Opini

Yang Penting Aku?

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Anita Rachman (Pemerhati Sosial Politik)

Wacana-edukasi.com — “Yang penting kita jadi orang baik, rajin shalat, rajin ngaji, banyak zakat, infaq sedekah, khusyuk dzikir pagi petang, kemudian tidak pernah menganggu orang lain, selalu taat peraturan pemerintah, aktif dalam kegiatan kemanusiaan, hidup cukup damai sejahtera, terus mau nyari apa lagi?”

Benarkah demikian? Benarkah semua itu cukup bagi kita sebagai seorang muslim sehingga tak ada lagi yang perlu dicari atau diperbaiki? Bagaimana dengan tontonan hiburan di rumah kita? Amankan dari unsur kemaksiatan yang bisa merusak iman? Darimana kita mendapatkan harta untuk kebutuhan sehari-hari? Bagaimana dengan aktifitas muamalah kita? Dengan apa kita berbelanja? Kartu kredit? E-Money? Dengan cara apa kita membeli rumah atau mobil? Dengan riba?

Bagaimana dengan sekolah anak-anak kita? Mampukah melahirkan generasi Rabbani yang layak melanjutkan dakwah Islam? Dalam kehidupan bermasyarakat, bagaimana aktivitas amar ma’ruf nahi munkar? Adakah kita terusik kemudian menegur saat ada yang melakukan kemaksiatan? Apa yang kita lakukan saat melihat teman atau tetangga kita meninggalkan shalat atau belum menutup aurat? Apa yang kita lakukan saat melihat banyak pasangan muda mudi pacaran tanpa rasa malu?

Kemudian, dalam ruang lingkup yang lebih luas lagi, hukum apa yang diterapkan oleh negara? Apa hukuman bagi pencuri, pezina, pelaku seks menyimpang, pecandu narkoba, koruptor, bahkan pembunuh ? Rehabilitasi? Penjara? Mampukah itu membuat efek jera? Apa yang bisa kita lakukan saat kekayaan alam negeri ini yang begitu melimpah dikeruk asing dan aseng sementara rakyatnya masih banyak yang kelaparan?

Hukuman apa yang dijatuhkan pada para penista Islam? Penghina Al quran? Penghina Rasulullah? Penyerang ulama? Faktanya hanya sebagian yang ditindak, sementara sebagian yang lain bahkan tak tersentuh hukum atau dianggap gila. Apa yang dilakukan negara terhadap muslim Palestina, Suriah, Rohingnya, Yaman, Uighur, dan negeri-negeri muslim lain yang terjajah, disiksa dan dibunuh dengan keji? Bantuan makanan dan obat-obatan saja?

Ataukah semua fakta itu selama ini luput dari perhatian kita karena merasa bukan urusan kita? Itu urusan ustadz dan ulama? Itu urusan pejabat? Kita mah rakyat kecil bisa apa? Jika demikian, lantas bagaimana dengan nash-nash baik dalam Al Quran maupun As Sunnah yang menyebutkan bahwa sesama muslim bersaudara? Bahwa amar ma’ruf nahi munkar adalah wajib? Bahwa menegakkan hukum Allah adalah mutlak?

Rasulullah bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya”. Cinta yang diwujudkan dalam ucapan juga perbuatan, dalam bentuk ta’awun (tolong menolong) dan juga muhasabbah (saling menasehati). Dari mulai yang dekat, misalnya tentangga, hingga yang jauh seperti di Palestina, tak ada sekat wilayah yang menghalangi, semua adalah saudara yang punya hak untuk di tolong dari kesusahan, dibebaskan dari kedzaliman dan penjajahan.

Cinta juga diwujudkan dalam bentuk saling menasehati karena tak ingin saudaranya terjerumus ke dalam dosa, tak rela saudaranya mendapatkan siksa. Maka disinilah peran dakwah itu ada. Dakwah adalah aktiftas menyeru kepada jalan Allah, untuk mengeluarkan manusia dari kekufuran, menuju cahaya Islam yang penuh rahmat dan ampunan.

