Surat Pembaca

Untuk Menjadi Negara Maju, Cukupkah dengan Program Makan Siang Gratis?

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Nana Juwita, S. Si.

Wacana-edukasi.com, SURAT PEMBACA-– Makan siang gratis merupakan program unggulan salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden. Dengan harapan akan dapat melahirkan SDM yang berkualitas. Memang benar nutrisi atau asupan gizi sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak, asupan gizi yang cukup akan melahirkan generasi yang sehat dan berkwalitas,namun untuk menjadikan sebuah negara menjadi negara yang maju banyak faktor yang akan memepengaruhi hal tersebut tidak hanya dari konsumsi makanan. Bahkan terselenggaranya program ini masih menjadi pertanyaan mengingat besarnya peluang korupsi atas program negara hari ini, yang justru akan makin menjauhkan terwujudnya target yang dimaksud.

Padahal jika ditilik kembali adanya kasus kurang gizi di negeri ini disebabkan karena kemiskinan, di mana ada masyarakat yang memang tidak mampu memenuhi kebutuhan pokoknya, karena tidak memiliki pekerjaan. Hal ini juga adanya faktor pendidikan yang rendah pada masyarakat. Sementara Islam mewajibkan negara menjamin kesejahteraan warganya termasuk anak sekolah, sehingga akan mudah terwujud generasi berkualitas. Islam juga mewajibkan negara menjalankan sistem Islam, termasuk sistem ekonomi Islam yang memiliki konsep bahwa negara wajib menjamin kebutuhan primer(pangan, sandang dan papan) bagi setiap warga negaranya.

Di samping itu Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar sekaligus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, sumber daya manusia (SDM) yang unggul sangat penting untuk membawa Indonesia lepas dari middle income trap. Middle-income trap atau perangkap pendapatan menengah adalah sebuah istilah ekonomi yang diasosiasikan dengan kegagalan suatu negara untuk naik level dari negara berpendapatan rendah ke pendapatan tinggi. oleh karena itu program makan siang grtais ini juga diharapakan dapat membawa Indonesia keluar dari Middle-income trap. namun posisi Indonesia di middle income trape bukan semata karena kwalitas SDM yang rendah. ada banyak faktor lain yang juga berperan, termasuk sistem ekonomi yang digunakan. sementara kwalitas SDM tidak hanya dilihat sehat secara fisik, namun juga dibutuhkan kesehatan mental sehingga menjadi masyarakat yang unggul.

Sejatinya kemajuan sebuah negara tidak hanya harus di ukur dari segi pendapatan semata, namun yang lebih penting adalah pemahaman masyarakat negeri ini dalam memahami keberadaannya di dunia dalam rangka untuk meraih tujuan hidup yang tidak semata memikirkan duniawi namun kehidupan setelahnya yaitu akhirat, sehingga akan menciptakan masyarakat yang memiliki visi misi dunia dan akhirat. jika tolak ukur umat negeri ini hanya bersandar pada halal dan haram maka hal ini sudah dapat dipastikan akan menghantarkan masyarakat negeri ini menjadi masyarakat yang unggul ataupun maju. namun masyarakat yang seperti ini akan terwujud ketika di dukung oleh sebuah sistem yang menerapakan Islam secarah kaffah dalam seluruh aspek kehidupan manusia, sehingga terbentuklah pola fikir dan pola sikap yang islami dan berkepribadian Islam.

Penerapan sistem ekonomi Islam dan sistem Islam lainnya, akan menjamin terwujudnya generasi berkualitas dan juga berkepribadian mulia. Masa dulu Islam memiliki generasi yang kuat fiisik dan mentalnya serta berkepribadian mulia, dan mereka berjuang untuk tegaknya hukum Islam. Lihat saja bagaimana Sultan Muhammad al-Fatih, yang merupakan salah satu pahlawan besar umat Islam selain Shalahuddin al-Ayyubi. di usianya yang masih muda, yakni 25 tahun Muhammad al-Fatih mampu menaklukkan Konstantinopel di Romawi Timur. adanya ilmuwan-ilmuwan seperti Ibnu Sina yang bukan hanya mumpuni dalam bidang kedokteran namun juga mumpuni dalam ilmu-ilmu Islam, bukankah ini sebuah keberhasilan ketika Islam di terapkan sehingga mampu mencetak generasi sekelas Muhammad al-Fatih dan Ibnu Sina.

Sejarah juga mencatat, bahwa keberhasilan penerapan Islam pada masa ketika Rasullullah Saw berdakwah juga ada peran dari para Sahabat Nabi yang memiliki kwalitas fisik dan mental kuat berbekal keimanan yang kokoh seperti: Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin al-Khoththob, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Tholib dan lain-lain. sehingga Islam mencapai masa kegemilangnya, semua itu di dukung oleh sistem Islam yang diterapkan untuk mengatur seluruh kehidupan umat manusia. Wallahu A’lam Bishawab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Loading

Visits: 5

Comment here