Surat Pembaca

100 Tahun tanpa Perisai: Paradoks Syariat dalam Sistem Sekuler

blank
Bagikan di media sosialmu

Wacana-edukasi.com — Makin hari tampak secara nyata betapa masyarakat sangat membutuhkan Islam sebagai jalan hidup. Kita bisa melihat fenomena hijrah yang makin meluas. Mulai dari kalangan cendekia, sosialita hingga rakyat jelata.

Tak bisa dimungkiri, kepercayaan terhadap Islam menjadi semakin tinggi dari semula. Meningkatnya jumlah penduduk muslim dunia adalah salah satu buktinya. Sebagaimana dilansir Republika.co.id pada 25/9/20 jumlah penduduk muslim dunia bertambah hingga 300 persen, yakni sebanyak 1,57 miliar jiwa.

Selain itu, minat masyarakat terhadap sesuatu yang berhubungan dengan syariat dan Islam menjadi semakin tinggi. Baik dalam bidang ekonomi, sosial maupun pendidikan.

Sayangnya, fenomena tersebut belum mampu mewujudkan perubahan yang hakiki di tengah masyarakat. Krisis multidimensi masih menjadi momok yang begitu menakutkan. Kezaliman dan berbagai penindasan masih saja terjadi. Lantas, hal apakah yang mesti di upayakan untuk mendorong terwujudnya perubahan yang hakiki?

Untuk dapat menjawabnya, perlu dilakukan penelusuran terhadap akar permasalahan yang menyebabkan timbulnya berbagai persolan. Yakni, hal mendasar tentang pandangan hidup atau ideologi.

Sebagaimana diketahui, saat ini kapitalisme menjadi hegemoni dunia. Lahir dari ideologi sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan.

Oleh karena itu, meskipun berbagai sektor sudah berlabel syariah. tetapi nyatanya semua itu tidak benar-benar syar’i. Mengapa? Karena dijalankan dalam sistem yang justru bertentangan dengan syariat.

Bagaimana mungkin lembaga keuangan menganggap dirinya syariah, sementara sistem memaksanya untuk tetap mengadopsi riba? Demikian halnya dengan lembaga pendidikan yang katanya Islami, tetapi masih mengadopsi kurikulum sekuler. Lembaga sosial yang justru berpaham liberal. Inilah paradoks syariat dalam sistem sekuler.

Dengan demikian, syariat hanya akan berjalan dengan baik dalam sistem yang benar-benar syar’i. Yakni, yang menjadikan syariat (agama) sebagai pedoman dalam kehidupan. Oleh karena itu, semestinya masyarakat berpikir untuk segera merealisasikannya.

Bukankah sejarah pernah membuktikan bahwa selama tiga belas abad Islam mampu memimpin dunia hingga menghasilkan peradaban yang gemilang. Hal itu dapat terwujud ketika umat menjadikan Islam sebagai satu-satunya ideologi dalam kehidupan.

Saat ini, genap 100 tahun (1342-1442 H) umat hidup tanpa perisai. Berbagai bentuk penindasan dan kezaliman terjadi di mana-mana. Sekaranglah saat yang tepat untuk mengakhirinya.

Menyingkirkan sekularisme dari hegemoni dunia. Hanya inilah satu-satunya jalan untuk mewujudkan perubahan yang hakiki, yakni dengan menjadikan Islam sebagai Ideologi yang memimpin dunia.

Mengembalikan alam semesta dan kehidupan berjalan sesuai dengan aturan-Nya sehingga tak satu pun jiwa yang terluka dan teraniaya. Niscaya kedamaian akan meliputi jagat raya.

Ade Farkah

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 5

Comment here