Opini

Uji Coba Kurikulum Darurat, Learning Loss Justru Mendarat

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Nadia Fransiska Lutfiani S.P. (Aktivis Dakwah Semarang, Pendidik, Pegiat Literasi)

Wacana-edukasi.com — Bagaikan mencelupkan kertas basah ke dalam larutan minyak panas. sudah terlanjur basah tetapi berharap bisa kering dan kaku kembali untuk digunakan ulang. Sama halnya seperti terjerembabnya permasalahan pendidikan dalam kubangan wabah pandemi yang kian pelik.

Mengujicobakan kurikulum berharap meningkatkan kembali atas penurunan proses pembelajaran yang kurang memikat dengan kurikulum darurat. Nasibnya bisa dilanjutkan atau bahkan jika tetap tidak bisa akan ditinggalkan. Generasi hari ini harus siap dijadikan kelinci percobaan, dengan pembelajaran ditengah keterbatasan dan keterputusasaan.

Memang bukan hanya menghantam dunia pendidikan, semua bidang terdampak imbasnya. Lebih pilunya para generasi yang kembali nasibnya dipertanyakan. Akan ke mana dan perbaikan seperti apa yang paling pas dengan keadaan serta capaian yang harus dituntaskan?

Pemberlakuan kurikulum darurat menjawab tantangan permasalahan pendidikan dan generasi, menjadi acuan untuk menyelamatkan degradasi yang menjadi penyakit hari ini. Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan Dan Kesiswaan (KSSK) Madrasah Ahmad Umar menjelaskan penekanan kurikulum darurat untuk menekankan pengembangan pada karakter, akhlak mulia, ubudiyah, dan kemandirian siswa. Panduan kurikulum juga telah tercantum dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Nomor 2791 Tahun 2020, tertanggal 18 Mei 2020 (kompas.com, 26/ 05/2020).

Harapan besarnya di tengah kondisi tidak normal pembelajaran dan hasilnya tetap bisa normal. Sehingga kurikulum ini berlaku pada jenjang raudhatul athfal (RA), madrasah ibtidaiyah (MI), madrasah tsanawiyah (MTs), hingga madrasah aliyah (MA). Awal langkah yang ditempuh yaitu sebagai panduan penting mengontrol kondisi school from home yang belum jelas kapan waktu berakhirnya. Berdasarkan data yang ada bahwa terdapat tekanan psikososial yang menyebabkan anak ketika pembelajaran jarak jauh merasa stres akibat minimnya interaksi dengan guru, teman atau lingkungan luar (Edukasi.sindonews, 7/2/2021).

Demokrasi Meningkatkan Kerancuan Pemberlakuan Kurikulum bagi Generasi

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) mulai menuai tekanan dan juga permasalahan sejak masa pandemi. Harus berdamai dengan ketidakefektifan pembelajaran, menjadikan beberapa siswa mulai resah dan tidak betah bertahan ditengah keterbatasan.

Bahkan didekade awal perjalanannya tidak sedikit menjatuhkan dirinya pada keterputusasaan dengan bunuh diri. Tidak adanya fasilitas serta pembelajaran yang menekankan pada pemahaman mandirinya, telah banyak menyita kewarasan yang tersisa.

Salah satu efek berkepanjangan yaitu learning loss atau berkurangnya pengetahuan dan keterampilan secara akademis. Learning loss terjadi karena tidak ada interaksi antara guru dan siswa atau tidak ada interaksi selama kegiatan belajar mengajar yang mengakibatkan jatuhnya salah pemahaman dan minim pengetahuan, menjadikan orang tua turun tangan bahkan menjadi korban, karena menumpuknya beban sekaligus peran yang berlipat.

Pada kesempatan lain, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim menyebutkan, akan memberlakukan penyelenggaraan Asesmen Nasional (AN) sebagai perhitungan atau evaluasi dari learning loss yang tengah terjadi. Asesmen Nasional akan berbeda dengan Ujian Nasional berdasarkan Kompetensi Minimum yang terdiri dari literasi dan numerasi, Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar (kompas.com, 31/ 01/2021).

