Opini

Kemerdekaan Hakiki, Tak Cukup Sekadar Seremoni

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Isma khasanah (Pemerhati Sosial)

Wacana-edukasi.com, OPINI–Di tengah hinggar bingar perayaan hari kemerdekaan, sungguh negeri ini sedang dirundung kepiluan. Mayoritas rakyat di negeri ini terbelenggu dengan ketidakadilan dan penindasan. Berbagai kebijakan baru yang dibuat penguasa terlalu membebani rakyat, banyaknya kaum intelektual pun tak mampu menyolusi tumpukan permasalahan bangsa. Seperti tingginya angka pengangguran akibat minimnya ketersediaan lapangan pekerjaan menambah tinggi pula angka kemiskinan dan gizi buruk pada balita. Hal ini pula yg menjadi pemicu tingginya angka kriminalitas di lapisan masyarakat.

Padahal, jika benar 80 tahun dalam kemerdekaan mestinya negeri ini sudah cukup mapan dalam pembangunan ekonomi dan semakin matang menghadapi tantangan global. Tapi faktanya , justru keterpurukan di berbagai bidang menjerat hampir seluruh lapisan masyarakat. Katanya sudah merdeka, tapi realitasnya masih terpenjara. Cukupkah dikatakan merdeka dikala ribuan peluh anak bangsa mengantri lowongan kerja? Cukupkah dikatakan merdeka jika rakyat sulit mendapat fasilitas kesehatan yang memadai akibat kapitalisasi? Cukupkah dikatakan merdeka, jika jutaan balita masih mengalami gizi buruk di tengah para pejabat hedon dengan memamerkan barang-barang branded di media sosial mereka?

Kemerdekaan Semu

Lantas, seperti apa sebenarnya merdeka yang dimaknai masyarakat kita? Masyarakay memaknai merdeka yaitu dengan ketiadaan moncong senjata penjajah sebagaimana yang tengah dialami Palestina. Jadi, selama masih bisa keluar rumah mencari penghasilan walaupun dalam kondisi seperti sekarang, tetap dimaknai merdeka. Padahal, Islam telah merinci bagaimana seseorang mesti memaknai arti merdeka, baik secara individu, masyarakat, maupun skala negara.

Individu yang merdeka artinya individu yang terbebas dari belenggu ide kekufuran yang datang dari kafir Barat. Barat adalah pengusung utama ideologi kapitalisme – sekularisme- liberalisme. Sekularisme yaitu rakyat dipaksa untuk memisahkan aturan agama dari kehidupan, sehingga membawa aturan agama dalam berpolitik adalah sebuah hal yang terlarang. Termasuk ketika melakukan transaksi ekonomi pun tidak boleh melibatkan aturan halal dan haram, begitu pun dengan urusan muamalah lainnya nyaris hampir seluruhnya wajib terlepas dari aturan agama.

Menurut sekularisme, agama hanya boleh digunakan sebagai ritual ibadah individu saja. Sehingga tidak merdeka dalam melaksanakan pemahamannya berpola fikir berlandaskan akidah Islam. Umat dipaksa juga untuk mengusung ide liberalisme yaitu ebuah gaya hidup yang menjunjung tinggi nilai kebebasan dengan mengatasnamakan HAM. Jelas hal ini bertentangan dengan dengan aturan Islam. Zina misalnya, boleh dalam HAM asalkan suka sama suka, sedangkan dalam aturan Islam jangankan zina, mendekati zina saja Allah sangat melarang keras.

Di sisi lain, kesenjangan ekonomi makin melebar, kondisi rakyat jauh dari kata sejahtera tingginya harga kebutuhan pokok, BBM dan listrik menjadi beban masyarakat. Bertambahnya angka kemiskinan ekstrem, ditambah lagi aneka pajak yang sangat membebani rakyat, jika tidak membayarnya maka akan dikenakan sanksi administrasi hingga diambilnya aset pribadi secara paksa oleh negara. Bukankah kondisi ini menandakan bahwa secara individu rakyat belum merdeka ?

Kemerdekaan Hakiki

Islam memaknai masyarakat yang merdeka ialah masyarakat yang kehidupannya terpelihara dengan aturan Islam, memiliki pemikiran, perasaan, dan aturan serta tujuan yang sama. Tolok ukur perbuatan masyarakatnya adalah halal dan haram yang telah ditentukan oleh hukum syarak, bukan aturan yang berasal dari campur tangan manusia. Sehingga sebesar apa pun maslahatnya, jika tidak halal maka tidak akan diambil. Sebaliknya, mereka tetap akan melaksanakan syariat walaupun tidak terlihat maslahatnya dalam pandangan manusia.

