwujud
Seorang ibu harus memiliki keteladanan dalam berbagai hal bagi anak-anaknya, termasuk dalam hal ibadah, Keteladanan dalam Akhlak dan Lisan, Keteladanan dalam Kesabaran, Keteladanan dalam Berbakti, serta keteladanan dalam Menutup Aurat dan Rasa Malu dan keteladanan dalam berdakwah.
Semua hal tersebut sangatlah penting, seperti apa yang disampaikan oleh Rasulullah dalam haditsnya. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa ibu berhak mendapatkan penghormatan tiga kali lebih besar daripada ayah (HR. Bukhari). Kehormatan besar ini sebanding dengan tanggung jawab besar untuk menjadi kompas moral bagi generasi penerus.
Untuk itu perlunya kita mengajak umat untuk bergabung di dalan sebuah partai ideologis, yang bisa menjaga fitrah dan tanggung jawabnya ibu sebagai Ummu warabatul bayt yang bisa membimbing anak-anaknya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Menjadikan Islam sebagai standar kehidupan bagi anak-anaknya, menjadikan halal haram sebagai standar perbuatannya serta rujukan dalam berpikir. Buatlah anak-anak bangga dengan Islam, yang memiliki aturan hidup sempurna. Karena dengan islam kita akan dijauhkan dari segala kemaksiatan, dan justru islam akan menjadikan kita seorang hamba yang taat. Untuk itu jangan pernah berhenti dan lelah dalam mendakwahkan Islam ke tengah umat.
Wallahu’alam bishawab
Views: 10


Comment here