Opini

Penjualan Beras ke Retail, Membuat Sengsara Rakyat Kecil

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh Siti Maryam

wacana-edukasi.com, OPINI– Ironis, negeri agraris tapi rakyatnya tak dapat menikmati harga beras murah. Badan Pangan Nasional (NFA) meminta Bulog memperluas operasi pasar beras medium dengan melakukan penjualan langsung ke toko retail modern. Kepala Badan Nasional, Arief Prasetyo Adi mengatakan, langkah ini dilakukan untuk meningkatkan pelaksanaan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sesuai arahan Presiden Joko Widodo dalam rangka stabilisasi harga beras ditingkat konsumen.

Arief berharap, hilirisasi beras SPHP ke pasar retail ini dapat mendorong keterjangkauan beras medium bulog di masyarakat. Dengan begitu, beras bulog tidak hanya bisa didapatkan di Kanwil Bulog atau pasar-pasar tradisional, tetapi juga di warung sekitar pemukiman warga, toko-toko Rumah Pangan Kita (RPK) Bulog dan retail modern baik secara daring maupun luring.

Upaya untuk mendorong beras Bulog ke penjual retail tersebut sudah sesuai dengan Kepurusan Badan Pangan Nasional Nomor 01/KS.02.02/K/1/2023 tentang Petunjuk Pelaksanaan SPHP. Dalam jungklak tersebut, Bulog dapat melaksanakan SPHP melalui operasi pasar secara langsung ditingkat eceran atau melalui distributor dan mitra yang ada di pasar tradisional atau modern serta tempat-tempat yang mudah untuk dijangkau lainnya.

Penjualan beras bulog ke retail modern, dapatkan menjadi solusi krisis pangan ini?

Komoditas Beras merupakan komoditas paling penting di Indonesia karena perannya sebagai makanan pokok yang dikonsumsi oleh mayoritas penduduk setiap hari sebagai asupan karbohidrat. Karena itulah beras menjadi bahan pokok yang sangat penting bagi masyarakat.

Perlahan namun pasti, kenaikan harga beras semakin hari semakin menjadi. Beras yang biasa kisarannya Rp. 10.000/kg kini naik menjadi Rp. 12.000/kg. Hal ini semakin menambah beban kebutuhan rakyat Indonesia. Alih-alih memberi solusi yang tepat, pemeritah malah mengeluarkan kebijakan penjualan beras Bulog di sekitar lingkungan masyarakat.

Kenaikan harga beras ini merupakan dampak dari naiknya harga-harga pupuk yang menjadi penopang dari tumbuh suburnya padi yang ditanam oleh para petani. Banyak kita temui para petani yang mengeluhkan kenaikan harga-harga pupuk ini. Apalagi bagi para petani kecil yang hanya menggarap sepetak lahan kecil. Bahkan sampai berhenti untuk bertani karena tak mencukupinya modal untuk bertani.

Kenaikan harga-harga pupuk ini juga disebabkan oleh naiknya harga BBM beberapa waktu yang lalu. Yang berdampak pada seluruh kebutuhan masyarakat bukan hanya pada beras saja.

Penjualan beras bulog ke retail modern pun bukanlah solusi yang tepat, karena kita ketahui bahwa beras bulog ini bukan hanya mengandalkan beras medium lokal saja melainkan juga mengandalkan beras premium import dari luar negeri. Ketika kurangnya pasokan beras di Indonesia. Meskipun kita ketahui bahwa saat ini beras bulog memiliki kualitas yang lebih tinggi dibandingkan beras medium lokal.

Namun ketika beras bulog ini terus dipaksakan untuk dijual di tengah masyarakat dengan harga yang relatif rendah dari beras medium lokal, maka masyarakat akan lebih banyak memilih beras bulog ini dari pada membeli beras yang biasa dibeli. Apalagi jika dibandingkan dengan beras lokal, beras medium import lebih murah harganya. Akibatnya penjualan beras medium lokal akan merosot, dan permintaan pasokan beras pun akan berkurang. Akhirnya banyak para petani yang akan kehilangan peminat padi hasil pertaniannya. Jika keadaan ini terus menerus terjadi maka para petani akan kehilangan penghasilannya. Ujung-ujungnya berimbas pada pengangguran di tengah masyarakat.

Belum lagi bagi para pedagang kecil. Bagaimana ketika beras bulog ini dijual secara eceran tanpa bisa dijual kembali? Persaingan antar penjual pun tidak akan terelakkan lagi. Akhirnya semakin memperparah ekonomi masyarakat yang semakin hari semakin sulit.

Disinilah tanggung jawab penguasa sedang dipertanyakan. Pemasokan bahan pangan masyarakat seharusnya sudah dapat dikendalikan oleh penguasa sehingga masyarakat tidak kesulitan mendapatkan bahan pokok seperti beras ini dengan harga yang tinggi. Pemerintah seharusnya menstabilkan harga-harga di pasar. Bukan malah memasok beras bulog untuk menggantikan beras medium lokal yang biasa dikonsumsi masyarakat.

Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki segudang kekayaan alamnya, dari mulai pertambangan, lautan, lahan pertanian yang luas dan lain-lain. Seharusnya dapat mencukupi kebutuhan masyarakatnya. Indonesiapun dikenal sebagai negara yang memiliki kesuburan tanah yang sangat baik, bahkan banyak orang mengatakan bahwa di Indonesia tongkat, kayu dan batu bisa menjadi tanaman. Namun sayangnya hal itu hanya menjadi slogan saja, faktanya Indonesia lebih banyak mengimport bahan pangan masyarakat ketimbang memanfaatkan lahan yang ada. Akhirnya negeri kita tercinta ini dikuasai oleh asing dan aseng.

