Bahasa dan SastraCerpen

Telepati Hati

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Ayla Ghania (Pejuang Literasi)

“Puas kau? Sudah kubilang tak usah merantau. Emak sakit sampai meninggal tak sempet kaulihat”. Teriak Darso kepada adiknya, Sumi. Sumi tertunduk, pikirannya kacau antara sedih bercampur bingung. “Apa iya, ini semua salahku?” Gerutu Sumi.

Semilir segarnya udara pagi di sawah. Tak mampu hilangkan rasa gundah. Sudah seminggu emak meninggal. Jangankan kecupan terakhir, kabar duka datang begitu tiba-tiba. Pikirannya kacau, memorinya kembali ke masa lampau. Saat Sumi minta izin emaknya untuk merantau.
“Tak usah pergilah Sum, ternyata jauh sekali Ternate itu. Lihat peta saja cuma nampak titik”. Saat itu emak menatap Sumi dengan sendu. Mengharap Sumi tak jadi merantau. “Tapi mak, Sumi sudah beli tiket”, jawab Sumi sambil mengemas keperluan yang akan dibawa. Tidak ada ekspresi sedih, raut muka Sumi justru nampak bahagia.

“Ah, cuma dua tahun. Nanti pulang bawa uang bisa untuk daftar kuliah. Biaya kuliah selanjutnya bisa kerja paruh waktu”, senyum Sumi mengembang. Sumi bertekad melanjutkan kuliah dengan hasil keringat sendiri. Upah emak sebagai buruh tani tak cukup untuk biaya kuliah. Sumi pun harus tau diri.

Kring…. Kring…. Tergopoh Sumi mengangkat telepon. Ahad pagi adalah jadwal sumi menerima telepon dari emak. “Assalamu’alaikum… Sum, gimana kabar? Sehat?” Tanya emak. “Alhamdulillah sehat Mak, Emak bagaimana? Sehat-sehat ya mak…” Jawaban Sumi bersahut dengan suara Emak sayup-sayup.
Sumi hanya mampu mengangguk mendengar nasihat Emak yang terus bersambung. Sementara air mata meleleh tak bisa dibendung. Isakan tangis yang tertahan. “Mak, Sumi lelah. Sumi ingin pulang…”. ingin Sumi berkata demikian, tapi harus dia tahan. Tak ingin emaknya khawatir akan Sumi di rantau orang. Mata Sumi mulai memerah sembab “Mak… Sumi….”

“Sum, buka pintu toko dulu!”, teriak ci Eci, bos Sumi. Sumi yang sementara cuci piring langsung menuju toko. Ada Pak Kamis yang menunggu di depan pintu, mengantar beras. “Maaf pak, lama menunggu. Tadi muter-muter cari kunci malah keselip di kolong meja. Taruh berasnya disini saja Pak…” Jelas Sumi. Pak Kamis cuma tersenyum dan mengangguk.
Masih pukul 07.00 pagi. Sambil menunggu anak buah Pak Kamis selesai menaruh beras, Sumi menyapu dan mengelap meja. “Sum, ci Eci mana? Ini kuitansinya”, Pak Kamis memberikan secarik kertas. “Ci Eci lagi ngurusin Tiar pak”. Sumi mengambil kuitansi dan langsung menyalinnya di buku. Ilmu dasar akuntansinya saat SMK dia pakai untuk membuat laporan keuangan.

Matahari mulai mengintip tipis kala ci Eci kembali memanggil Sumi “Sum, suapin Tiar dulu. Saya mau beli ikan”. Rasa lapar, namun Sumi tak mampu menolak. Sumi langsung mengambil Tiar, anak ke-2 ci Eci yang berusia 1 tahun. Keseharian Sumi, sholat subuh langsung masuk dapur, masak, sarapan, barulah jaga toko sambil jagain Tiar.
Toko kelontong tempat Sumi bekerja cukup besar. Lokasi toko strategis dekat pasar tradisional. Barang kebutuhan cukup lengkap dan harga terjangkau. Wajar jika pelanggannya banyak, jam 8.00 pun sudah mulai banyak pembeli. Sementara dua teman Sumi dari kampung mendapat pekerjaan di warung makan.