Dinamika yang sangat menarik dalam aturan demokrasi hari ini, menjadikan orang-orang yang di dalamnya menjadi budak kebebasan. Bahkan bebas dalam membuat aturan yang diberlakukan. Demokrasi telah nyata memfasilitasi dan menciptakan iklim kerancuan kebijakan. Generasi dijadikan ajang percobaan untuk menyelesaikan kasus yang semakin melebar dan mengakar.

Pendidikan sebagai wadah mencetak generasi kini justru dipertanyakan keberadaannya. Untuk orientasi apa pendidikan yang diberlakukannya kini. Nilai akademis terus dijadikan acuan keberhasilan hingga melupakan hakikat pembelajaran atas ilmu yang disampaikan. Tidak tergerak karena imu justru tergerak karena tuntutan.

Selama demokrasi yang terfasilitasi melalui sistem kapitalis diberlakukan keberadaannya, maka akan semakin lebar pula kesenjangan yang terjadi bahkan menimpa semua bidang dalam kehidupan. Inlah sumbu utama permasalahan lahirnya kebijakan-kebijakan yang ada.

Metode Pembelajaran Islam Mencetak Generasi dengan Mutu Kurikulum Sahihnya

Lahirnya generasi Islam dengan jejak peninggalan karya-karya serta ilmu yang digunakan hingga hari ini di beberapa kajian bidang ilmu pada pendidikan, menunjukan bahwa peradaban dan kemuliaan telah nyata tercetak dalam bingkai pengaturan Islam yang sempurna.

Generasi Islam tidak hanya ahli dalam bidang ilmu teknologi terapan saja bahkan banyak di antaranya hafal hadis, ahli tafsir, dan penghafal Al-Qur’an. Itu semua tidak bisa diraih kecuali dengan dasar keimanan. Bahkan guru sangat dimuliakan selain diberikan tunjangan kebutuhan pokok, ijarah atas jasanya juga luar biasa, seperti ketika masa kekhilafahan Umar berkisaran 19 juta per bulan. Tentu bukan sembarang angka, tetapi sebagai wujud memulakan.

Keimanan tidak terbentuk kecuali pada setiap aktivitas berbuah amal atau ternilai ibadah dengan menghadirkan Allah ta’ala dalam setiap langkah. Sehingga wajar dalam Islam bukan hanya mengatur ibadah mahdah saja, tetapi semua dalam ranah akidah dari mulai habliminallah, habluminnafsi hingga habluminnas. Sempurnanya Islam ketika diterapkan dalam bingkai syariat Islam kaffah.

Dalam buku asy-syaksiyah al-islamiyah karya Syekh Taqiyuddin membahas bab tentang metode pembelajaran, disimpulkan dalam 3 perkara. Pertama, mempelajari sesuatu dengan mendalam hingga dipahami hakikatnya. Kedua, dalam belajar mesti meyakini apa yang sedang dipelajari sehingga menghasilkan pemahaman yang kuat secara sadar. Bahkan, pada saat bersamaan mampu mewujudkan orang yang memiliki tsaqofah Islam terdorong mengobarkan api membakar kerusakan dan menyalakan cahaya menerangi kebaikan hidup. Ketiga, apa yang dipelajari tidak lain sebagai bekal kebutuhan menjawab persoalan atau sebagai solusi praktis kehidupan.

Di samping itu, pemikiran-pemikiran Islam yang lahir dari tsaqofah menjadikan orang mempunyai semangat menyala, mampu menghadapi segala problem untuk diselesaikan dengan kacamata Islam secara detail dan cermat.

Sehingga benar adanya tujuan politik pendidikan yang dibahas dalam buku “Nizham Islam” bahwa pendidikan membentuk pola pikir dan sikap islami dengan dasar kurikulum akidah Islam mewujudkan keimanan, rasa takut, dan penghambaan atas kebesaran Allah ta’ala.

Semua solusi tersebut tidak bisa diterapkan kecuali dalam negara yang berdasar akidah Islam dan aturannya bersumber dari syariat Islam. Negara dan kepemimpinanya mewujudkan pertanggungjawaban yang terdorong atas keimanan. Sehingga tidak akan muncul percobaan dalam mencetak kegemilangannya.

Wallahua’lam bishshawab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 2

Comment here