Oleh: Sherlina Dwi Ariyanti, A.Md.Farm. (Aktivis Dakwah Remaja)
wacana-edukasi.com, OPINI–Fenomena Lonely in The Crowd
Belum lama ini, perwakilan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang diketuai oleh Fifin Anggela Prista sedang merancang riset yang bertajuk “Loneliness in the Crowd: Eksplorasi Literasi Media Digital pada Fenomena Kesepian di TikTok melalui Konfigurasi Kajian Hiperrealitas Audiovisual”. Sontak saja, riset ini menjadi perhatian banyak mata. Ide penelitian ini diambil dari kondisi lapangan yang menunjukkan gen-z yang mayoritas berselancar di sosial media. Terlebih di media Tiktok. Keaktifan di dunia maya ternyata tidak sama seperti dengan kehidupan nyata. Dilansir dari kumparan.com(26/09/2025) bahwa Survei Into The Light (2023) mencatat 67 persen gen-z di Indonesia merasa kesepian meski aktif di media sosial. Efek dari rasa kesepian tersebut menyebabkan gen-z cenderung mengalami problem mental.
Fakta ini relevan dengan data yang dilansir oleh World Health Organization(2025) bahwa secara global, diperkirakan satu dari tujuh (14,3%) anak berusia 10–19 tahun mengalami kondisi kesehatan mental. Salah satu di dalamnya adalah tekanan dalam penyesuaian diri, serta kesenjangan di dalam kehidupan sosial yang menyebabkan insecurity. Salah satu faktor yang memicu adalah konten media sosial yang mempengaruhi emosional seseorang.
Sisi Rusak Media
Berdasarkan data dan pengamatan secara langsung menunjukkan bahwa, masyarakat terutama generasi muda merasa sepi di tengah ramainya sosial media. Tidak sedikit generasi muda mengalami problem dalam aspek kesehatan mental. Fifin menjelaskan jika konten di media sosial merupakan hasil rekayasa. Namun, tak sedikit orang tetap mengonsumsi dan bahkan membenarkan narasi tersebut. Fifin juga menambahkan bahwa emosi yang dibentuk media dapat memengaruhi kesehatan mental dan hubungan sosial seseorang.
Sosial media ini tidak hanya kemajuan teknologi belaka. Perlu dipahami bahwa seluruh platform digital yang diakses oleh generasi adalah sebuah produk yang tidak muncul dengan sendirinya. Tentu saja, seluruh platform tersebut dihasilkan oleh industri yang kemudian ditujukan kepada target pasar yaitu generasi saat ini. Salah satu produknya adalah platform TikTok.
Tentu harus disadari bahwa pemilik industri tersebut memiliki tujuan di dalam pemasaran produknya. Sudah bisa dipastikan bahwa tujuan produksi adalah untuk mencapai keuntungan sebesar-besarnya. Penyebab dasarnya adalah dunia saat ini hidup di tengah sistem kapitalisme. Termasuk untuk pengelolaan sosial media pasti sesuai dengan cara pandang kapitalisme yaitu berorientasi pada keuntungan industri tanpa mempertimbangkan efek buruknya.
Dampak buruk yang ditimbulkan di tengah kehidupan generasi sebagai target pemasaran platform digital dengan pengelolaan kapitalistik adalah melahirkan generasi yang asocial. Tidak hanya sulit bergaul di tengah masyarakat umum, bahkan generasi sulit membangun hubungan yang harmonis di tengah keluarga. Terlebih lagi, ketika mereka menjadi pelaku ekonomi di dunia digital seperti afiliator dan lain sebagainya. Keterlibatan terhadap aktivitas tersebut, semakin menjadikan mereka individualisme dan berfokus untuk menghasilkan cuan semata.
Tidak hanya sekedar sulit bergaul, paham individualisme dapat mengaburkan potensi besar mereka untuk umat secara luas. Generasi muda seharusnya menghasilkan karya produktif untuk kontribusi di kehidupan nyata. Terlebih lagi adalah generasi muslim yang seharusnya mereka berperan nyata di tengah umat untuk memperbaiki tatanan kehidupan kaum muslim. Semua ini bertujuan untuk mewujudkan kembali peradaban yang gemilang dengan Islam, dan ini membutuhkan peran nyata dari generasi muslim sebagai generasi perubahan.
Sosial Media Menurut Islam
Kenyataan yang tidak bisa ditutupi adalah dampak buruk sosial media disebabkan oleh kegagalan sistem kapitalisme dalam mengelola kemajuan teknologi tersebut. Hal tersebut akan merugikan umat khususnya kaum muslim. Sikap asocial yang senantiasa disajikan di sosial media bukanlah fitrah seorang muslim.
Sebagai kaum muslim seharusnya menjadikan Islam sebagai identitas utama yang terpancar di tengah kehidupan. Hal ini dikarenakan Islam tak hanya sekedar keyakinan di hati dan lisan. Islam adalah keimanan yang melahirkan konsekuensi yaitu keterikatan terhadap seluruh syariat Islam.
Termasuk persoalan sosial media ini, sebagai generasi muslim dalam penggunaan sosial media seharusnya bersandar kepada hukum syara’ bukan digunakan secara kapitalistik yang terlahir dari sekulerisasi kehidupan selayaknya saat ini. Di dalam Al-Qur’an surah An-Nahl ayat 89, Allah berfirman “Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”.
Sebagai generasi muda muslim yang memiliki potensi besar, sudah seharusnya berusaha keras untuk produktif dan berkontribusi dalam menyelesaikan problematika umat. Hal ini dikarenakan posisi generasi muda adalah harapan di mata umat. Sesuai dengan sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam,
«إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ»
“Sesungguhnya Allah Taala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memiliki shabwah.” (HR Ahmad dan Ath-Thabrani)
Artinya pemuda yang tidak memperturutkan hawa nafsunya, dan dia membiasakan dirinya melakukan kebaikan dan berusaha keras menjauhi keburukan (Faidhul Qadiir Syarah Al-Jami’ Ash-Shagir)
Namun memang tidak bisa dimungkiri, produktivitas dengan dasar ketaatan kepada Allah begitu sulit untuk dilaksanakan sekarang. Kondisi generasi muslim saat ini hidup di tengah normalisasi kemaksiatan. Termasuk di sosial media kemaksiatan kian massif. Hal ini tidak bisa diatasi oleh individu dalam pengelolaan sosial media secara sistemik. Yang memiliki kekuasaan untuk mengendalikan pemanfaatan dunia digital secara menyeluruh adalah negara. Kebutuhan ini memaksa negara harus memiliki independensi secara satelit dan controlling algortima sosial media.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penyelesaian problem individu akibat sosial media membutuhkan peran negara. Pada dasarnya negara di dalam Islam bertanggungjawab agar rakyatnya taat terhadap syariat. Termasuk konten sosial media yang beredar di tengah kaum muslim wajib menghantarkan kekokohan akidah dan ketaatan kaum muslim. Bukan sebaliknya, menjadi desktruktif terhadap identitas generasi muslim. Terlebih lagi melahirkan Lonely in The Crowd yang menghancurkan peran generasi untuk memperjuangkan peradaban Islam. Wallahu a’lam bishawab.
Views: 16


Comment here