Hari Sabtu dan Ahad jadwal ci Eci pulang ke rumah suaminya di Sofifi. Giliran putri sulung ci Eci, Fara yang menjaga toko mengisi waktu libur kuliah. Ahad pagi jadwal Sumi menghanyutkan rasa di pinggir pantai. Angin sepoi pagi bercampur wanginya mentari, sedikit menenangkan sumi. Bersantai sebentar sebelum berhadapan dengan gunungan pakaian kotor. “Mak, sudah hampir setahun tak menelpon. Emak sehat-sehat ya mak?” Bisik Sumi, air matanya meleleh. Rindu emak dan kampung halaman tak tertahankan.

Ombak laut membasahi baju Sumi, tapi tak membuyarkan lamunannya. Pikiran Sumi melayang. “Pae, sebenarnya Pae dimana? Andai Pae ada di samping Sumi, mungkin Sumi tak selelah ini mencari uang”. Bapak Sumi menjadi TKI di Malaysia sejak Sumi usia 3 bulan. Seingat Sumi, bapaknya pernah menelpon sekali waktu ia masih kelas 3 SD, tahun 1993. Sumi melihat emak menangis saat itu, entah apa yang dibicarakan pae dan emaknya.

Baru saja Sumi selesai menyetrika, ci Eci sudah memanggil. “Sum, rapikan kamar di lantai atas dulu! Besok siang Hendry pulang”. Sumi langsung menuju lantai dua, kamar keponakan ci Eci. Kamar yang cukup luas berisi peralatan band, tempat tidur, lemari panjang, meja kerja, komputer dan printer. Sumi menyapu dan mengganti seprei. Memastikan kamar mandi cukup air dan tersedia peralatan mandi. Dinding kamar yang penuh poster band underground membuat Sumi tak betah berlama-lama.

“Sum, ini gajimu selama 1 tahun 8 bulan. Ini tiket pesawat untuk besok pagi, malam ini cepatlah berkemas, pastikan jangan ada barang-barangmu yang tertinggal di rumah ini”. Dengan nada bicara yang cukup tinggi, ci Eci memberi gaji Sumi plus tiket pesawat pulang kampung. Sumi merasa diusir secara halus. Dua hari lalu, Sumi ikut mengangkut peralatan band Hendry. Peralatan band yang dibeli ci Eci sebagai hadiah ulang tahun Hendry ke 20.
“Sekali lagi maaf ci Eci, saya tidak tau apa-apa untuk masalah kemaren. Kho Hendry cuma menyuruh saya mengangkat peralatan sisa dan poster di kamar”. Sumi menjelaskan sambil menunduk. Namun ci Eci tak bergeming, tak sedikitpun nampak keinginan melihat Sumi.

“Ahhh, mimpi indahku kenapa harus berakhir seperti ini? Mas Darso tega skali, setahun sudah emak sakit tak memberiku kabar. Tetiba kabar duka emak meninggal begini”. Tak terasa air mata sudah membanjiri kerudung Sumi. “Biarlah ci Eci membenciku, meski tak tau apa salahku. Mungkin ini jalan agar aku bisa pulang lebih cepat, tak harus menunggu masa kontrak habis 2 tahun”. Sumi hanya bisa menutup mata, air mata terus meleleh sampai pesawat landing.
Sampai di Bandara Soekarno-Hatta, Sumi lanjut naik Damri menuju terminal Pasar Senen. Naik mikrolet ke Stasiun Pasar Senen. Dari Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Purwokerto kurang lebih 10 jam perjalanan. Sumi masih harus naik angkot sekali dan naik bis 2 kali untuk menuju kampungnya.

