Opini

Islam Solusi Penyimpangan Naluri

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Ummu Azmi (Aktivis Muslimah)

wacana-edukasi.com, OPINI– Ibu. Satu kata untuk panggilan kepada makhluk ciptaan Allah yang berhati mulia, yang memiliki kasih sepanjang masa, dan yang akan menyayangi tanpa kenal usia.

Ibu. Wanita kuat yang siap berjuang antara hidup dan mati saat melahirkan sang buah hati. Wanita hebat yang mampu terjaga dua jam sekali di malam hari untuk memberi asi. Wanita tangguh yang mampu menemani pertumbuhan dan perkembangan anaknya setiap hari.

Ibu, dari rahimnya lah terlahir penerus generasi. Ia mendidik generasi agar siap berjuang dijalan Ilahi. Membangun keluarga Rabbani agar dapat kumpul bersama lagi di surga nanti.

Besarnya rasa sayang yang dimiliki seorang ibu, rasanya tidak mungkin jika seorang ibu melakukan tindakan yang keji, yang menodai rasa simpati maupun empati atas naluri keibuannya sendiri. Namun, bagaimana jika rasa itu mulai terkikis? Seperti yang diberitakan oleh tvonenews.com (5/2/2023), 11 anak laki-laki dan perempuan dilecehkan hingga diajak nonton film dewasa oleh seorang wanita pemilik rental PS di Jambi.

Hal serupa juga diberitakan oleh regional.kompas.com (4/2/2023), seorang wanita berinisial NT (25) diduga melakukan pelecehan seksual terhadap 11 anak di bawah umur di Kawasan Rawasari, Kota Jambi. Wanita pemilik rental PlayStation (PS) ini dilaporkan oleh orangtua dari 11 korban terdiri dari 9 laki-laki dan 2 perempuan.Mengapa hal ini bisa terjadi?

Sistem yang Rusak dan Merusak

Kesulitan ekonomi maupun beban hidup yang berat bisa saja menjadi penyebab kesehatan mental seseorang terganggu. Dengan terganggu nya mental seseorang, ia akan dapat melakukan apa saja. Terlebih jika tidak ada iman yang kokoh dalam dirinya. Tidak pula memakai panduan mana yang baik dan buruk, halal dan haram, yang sesuai perintah-Nya. Hal ini bisa terjadi pada siapa saja, termasuk pada seorang ibu.

Seorang ibu yang harusnya menjaga generasi, justru malah merusak masa depan generasi. Dan ini menjadi bukti, pelaku pelecehan tidak hanya dilakukan oleh laki-laki saja, tapi juga oleh perempuan, bahkan seorang ibu. Hal tersebut memberi arti bahwa ada yang salah dari jiwanya, ada yang rusak dalam rasa keibuannya. Dan, hal ini dapat terjadi karena disebabkan oleh beberapa faktor.

Kapitalisme-liberalisme-sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan menjadikan agama hanya berada di ranah ibadah ritual saja. Aktifitas sehari-hari seakan-akan tak terkontrol. Padahal, ada Sang Maha Melihat yang selalu mengawasi setiap tindak tanduk hamba-Nya. Dan juga, aturan Islam merupakan aturan yang seharusnya digunakan di seluruh aspek kehidupan, tanpa kecuali.

Kapitalisme menjadikan yang lemah tak berdaya. Kebutuhan pokok keluarga yang harus terpenuhi, meski harga makin tinggi, menjadi beban tersendiri. Kehidupan yang sulit ini terkadang membuat pikiran semakin sempit. Sehingga, tak jarang membuat manusia melakukan apapun yang dirasa dapat melepaskan beban kehidupan.

Liberalisme yang mengusung hak kebebasan, membuat manusia yang menganut nya seringkali kebablasan. Mereka berperilaku sesuai kehendaknya, melangkahi norma dan aturan agama. Maka tak dapat dipungkiri bahwa banyak kelakuan masyarakat kini yang bertindak diluar nalar dan hati nurani. Dan, sangat mungkin menjangkiti para ibu sekarang ini yang kurang memiliki pondasi akidah Islam dalam diri.

