Opini

Potret Hubungan Luar Negeri dalam Sistem Khilafah

blank
Bagikan di media sosialmu

Penulis : Siti Rima Sarinah (Studi Lingkar Perempuan dan Peradaban)

wacana-edukasi.com– Indonesia, adalah negeri Muslim yang Allah swt berikan kekayaan alam yang melimpah ruah. Kekayaan alam yang dimiliki oleh negeri ini, menjadi daya tarik bagi negara-negara barat berbondong-bondong menawarkan berbagai macam kerjasama dalam bentuk investasi. Penawaran kerjasama ini, bukanlah tanpa sebab. Para investor yang berasal dari negara-negara asing dan aseng ini, tentu ingin menikmati kekayaan alam yang dimiliki oleh negeri yang dikenal dengan sebutan Zamrud Khatulistiwa.

Seperti halnya kunjungan Menteri luar negeri Inggris Elizabeth Mary Truss, yang mendapatkan sambutan hangat saat tiba di Bogor Creative Center (BBC) Kota Bogor, pada Jum’at (12/11). Kedatangan Menlu Inggris ini berkaitan dengan kerjasama antara Kedutaan besar Inggris dengan Jawa Barat untuk memajukan ekonomi kreatif dan teknologi di Jawa Barat. Dengan meluncurkan program Nurture to Scale yang melibatkan anak muda di Jawa Barat di dunia kreatif. Kedatangannya ke Indonesian menjadi prioritas bagi Inggris untuk membangun kerjasama terutama dalam ruang lingkup ekonomi, perdagangan, invesasi dan juga teknologi (RadarBogor, 12/11/2021)

Indonesia dijadikan negara percontohan sebagai mitra kerjasama dalam program Nurture To Scale dalam kerjasama bilateral. Dan dalam program tersebut menggandeng 35 start up atau bisnis rintisan dari seluruh Provinsi Jabar, untuk membangun kemitraan antara bisnis teknologi Inggris dan Indonesia. Program yang dijalankan UK-Indonesia Tech Hub dan Endeavor tersebut menyasar start up di sejumlah sektor. Diantaranya, kesehatan, tanggap Covid-19, tanggap bencana yang berfokus pada UMKM, perubahan iklim, kemanusiaan hingga pemberdayaan perempuan (Republika.co.id, 13/11/2021)

Selintas kerjasama ini terlihat sangatlah bagus, apalagi melibatkan generasi muda untuk terlibat didalamnya. Apalagi menurut Menlu Inggris, Indonesia memang menjadi prioritas negaranya untuk bekerjasama dalam area ekonomi, perdagangan, investasi dan juga teknologi. Terbayang manfaat keuntungan ekonomi yang akan diperoleh Indonesia dari kerjasama ini. Namun, benarkah kerjasama ini akan membawa keuntungan dan manfaat secara ekonomi atau malah sebaliknya?

Klaim bahwa kerjasama bilateral dan multilateral akan membawa Indonesia pada kemakmuran dan kesejahteraan hanyalah ilusi semata. Justru adanya berbagai macam kerjasama yang ditawarkan oleh negara-negara asing, menjadikan Indonesia semakin terperangkat dalam jebakan investasi yang mereka tawarkan. Walhasil, Indonesia sangat ketergantungan dengan negara-negara penginvestor, sehingga Indonesia menjadi tunduk dan patuh terhadap apa saja yng diinginkan oleh negara penginvestor tersebut.

Hal ini mengakibatkan Indonesia tidak akan pernah bisa keluar dari kubangan investasi asing, yang berdampak pula pada hilangnya kedaulatan Indonesia terhadap negara-negara barat. Karena pada prinsipnya berbagai pemufakatan bilateral dan multilateral telah menekan Indonesia untuk mematuhi klausul perdagangan bebas. Apalagi Indonesia menjadi salah satu negara yang ikut dalam berbagai organisasi internasional seperti ASEAN dengan berbagai perjanjian yang harus dipatuhi dan ditaati oleh setiap negara yang tergabung didalamnya.