Udara sawah masih terasa sejuk, meski kampungnya banyak berubah. Jalan tanah depan rumahnya sudah di aspal. Sungai di belakang rumah nampak keruh karena limbah pabrik yang berdiri di lahan persawahan. “Sum, bang Darso suruh pulang. Katanya ada tamu dari Ternate”, Sumi terkejut kala Lilis, kakak iparnya menepuk bahu Sumi. Sumi cuma bisa melongo bingung “Teman siapa?”. “Sudah, ayo cepat. Jangan nunggu bang Darso kesini, nanti jadi ribut lagi”, Lilis menarik lengan Sumi.

Baru sampai pagar rumah, Sumi tertegun mengetahui tamu yang dimaksud Lilis. “Kho Hendry kok bisa sampai sini?” Sumi melongo, bagaimana bisa Hendry sampai di rumahnya, sementara ia tak pernah memberi alamat rumah. Pikirannya melayang, “Kesalahan besar apa yang ku buat hingga dikejar sampai sini?”.

“Sum, sepertinya kamu memang sudah cukup umur untuk menikah. Abangmu ini tidak bisa diharapkan untuk menjagamu. Pekerjaan abang yang serabutan harus menanggung 4 anak cukup berat Sum. Kondisi sekarang semua serba sulit, kebutuhan serba mahal”, kali ini Darso nampak bijak berbicara. Tapi Sumi justru bertambah bingung, kenapa tetiba membahas pernikahan.

“Maksudnya apa bang?” Sumi merasa diusir halus. “Gaji Sumi kemaren masih ada bang. Sumi akan berusaha tidak akan merepotkan abang. Tapi tolonglah izinkan Sumi tinggal disini. Kalau abang tak terima Sumi disini, Sumi mau tinggal dimana lagi?” Tiba-tiba air mata sumi meleleh. Sumi hendak masuk ke kamar tapi Darso menahan lengan Sumi dan menyuruh dia duduk.
Hendry nampak tersenyum “Maaf Sum, maksud kedatangan saya kesini, mau meminta izin abangmu, untuk meminangmu”. Sumi merasa bertambah linglung mendengar kata-kata Hendry. “Maaf Kho, Kho Hendry baru kenal saya 4 hari, kenapa tiba-tiba ingin melamar saya. Saya ini anak orang miskin, sekolah juga cuma tamat SMA. Masih banyak wanita lain yang lebih cocok dengan Kho”. Sumi hanya menunduk, perasaannya bercampur aduk.

“Tidak Sum, kamulah kriteria wanita yang kutunggu menjadi pendamping hidup. Maaf, hari pertama saya sampai rumah Ternate, saya membuka rekaman cctv di toko. Saya melihat aktivitasmu seharian. Sesibuk apapun, sholatmu tak kau tinggalkan, auratmu juga terus kau jaga. Kesabaranmu menghadapi omelan ci Eci tiap hari membuat saya terus berfikir. Saya membutuhkan teman hidup yang solehah dan dewasa sepertimu. Apalagi ada amanah toko kelontong dan mebel dari kedua orang tuaku. Kedua orang tuaku sudah meninggal lama. Saya berharap kamu bisa menemani hidup saya dengan cara halal”, Jelas Hendry.

Masih lanjut Hendry, “Ci Eci kemaren kecewa denganku. Harapannya, aku menjadi musisi tapi tak kesampaian. Dua tahun ku kuliah S2 di Australia, aku ikut kajian dan sudah hijrah. Calon istri yang disiapkan ci Eci juga ku tolak halus, karena ku sudah ada calon, yaitu kamu”. Panjang kali lebar Hendry menjelaskan alasan mengikuti Sumi dari Ternate sampai ke kampung halaman.

“Sum, bersediakah kau menikah denganku?” Sikap manis pria berjenggot tipis ini membuat Sumi sulit menolak. “Maaf Kho, untuk masalah ini saya serahkan di bang Darso saja. Keputusan bang Darso itu keputusanku” Sumi membuka sedikit senyum dibalik mata yang sembab dan langsung menuju kamar.

Akhirnya, kampung Sumi riuh dengan walimahan “Siti Sumayah & Hendry Kurniawan”.

The End

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 6

Comment here