Sekularisme yang sudah tertanam pada diri individu, menjadikan aktivitas nya tak berasaskan pada Islam. Hal yang menjadi perhatian adalah ketika sekularisme merasuki diri seorang ibu. Bagaimana seorang ibu akan mendidik anak-anaknya jika agama dikesampingkan?

Memisahkan agama dari kehidupan pun akan berdampak pada pemenuhan hasrat seksual yang tak semestinya. Fantasi liar yang tak terarah yang dilakukan pada siapapun termasuk anak-anak merupakan bukti akibat dari berperilaku tanpa dibarengi agama, seperti yang dilakukan oleh wanita di berita tadi. Perilaku yang menyimpang ini memungkinkan adanya dampak negatif pada diri anak-anak tersebut, sehingga mungkin dibutuhkan terapi untuk menghilangkan trauma psikis yang dialami mereka.

Kejamnya sistem kapitalisme-liberalisme-sekularisme yang merusak fitrah keibuan. Tekanan hidup yang dapat mengganggu jiwa, kebahagiaan yang hanya diukur berdasarkan materi, iman yang lemah, serta peran agama yang tersingkirkan dari kehidupan, membuat sistem yang rusak ini kian merusak peran seorang ibu. Tanpa adanya upaya mengembalikan peran ibu seperti selayaknya, dikhawatirkan makin tergerusnya fitrah seorang ibu seiring berjalannya waktu.

Menjadi Ibu yang Selayaknya

Perempuan yang sudah menikah, ia akan menjadi seorang ibu dan yang mengatur urusan rumah tangga suaminya. Ia juga akan menjadi sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Ia akan mencetak generasi yang unggul, yang akan siap berjuang demi kemuliaan Islam.

Islam memosisikan seorang ibu di tempat yang mulia. Kemuliaan seorang ibu tertuang dalam salah satu hadits yang memerintahkan berbakti kepada ibu sebanyak tiga kali, lalu kemudian kepada ayah.

Seorang ibu harus memiliki keimanan dan ketakwaan yang tinggi. Hal ini dimaksudkan agar ia memiliki dasar yang kuat untuk menepis hal-hal yang dapat merusak akidah. Dan, seorang ibu harus menanamkan keimanan yang kuat pula pada anak.

Anak adalah titipan. Ia merupakan amanah dari Allah Swt.. Maka, seorang ibu harus paham bahwa dirinya harus mendidik, merawat, dan memberikan kasih sayang pada anak, yang nantinya akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Seorang ibu juga harus paham bahwa anak adalah masa depan umat, generasi penerus. Oleh sebab itu, anak seharusnya dijaga, bukan malah dirusak. Dijaga secara fisik dan mental, bukan dirusak dengan diberikan tontonan dewasa yang tak pantas. Seorang ibu yang sadar bahwa ia harus turut serta mengurusi umat, ia akan menjaga anaknya dan anak-anak yang lain pula.

*Islam Menjadi Panduan*

Dengan tanggung jawab dan kewajiban seorang ibu yang begitu besar, maka ia harus memiliki bekal ilmu untuk menjalankan itu semua. Dengan mengkaji Islam lebih dalam secara kaffah, diharapkan para ibu dapat berperan sebagai ibu yang menghasilkan generasi yang tangguh lagi beriman, yang dapat membawa masa depan umat dalam kemuliaan Islam.

Hal ini juga perlu adanya peran negara. Dengan menerapkan aturan Islam secara menyeluruh dalam suatu negara, rakyat pun akan terkondisikan sesuai aturan Islam. Aturan yang dapat menjaga diri dari kemaksiatan, menenangkan karena negara akan mengkondisikan agar kebutuhan pokok terpenuhi. Serta, hukum yang akan menjadi pencegah dan penebus dosa. Sehingga, para ibu dapat melaksanakan perannya dengan baik sesuai tuntunan Islam.

Wallahu’alam

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 7

Comment here