Surat Pembaca

Tanpa Islam Hidup Kelam

blank
Bagikan di media sosialmu

wacana-edukasi.com– Miris. Entah apa yang ada di benak seorang pemuda bernama Medi Candra alias Memed (23) warga Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) terlibat duel maut dengan dengan rekannya sendiri, Adi Kurnia (20). Hanya karena saling ejek, Medi tewas di tangan Adi setelah ditusuk sebanyak 24 kali. Peristiwa itu terjadi di Jalan Ahmad Yani, Lorong Kenari, tepatnya di belakang Hotel Maqdis, Minggu (6/2/2022) sekitar pukul 02:00 WIB. Sebelumnya mereka juga sempat minum alkohol bersama. Pelaku yang tak terima akhirnya mengeluarkan senjata tajam dan melukai tubuh korban hingga meninggal dunia (Sumsel.idntimes.com 7/2/2022).

Di tempat lain, duel mau berujung hilangnya nyawa juga terjadi Indralaya, Sumatera Selatan. Peristiwa yang terjadi pada Sabtu (5/2) itu menawaskan Hajrat (22), ayahnya Darmawan (55), dan Solah (55) dilarikan ke Rumah Sakit untuk mendapat perawatan. Menurut Kepala Desa setempat, Samsul peristiwa itu diduga dilatarbelakangi terkait pergantian jabatan ketua komite sekolah SMK Negeri 6 yang sebelumnya dijabat oleh Darmawan. Hajrat diketahui meninggal dunia setelah mengalami luka bagian perut dan luka robek di sejumlah bagian tubuh (TVOneNews.com 5/2/22).

Seperti inilah kehidupan tanpa Islam, kelam dan suram. Manusia diperbudak nafsu dan melepaskan aturan agama dalam kehidupan (sekularisme). Alhasil, agama hanya dipandang sebagai ibadah ritual saja. Sementara dalam kehidupan manusia bebas melakukan sesuai keinginannya sendiri.

Lihatlah, betapa banyak iman manusia yang kering tanpa Islam. Sehingga dalam melakukan perbuatan tak menimbang lagi halal dan haram. Manusia mudah kalut dan bisa bertindak kejam. Seperti kejadian ini, nyawa manusia seolah tak ada harganya. Sesama manusia saling melukai hingga berbuat keji. Naudzubillah!

Sesungguhnya kita tidak boleh membiarkan hal ini terus terjadi. Karena entah akan berapa banyak kasus serupa seperti ini. Kehidupan jika tanpa diatur dengan sistem Islam akan mudah menimbulkan kemaksiatan. Sayangnya, jika kita masih dalam sistem kapitalis demokrasi sulit menjadikan manusia memiliki iman. Karena kehidupan dipandang sebatas ada manfaat atau tidak.

Oleh karena itu, bentengilah diri dengan keimanan dan ketakwaan yang kuat. Sebab, iman inilah sebagai perisai diri dalam melakukan perbuatan. Kita tidak mudah berbuat sesuatu yang menghantarkan keharaman. Apalagi membunuh saudaranya, Allah Swt. telah berfirman bahwa itu adalah dosa besar. Firman Allah : “Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Dan barangsiapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat.” (QS Al-Furqan Ayat 68).

Maka, sudah saatnya menutup celah maksiat dengan sentiasa berislam secara kaffah (keseluruhan). Sebagai individu kita akan menjadi orang yang bertakwa, masyarakat yang senantiasa melakukan amar ma’ruf nahi munkar, dan negara yang berkah dengan membangun sistem Islam sebagai pondasi dalam mengatur kehidupan.

Ismawati
Palembang, Sumatera Selatan

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Loading

Visits: 17

Comment here