Rasulullah bersabda: “Demi Zat yang jiwaku berada ditanganNya, sungguh kalian (memiliki dua pilihan, yaitu) benar-benar memerintah berbuat ma’ruf (amar ma’ruf) dan melarang berbuat munkar (nahi munkar), ataukah Allah akan mendatangkan siksa dari sisiNya yang akan menimpa kalian. Kemudian setelah itu kalian berdoa, maka doa itu tidak akan dikabulkan” Pilihannya bukan kita bisa memilih berdakwah atau tidak, melainkan berdakwahlah, atau jika tidak Allah akan mendatangkan siksa dan kemudian setelah itu kita berdoa, maka tidak akan dikabulkan. Dengan kata lain, tidak ada pilihan, kecuali dakwah adalah wajib.

Dan diamnya kita atas segala problematika yang terjadi hari ini bukanlah tanpa konsekuensi, karena Allah berfirman dalam QS Al An Fal: 25 “Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja diantara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaannya”.

Kehidupan yang serba nikmat bukan berarti membuat kita boleh merasa semua baik-baik saja, sehingga menutup mata atas apa yang menimpa saudara-saudara kita karena kita memegang prinsip “yang penting aku”. Karena Islam tidaklah mengajarkan demikian. Islam diturunkan untuk membawa rahmat ke seluruh alam. Namun, hal tersebut hanya akan bisa terwujud saat Islam ditegakkan seluruhnya, bukan hanya sebagian Islam yang ditegakkan, sementara sebagian Islam yang lain ditinggalkan bahkan ditentang dan dimusuhi.

Allah berfirman dalam QS Al Maidah:49 “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. …”

Faktanya, belum semua umat muslim sadar bahwa hari ini kita belum benar-benar Islam. Sebagian umat merasa dengan menjadi orang baik dan beribadah yang rajin, itu sudah islam. Padahal hidup kita hari ini masih campur aduk. Masalah ibadah kita ambil aturan Islam. Tapi di luar ibadah kita pilih aturan buatan manusia.

Urusan individu sama sekali tak boleh dicampuri karena dianggap melanggar hak asasi. Padahal individu adalah bagian dari masyarakat yang akhirnya akan saling mempengaruhi, membentuk kebiasaan hingga norma. Bisa dibayangkan jika norma yang terbentuk jauh dari aturan Allah tapi tetap dijalankan hanya karena sudah menjadi kebiasaan atau sudah diterima masyarakat.

Atau kita merasa, Indonesia bukan negara Islam, jadi tak elok rasanya menuntut seluruh aturan hidup dengan aturan Islam, bagaimana dengan penganut agama lain. Sungguh Allah adalah Al Khaliq juga Al Mudabbir. Maha Pencipta sekaligus Maha Pengatur. Allah mengatur seluruh alam semesta dengan begitu sempurna, termasuk mengatur kehidupan manusia seluruhnya, baik muslim maupun yang ingkar.

Tak layak saat kita seolah meragukan Allah tidak mengatur bagaimana memperlakukan orang-orang kafir. Sejarah mencatat bagaimana orang-orang muslim dan kafir hidup berdampingan, merasakan keamanan juga kesejahteraan yang sama, di bawah kepemimpinan Islam.

Tugas selanjutnya adalah terus memahamkan umat bahwa Islam itu bukan “yang penting aku”, tapi Islam adalah dien yang mengatur seluruh hubungan manusia. Hubungan antara manusia dengan Tuhannya dalam bentuk ibadah ritual, antara manusia dengan dirinya sendiri dalam hal akhlak dan kepriadian, dan antara manusia dengan manusia yang lain dalam bermualamah di segala bidang, pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, politik, kemanaan hingga hubungan luar negeri. Hingga islam benar-benar menjadi sebuah sistem hidup yang akan mampu memecahkan seluruh problematika umat secara tuntas dari akarnya.

Wallahu’alam bishawab.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 0

Comment here