Opini

Sistem Kapitalisme Mengoyak Potret Buram Keluarga Indonesia

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Leihana (Ibu Rumah Tangga Pemerhati Ummat)

Wacana-edukasi.com — Keluarga adalah benteng pertahanan terakhir setiap negeri. Sebab keluarga adalah cikal bakal terbentuknya sebuah masyarakat dan berlangsungnya kehidupan. Sebuah keluarga bukan hanya berfungsi memproduksi generasi penerus, melainkan awal dari sumbu kehidupan terbentuknya peran-peran penting dalam kehidupan.

Diawali dengan sebuah pernikahan pasangan suami istri yang saling berkomitmen. Di mana pernikahan bukan sekadar hidup bersama tetapi juga untuk mengambil peran dan melindungi peran pasangan satu sama lain. Menjadi suami bukan menjadi superior lebih tinggi pangkat dan kedudukannya dari istri, bukan menjadi atasan seperti hirarki dalam jabatan pekerjaan tetapi sebagai imam (pemimpin) yang bertanggung jawab dalam urusan dunia dan akhirat bagi istri dan anak-anaknya dengan memenuhi nafkah lahir dan bathin. Membimbing dan menuntun istri senantiasa dalam jalan kebenaran, melengkapi berbagai kekurangannya, berhubungan dan berkata baik juga lemah lembut kepada pasangannya.

Begitu pun seorang istri, bukan hanya sebagai pelengkap kehidupan suaminya tapi senantiasa taat pada suami dalam perkara kebenaran, menjaga kehormatan, harta dan rumah suami juga bersama suami mendidik anak-anak dalam pengasuhan terbaik, tidak durhaka melawan apalagi mencelakai pasangannya.

Sejatinya hubungan pasangan suami istri ini terjalin bagaikan ikatan yang kuat dan indah mereka saling melengkapi menjadi sisi sayap satu sama lain. Bagi pasangannya keluarga ini bisa dipastikan dapat melahirkan anak keturunan yang baik pola pikir dan perilakunya. Sehingga anak-anak memahami perannya untuk mengikuti/taat pada perintah orang tua dalam perkara kebenaran, mengetahui target kehidupan yang mesti mereka capai bukan hanya ijazah dari pendidikan tinggi tetapi harus menggapai ilmu dan pemikiran yang mulia yang bermanfaat untuk sesama di dunia dan akhirat.

Begitulah keluarga akhirnya bisa menjadi benteng yang handal untuk sebuah bangsa apa pun. Ketika badai kesulitan yang menerpa sebuah bangsa dan keluarga di dalamnya kuat maka bangsa itu akan bertahan meski menghadapi bom nuklir sekalipun. Sementara jika keluarga yang tersisa rapuh maka akan meninggalkan yang generasi yang rapuh pula.

Namun sayangnya, justru saat ini kita disungguhkan dengan potret kehidupan keluarga di Indonesia, yang akan meneteskan air mata dan megelus dada.
Hal itu disebabkan karena potret keluarga di Indonesia bukan hanya sudah buram, bahkan hampir menemui titik nadirnya. Fakta yang menyesakan dada tersebut kian deras bergulir dalam pemberitaan media, bagaimana potret itu menggambarka peran-peran penting dalam sebuah keluarga semakin bias bahkan membusuk. Suami kehilangan kasih sayang bahkan kepemimpinannya pada istrinya bahkan tidak sedikit fakta tentang suami menyiksa juga membunuh istrinya. Begitupun peran istri di masa sekarang semakin meninggalkan fitrahnya. Dan yang lebih miris lagi banyak kacang pada kulitnya tega mecelakai dan menggugat orang tua dengan alasan materi semata.

Dilansir dari Kompas.com, Kamis 21 Januari 2021. Koswara kakek 85 tahun asal Kecamatan Cinambo, Kota Bandung yang digugat Rp 3 miliar oleh anak kandungnya baru mengetahui jika Masitoh anak ketiganya meninggal dunia setelah sidang perdata digelar. Masitoh adalah kuasa hukum Deden anak kedua Koswara.

Bandung, Kompas TV – Gugatan anak kepada ayah kandungnya senilai Rp 3 miliar di Bandung, Jawa Barat, menjadi sorotan. Selain karena nilai gugatan, perseteruan antara anak dan ayah ini juga menjadi sorotan karena melibatkan anggota keluarga kandung lainnya sebagai pengacara kasus ini. Sebagaimana diberitakan juga oleh PRFMNews.id dalam artikel “Ketemu Kakek Digugat Anaknya Rp3 Miliar di Bandung, menurut Dedi Mulyadi, kakek tua bernama Koswara itu digugat anaknya soal tanah seluas 3.000 meter persegi, yang notabene milik orangtua Koswara, di daerah Cinambo, Kota Bandung, Jawa Barat.

Rusaknya potret keluarga di Indonesia saat ini, salah satunya akibat gagalnya anggota keluarga memahami perannya masing-masing. Satu sama lain antaranggota keluarga memandang kepentingan hanya berdasarkan tolok ukur materi semata. Suami maupun istri hanya menghormati pasangannya ketika pasangannya memiliki atau menghasilkan materi berupa uang. Begitupun anak hanya menghormati orang tuanya jika orang tua mereka memberi cukup uang. Bukan hanya terjadi pada anak yang di bawah umur, bahkan anak yang sudah dewasa menuntut harta dari orang tuanya jua menuntut warisan pada orang tua yang belum meninggal. Lebih konyol lagi anak tersebut memperkarakan orang tuanya dalam gugatan di pengadilan.

Tentu saja potret buram keluarga tersebut terjadi bukan hanya kesalahan cara pandang semata. Melainkan juga merupakan korban sistem yang diterapkan di negara ini. Selain sekularisme (ide memisahkan agama dari kehidupan) yang menjauhkan Islam dalam berbagai lini kehidupan dan juga menerapkan sistem kapitalisme yang menjunjung tinggi kebebasan individu dan materi sebagai tolok ukur kebahagiaan. Sehingga setiap individu berlomba menghalalkan segala cara mengejar materi semata. Korban kapitalisme ini akhirnya setiap anggota keluarga atau masyarakat hanya mengarahkan orientasinya pada materi dengan mengesampingkan akhlak maupun moral dan adat ketimuran.

Padahal dalam Islam sudah dijelaskan dengan gamblang tentang hak dan kewajiban orang tua dalam membesarkan anak, begitupun hak dan kewajiban anak terhadap orang tua. Apalagi jika orang tua sudah tidak mampu mencari nafkah bahkan mengurus dirinya sendiri maka anak wajib memenuhi dan merawat kebutuhan orang tuanya. Selain itu Islam menjadikan rida Allah sebagai tujuan utama setiap manusia, sehingga setiap individu berlomba mengejar kebaikan untuk akhirat mereka.Tidak akan terlukis lagi potret buram keluarga yang miris seperti yang terjadi dalam sistem kapitalisme.

Maka dari itu, sudah saatnya sistem kapitalisme dicampakkan dan diganti dengan sistem Islam yang akan menerapkan Islam secara kaffah dalam bingkai  khilafah Islamiyyah yang telah Allah janjikan akan tegak kembali sebelum zaman menutup masanya.

Walllahu a’lam bishshawab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

blank

Hits: 6

Comment here