Gencarnya pemerintah Indonesia untuk terus menyambut uluran kerjasama yang ditawarkan oleh negara-negara barat, mengakibatkan perekonomian negeri ini menjadi porakporanda. Dan akhirnya rakyat lagi yang menjadi korban dari berbagai tawan kerjasama dengan dalih investasi. Saat ini kita sangat jelas melihat bagaimana Cina, Amerika, Australia, Inggris dan masih banyak lagi negara lainnya yang menanamkan investasinya di negeri ini. Walhasil, negara-negara tersebut sudah menguasai hampir seluruh perekonomian dan menguasai seluruh sumber kekayaan yang ada. Indonesia bak makanan yang diperebutkan oleh negara-negara barat untuk dikuasai.

Ini membuktikan bahwa berbagai kerjasama ini hanya akan membawa kerugian bagi Inodnesia, bukan hanya semakin besar utang tetapi Indonesia juga sudah kehilangan kedaulatannya sebagai negara. Dan semakin kuatnya hegemoni negara-negara asing beserta ideologi yang mereka bawa untuk menancapkan cengkeramannya di negeri-negeri jajahannya. Rakyat pun hidup dengan bergelimang kemiskinan dan kesengsaraan serta jauh dari penghidupan yang layak. Hidup dinegara yang kaya raya namun tidak sedikitpun rakyat merasakan kekayaan tersebut, karena kekayaan itu sudah habis diperebutkan oleh negara-negara barat.

Allah berfirman dalam QS Al-Maidah : 51 yang artinya,” wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setiamu, mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa diantara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. Ayat ini adalah merupakan peringatan dari Allah swt, kepada kaum Muslim berteman dengan orang-orang kafir dan melarang berada dalam kekuasaan orang-orang kafir.

Indonesia sebagai negeri Muslim terbesar dunia, wajib bersegera untuk melepaskan diri dari hegemoni negara-negara barat seperti Cina, Amerika, Inggris dan lain sebagainya. Islam mewajibkan negara tampil dalam percaturan politik internasional dengan penuh kewibawaan dan kemandirian. Islam juga sangat memperhatikan status negara asing dalam menjalin hubungan luar negeri baik dalam bidang politik, ekonomi, dan lainnya.

Islam mewajibkan negara untuk memiliki peta pengaruh dan kekuatan negara-negara didunia dan menjadikan aqidah Islam sebagai landasan dalam membangun hubungan dengan negara asing. Dan mendakwahkan Islam ke penjuru dunia hingga Islam tersebar keseluruh dunia. Dalam negara Islam (Khilafah) bentuk kerjasama tergantung dari posisi tersebut. Bagi negara yang secara nyata memerangi dan memusuhi Islam dikategorikan sebagai negara muhariban fi’lan. Ini adalah negara yang kedudukannya sebagai kafir fi’lan, maka diharamkan untuk melakukan kerjasama dalam bentuk apapun. Seperti negara Cina, dan Amerika. Adapun negara kafir muahid, mereka adalah negara-negara yang terikat perjanjian dengan Khilafah. Kita diperbolehkan untuk menjalin kerjasama dengan mereka, dengan syarat tidak menimbulkan kerugian dan mengancam kedaulatan.

Demikianlah mekanisme Islam dalam menetapkan dalam menjalin hubungan kerjasama dengan negara lain. Begitupula khilafah mampu menjadi negara adidaya dunia selama 13 abad karena industri yang dibangunnya diletakkan sebagai industri perang dan alat berat. Hal inilah yang mampu menggentarkan negara penjajah. Khilafah akan menjaga dan melindungi umat dari bahaya neoimperalisme yang bersembunyi dibalik tawaran kerjasama, dengan seperangkat aturan yang komprehensif.

Dengan adanya seperangkat aturan ini, tidak ada celah bagi negara-negara asing untuk mengeruk kekayaan alam rakyat, seperti halnya yang terjadi dalam sistem kapitalisme. Kerjasama ini pun dilakukan untuk menguntungkan kedua belah pihak, karena kerjasama bersumber dari syariat Islam bukan sebaliknya. Rakyat pun terlindungi dari berbagai bahaya yang akan mengancam negara dan kehidupan serta menyelamatkan kekayaan umat, karena khilafah hadir sebagai perisai dan junnah bagi rakyatnya.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

blank

Hits: 49

Comment here