Surat Pembaca

Rapor Merah Pendidikan dalam Kapitalisme

blank
Bagikan di media sosialmu

wacana-edukasi.com, SURAT PEMBACA– Setiap tanggal 2 Mei, negeri ini senantiasa memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Mirisnya, pendidikan di negeri ini masih memiliki rapor merah yang seharusnya menjadi renungan bagi semua pihak. Mulai dari kebingungan atas bergonta-gantinya kurikulum, minim sarana-prasana, mahalnya sekolah yang berkualitas, dan yang paling parah adalah lahirnya output siswa yang tidak beradab.

Beberapa waktu yang lalu, kita dihebohkan dengan viralnya remaja di Bandung yang melakukan aksi perundungan dengan mengancam dan memukul korbannya. Parahnya, aksi ini dengan bangganya di siarkan secara langsung di live tiktok.(www.jabar.idntimes.com-27/04/2024) Banyaknya kasus serupa, hingga di rangkum dalam sepekan melalui tribunnews.com, yaitu kasus pertama adalah perundungan seorang siswa di Balikpapan yang melibatkan sejumlah temannya. Mereka menjambak, memukul kepala korban dan melakukan kekerasa fisik kepada korban. Parahnya, lagi-lagi mereka merasa tidak bersalah dengan menvideokan aksi tersebut. Kasus kedua yaitu sekelompok remaja putri di Batam, melakukan perundungan kepada seorang temannya dan viral dimedia sosial. Kasus ketiga, siswa SD di Indramayu ditelanjangi dan ditendang oleh teman-teman sekelasnya. Kasus keempat, siswa SMP di Kabupaten Cirebon di rundung dengan ditendang dan dipukul. (www.tribunnews.com-08/04/2024

Orientasi Pendidikan dalam Kapitalisme

Orientasi pendidikan dalam kapitalisme adalah capaian berupa nilai materi. Ketika sedang sekolah, target pencapaiannya nilai secara kognitif. Saat lulus sekolah, bagaimana capaiannya adalah masuk perguruan tinggi atau dapat bekerja. Pemahaman agama (halal-haram), pengamalan adab-akhlak, dan pemastian penerapan perintah Allah SWT, tidak pernah menjadi target orientasi dalam pendidikan. Baik dalam proses pendidikan maupun mapelnya (mata pelajaran), sangat minim ada perhatian.

Orientasi pendidikan dalam kapitalisme, memang sejalan dengan nafas yang dibangun dari asas kapitalisme yaitu sekularisme (memisahkan agama dengan kehidupan). Wajar jika pada kini hari, minim orientasi bagi para guru untuk membangun pemahaman kepada siswanya tentang kepahaman agama (halal-haram), pelaksanaan adab-akhlak, dan pengamalan perintah Allah SWT. Akhirnya berbanding lurus dengan output siswa yang minim adab dan rentan untuk melakukan pelanggaran hukum syara, salah satunya siswa berani untuk melakukan perundungan yang padahal di dalam Islam, Allah SWT melarang dengan tegas aktivitas tersebut.

Pendidikan Islam Melahirkan Generasi Cerdas dan Beradab

Islam memiliki aturan yang khas, sebab ia datang dari Sang Maha Pencipta. Islam menempatkan posisi pendidikan sebagai wilayah yang strategis. Sebab pendidikan Islam ditujukan, agar melahirkan generasi takwa, cerdas, dan beradab. Orientasi tujuan pendidikan Islam ada empat aspek yaitu pertama, siswa dibentuk agar memiliki kepribadian Islam. Kedua, siswa diharuskan untuk menguasai dan paham pemikiran Islam. Ketiga, siswa didorong dan difasilitasi, agar mampu menguasai ilmu-ilmu terapan (pengetahuan, ilmu, dan teknologi). Keempat, siswa diarahkan agar memiliki keterampilan yang tepat dan berdaya guna, agar bisa mengamalkan ilmunya.

Adapun kurikulum dalam pendidikan Islam, dibangun berdasarkan asas akidah Islam. Mata pelajaran dan metodologinya disesuaikan dengan asas tersebut. Guru sebagai teladan bagi siswa, harus menjadi contoh terdepan dalam ketakwaan, yang mengamalkan kepribadian Islam dan menerapkan adab-akhlak yang baik. Bukan guru yang hanya sekadar menyampaikan ilmu, tetapi ia juga yang melaksanakan dan membimbing siswanya dengan penuh ketulusan.

Negara (khilafah) akan memberikan fasilitas pelatihan terhadap guru, untuk meningkatkan kompetensi guru. Negara juga akan memastikan sarana dan prasarana yang cukup, agar menunjang keberhasilan metode dan strategi belajar, untuk mencapai tujuan pendidikan. Negara juga akan menjamin kesejahteraan guru sebagai tenaga profesional, yakni dengan gaji yang memadai. Dengan jaminan dan perhatian yang dilakukan oleh negara tersebut, sangat wajar akan menjadi sangat mudah untuk mencapai tujuan pendidikan Islam. Dengan sistem pendidikan Islam, generasi cerdas dan beradab akan terbentuk dan rapor merah pendidikan akan terhapuskan.

Wallahu ‘allam bi shawwab

Sahreva Kurniati, S.Pd., C.MT., Bandung
(Penulis Buku Bahagianya Berprofesi Sebagai Ibu)

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Loading

Visits: 19

Comment here