Adapun makna merdeka dalam skala negara yaitu jika sebuah negara terlepas dari penjajahan fisik, politik, ekonomi, budaya, dan pemikirannya. Apabila kebijakan sebuah negara diambil karena tekanan asing, maka belumlah dapat dikatakan negara yang merdeka, sebaliknya negara tersebut adalah negara pengekor bukan pelopor. Negara pengekor hanya akan menciptakan para penguasa komparador yang bekerja berdasarkan pesanan tuannya. Asas yang digunakan adalah asas manfaat, selagi masih ada manfaat jika kebijakan yang dibuat itu haram sekalipun tetap diberlakukan.

Mengapa demikian ? Karena dalam sistem demokrasi dikenal politik transaksional yang terjadi antara para penguasa dan pengusaha, artinya pengusaha menjadi pengendali kebijakan penguasa dengan kekuatan uang mereka. Negara yang merdeka juga tidak akan pernah melibatkan pihak asing – aseng dalam mengelola aset SDA-nya, agar aset tidak berpindah kepada mereka. Namun tampaknya, kapitalisme telah berhasil menjerat para pemimpin negeri ini untuk terlibat dalam perjanjian dagang yang menjebak dan tidak menguntungkan rakyatnya. Maka, jadilah negara ini dikeruk SDA-nya secara totalitas oleh para oligarki asing dan aseng. Sumber daya alam yg semestinya diperuntukan demi kemakmuran rakyat, kini diambil alih oleh kekuatan ekonomi global. Jika melihat fakta ini, bukankah artinya negeri ini belum benar-benar merdeka ?

Oleh karenanya wahai umat Islam, tanpa mengurangi rasa syukur kita terhadap jasa para pahlawan mari kita renungkan untuk yang kesekian kalinya bangsa ini merayakan kemerdekaan. Namun, hakikat kemerdekaan yang sesungguhnya sudahkah kita dapatkan? bangsa ini tak butuh retorika untuk menjelaskan definisi merdeka karena kemerdekaan sejati hanya akan terbangun jika aturan Islam diterapkan secara integral dalam wadah sebuah negara. Karena wadah untuk menerapkan aturan Islam secara kafah hanyalah dalam bentuk negara.

Negara yang menerapkan aturan seperti apa? Yaitu sebuah aturan yang dibuat oleh Sang Pemilik kehidupan, yang mampu mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya terang. Sejarah membuktikan tidak ada satu pun negeri yang dikuasai Islam kemudian menjadi suram dan mundur terbelakang. Sebaliknya sejarah menuliskan ketika Islam menguasai 3 benua (Eropa, Afrika, dan setengah dari Asia) peradaban Islam justru mencapai kemajuan dalam bidang pendidikan menghasilkan para ilmuwan dan mujtahid. Dalam ekonomi, menghasilkan kesejahteraan dan penghidupan yang layak. Di bidang politik, mampu memperluas pengaruh politik dunia dengan dakwah dan jihad sehingga menjadi negara adidaya.

Khatimah

Alhasil, jika bangsa dan negeri ini ingin terlepas dari cengkeraman kafir Barat dan bangkit dari keterpurukan, mau tidak mau harus merujuk kepada Islam. Caranya dengan menerapkan ideologi dan sistem Islam di seluruh aspek kehidupan (ipoleksosbudhankam). Sayidina Umar bin al-Khaththab ra. berkata:

إِنَّا كُنَّا أَذَلَّ قَوْمٍ، فَأَعَزَّنَا اللهُ بِاْلإِسْلاَمِ. فَمَهْمَا نَطْلُبُ الْعِزَّةَ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا اللهُ بِهِ، أَذَلَّنَا اللهُ

“Sungguh, kami adalah bangsa yang paling hina. Lalu Allah memuliakan kami dengan Islam. Karena itu tatkala kami mencari kemuliaan tanpa Islam yang dengan Islam itu Allah telah memuliakan kami, Allah pasti akan (kembali) menghinakan kami.” (HR. al-Hakim).

Allahu a’lam Bishsawwab.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 15

Comment here