Beginilah rantai pangan dalam sistem kapitalis. Semuanya tak berurut bahkan terkesan sangat berantakan. Kekayaan Indonesia yang jika dikelola dengan baik, maka akan dapat memenuhi kebutuhan seluruh masyarakatnya. Rantai kestabilan harga-harga pun dibiarkan dikuasai oleh para pemilik modal. Lalu masyarakat yang menjadi korbannya. Sungguh pemerintah seolah berlepas tangan atas penderitaan yang saat ini dialami oleh masyarakat.

Para petani dibebankan dengan harga pupuk yang melambung tinggi. Hal ini mempersulit tersedianya hasil panen para petani. Ketika hasil panen tak mencukupi maka impor yang menjadi solusi.

Indonesia Sejahtera dengan Islam Kafah

Apa yang menjadi penyebab akar masalah kenaikan harga beras ini? Apakah karena pupuk? Atau karena BBM? Atau karena pasokan beras Indonesia tidak cukup? Jawabannya, akar semua masalah yang terjadi adalah karena sistem yang diberlakukan di negeri kita tercinta ini, yaitu sistem Kapitalis.

Dalam sistem kapitalis ekspor dan impor menjadi hal yang wajib diberlakukan. Selain itu ketergantungan pada negara lain menjadi hal yang biasa dilakukan. Tidak ada upaya mandiri untuk mencukupi kebutuhan seluruh masyarakatnya. Misalkan dengan memanfaatkan lahan pertanian yang ada di Indonesia, menyiapkan ketersedian pupuk dengan harga yang terjangkau. Namun sayangnya hal itu tidak dilakukan.

Sudah saatnya kita mencabut akar masalahnya. Karena bukan hanya masalah kenaikan beras saja yang kita hadapi saat ini. Bahan pangan lainnya pun sedang bermasalah, seperti harga telur yang belum stabil, terigu, sayuran mayur, buah-buahan dan lain-lain. Naik turunnya harga bahan pokok ini terus menerus dirasakan oleh para petani dan seluruh masyarakat. Ekonomi masyarakat tak tentu arah tujuan. Akibatnya berimbas pada kriminalitas yang terjadi di tengah masyarakat ini. Jangan ditanya lagi tentang hutang negara yang melambung tinggi yang entah di mana ujungnya. Pendidikan yang tidak tentu arah, pergaulan juga menjadi tak terkendali, kesehatan begitu sulit dikenali. Semua masalah ini merupakan masalah cabang dari sistem kapitalis.

Kapitalisme merupakan sistem yang dibuat oleh manusia. Dengan keterbatasan dan kelemahan akalnya tidak akan mampu memberikan seperangkat aturan yang akan menyejahterakan manusia. Sehingga wajar jika sistem ini diberlakukan maka akan banyak terjadi kekacauan dan kerusakan yang dirasakan oleh manusia.

Sangat jauh berbeda dengan sistem islam yang mampu menyejahterakan manusia selama 13 abad. Sistem Islam merupakan sistem yang murni dari sang pencipta manusia, yaitu Allah Swt. Karena itu Allah Swt. sangat mengetahui apa yang baik dan buruk bagi manusia. Untuk itulah Allah mengirimkan wahyu berupa Al-Qur’an kepada manusia mulia yang menjadi utusannya, yaitu Rasulallah Saw. untuk menyampaikan wahyu tersebut kepada seluruh manusia.

Dalam Al-Qur’an, Allah memberikan sepaket aturan hidup untuk diterapkan dalam kehidupan manusia agar dapat menyejahterakan kehidupannya. Bayangkan saja, jika aturan ini berasal dari pencipta manusia maka sudah barang tentu aturan ini adalah aturan yang 100% benar.

Jika sistem Islam diberlakukan, maka kekacauan ekonomi ini tak akan terjadi. Bahkan masyarakat akan makmur dengan segala keadilannya.

Dalam Islam, Sumber Daya Alam ini adalah milik seluruh rakyatnya. Maka khalifah tidak akan memberikan sejengkal tanah pun untuk para oligarki. Kestabilan harga pangan pun tidak akan dikuasai para pemilik modal. Kesuburan tanah ini akan dimanfaatkan dengan sebaik mungkin agar mampu untuk mencukupi kebutuhan seluruh masyarakatnya. Memberdayakan seluruh kemampuan masyarakatnya khususnya dalam masalah tanam-menanam.

Impor bahan pangan dari luar negeri bukan menjadi solusi jika terjadi krisis pangan. Karena dalam Islam, Diharamkan untuk berhubungan dengan negara kafir harbi (negara yang memerangi Islam dan kaum muslimin).

Untuk itulah sudah saatnya kita mengganti sistem kapitalis ini dengan sistem Islam di bawah naungan Khilafah. Marilah kita keluar dari belenggu para penjajah asing ini dan kembali kepada jati diri kita. Sebagai muslim yang menerapkan sistem Islam kafah dalam naungan Khilafah. Islam yang akan menjadi Rahmatan lil a’lamiin.

Wallahualam bishawab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 9

Comment here