Oleh : Ummu Gendiscantika
Wacana-edukasi.com, OPINI–Tak dimungkiri, semakin hari semakin banyak bermunculan kasus kekerasan karena terinspirasi game online. Kasus kekerasan itu berupa bullying, bunuh diri, teror bom di sekolah, bahkan hingga pembunuhan. Hal ini karena dalam game tersebut mengandung konten kekerasan. Konten-konten itu juga mudah diakses anak-anak, sehingga berpengaruh pada emosi dan kesehatan mentalnya.
Seperti diberitakan Kompas.com (29-12-2026), Polrestabes Medan mengungkap kronologis dugaan pembunuhan yang di lakukan oleh seorang anak perempuan berinisial AL (12 tahun). Ia membunuh ibunya sendiri yang berinisial F (42 tahun) di Kota Medan.
Kapolrestabes Medan Komisaris besar polisi Calvin Simanjuntak menyampaikan bahwa, sebelum kejadian korban bersama dua anaknya tidur dalam satu kamar di lantai satu. AL dan korban berada di tempat tidur bagian atas, sedangkan kakak korban tidur di kasur bagian bawah. Sementara itu, suami korban beristirahat di lantai dua kediaman mereka.
Tepatnya pada Rabu (10/12/2025) sekitar pukul 04.00 WIB, AL bangun menuju dapur mengambil pisau. Dengan pisau itu, ia melukai korban yang sedang tertidur dengan 26 kali tusukan. Dalam wawancaranya di Polrestabes Medan pada Senin (29/12/2025), Komisaris besar polisi Calvin mengatakan bahwa AL mengambil pisau, membuka bajunya, dan melukai korban.
Selain itu, ada juga kasus seorang siswa yang melakukan pengeboman di salah satu sekolah di Jakarta. Diberitakan oleh cnnindonesia.com (26-12-2026), Kepolisian Depok, Jawa Barat menetapkan seorang tersangka kasus dugaan teror bom terhadap 10 sekolah yang ada di Kota Depok, Jawa Barat. Tersangka berinisial HRR yang berusia 23 tahun itu, ternyata masih berstatus sebagai mahasiswa.
Kepala satuan Reserse kriminal Polres Metro Depok Kompol Made Gede Oka mengatakan bahwa motif HRR melakukan teror tersebut, diduga karena buntut kekecewaannya kepada mantan kekasih berinisial K karena lamarannya ditolak. Puncaknya, HRR meneror 10 sekolah tersebut dengan ancaman bom mengatasnamakan K. Karena kasus tersebut, kini tersangka dijerat dengan UU ITE dan KUHP.
Abainya Pemimpin Negeri
Itulah bahayanya jika platform digital dibuat bebas seperti saat ini. Platform digital seharusnya bisa dimanfaatkan untuk kemajuan pemikiran anak muda. Di antaranya menjadikan manusia yang semakin terdidik dan berakhlak baik. Akan tetapi, karena kesalahan pembuatan platform itu justru menjadikan para pemuda semakin terjerumus pada jurang kerusakan.
Semua itu potret dari lengahnya penguasa dalam meriayah rakyatnya. Platform digital yang harusnya bisa dimanfaatkan untuk kemajuan pemikiran generasi, tapi malah mengantarkan pada jurang kehancuran generasi. Andaikan penguasa tak arogan dalam meraup keuntungan, maka tentu semua ini tak akan mungkin terjadi. Sayangnya saat ini penguasa bersekongkol dengan para oligarki hanya fokus pada memperkaya diri sendiri, sehingga tak peduli platform yang bebas itu baik atau buruk bagi generasi.
Mereka tak peduli pada keberlangsungan hidup generasi yang sejatinya masih panjang ke depan. Sudahlah rakyat dizalimi dengan berbagai aturan yang tidak berhati nurani, di tambah tidak pedulinya mereka pada generasi. Jadi jangan kaget jika banyak ajaran-ajaran dari platform digital yang akhirnya merusak kalangan generasi.
Alat perusak generasi itu benar-benar dikemas sedemikian rupa, seperti dalam bentuk game yang menarik, tapi benar-benar jauh dari kata mendidik. Permainan game-game tersebut justru menginspirasi kejahatan, dan semakin menjauhkan anak-anak dari ajaran yang mengajak pada kebaikan.
Ruang digital yang dikuasai oleh kapitalis global untuk meraup banyak keuntungan itu, sesungguhnya berpotensi menghancurkan generasi di masa mendatang. Mereka tidak memedulikan masa depan generasi. Sebaliknya, mereka malah berlomba lomba memanfaatkan berbagai situasi untuk menciptakan ide-ide gila yang semakin menghancurkan kehidupan manusia.
Mirisnya, negara pun tidak mampu melindung generasi dari bahayanya kerusakan akibat game online dengan konten kekerasan. Demi cuan, mereka tak peduli generasi, dan terus terjang tanpa menoleh ke belakang apa saja yang sudah mereka lakukan.
Islam Membentengi Generasi
Begitu banyaknya kerusakan yang terjadi karena kesalahan penerapan sistim yang di anut negara saat ini. Namun, Islam hadir memberi solusi bagi setiap problematik kehidupan. Salah satunya yaitu Islam mewajibkan negara untuk senantiasa menjaga dan melindungi generasi dari segala bentuk kerusakan. Baik kerusakan akidah, ahlak, maupun kerusakan mental.
Hegemoni ruang digital yang di ciptakan oleh kapitalisme global harus dilawan dengan kekuatan yang lebih besar, yaitu dengan kedaulatan digital. Hal itu bisa meminimalisasi terjadinya kerusakan generasi yang terus berulang. Negara juga harus senantiasa hadir memberikan solusi bagi setiap problematik.
Selain itu apabila terjadi kerusakan generasi, maka bisa ditangani dengan 3 pilar, yaitu pentingnya ketakwaan individu, adanya kontrol masyarakat, dan perlindungan dari negara. Jika negara menerapkan sistem politik, ekonomi, pendidikan, pergaulan sosial, dan sistem budaya Islam, maka niscaya keamanan dan keselamatan generasi akan terjaga.
Sungguh, betapa pentingnya menjaga generasi dengan ketakwaan. Negara pun wajib memelihara kehidupan mereka, yaitu memberi perlindungan dari segala bentuk bahaya, termasuk ancaman yang membahayakan tumbuh kembang anak. Semua itu juga menjadi tanggung jawab negara. Rasulullah saw. bersabda :
عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم، إنما بعثت لأتمم صالح الأخلاق
Dari Abi Hurairah, Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya aku diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad).
Dengan demikian apabila para pemimpin mampu mengemban amanah untuk menjaga generasi dari segala kerusakan, termasuk kerusakan yang dipicu platform bebas sebagai mana hari ini, maka akan meminimalisasi terjadinya kerusakan yang ada di tengah-tengah generasi saat ini.
Wallahua’lam bishowab.
Views: 10


Comment here