Opini

Penderitaan para Ibu Sirna dengan Tegaknya Syariat Islam

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Aisyah Farha (Komunitas Kesatria Aksara Bandung)

“Seperti udara kasih yang engkau berikan, tak sanggup kumembalasmu, Ibu ….”
(Ibu, Iwan Fals)

Wacana-edukasi.com–Siapa yang tak kenal potongan lagu di atas, kalimat demi kalimatnya membawa kita bernostalgia dengan Ibu yang penuh kasih. Ibu memiliki kasih sayang yang tak terhingga. Kita selalu mengingat seorang Ibu dengan sejuta keahliannya. Ibu bisa menjadi guru, perawat, dokter, satpam, koki, ustadzah, bahkan bisa memperbaiki bagian atap yang bocor.

Namun, saat ini peran itu bertambah. Tidak hanya di rumah, seorang ibu juga harus bekerja di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bagaimana tidak, pendidikan semakin mahal, harga kebutuhan pokok melambung, dan gaji suami tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan. Bahkan begitu dimulainya pandemi yang tak kunjung usai ini, para bapak yang harus kehilangan pekerjaa karena phk.

Mau tidak mau, para Ibu harus turun tangan menambah pemasukan keluarga. Beban itu kini bertambah berat, tantangan untuk mendidik generasi harus ditambah dengan kewajiban mencari nafkah. Kelelahan yang mendera ketika pulang bekerja bisa menghilangkan senyuman tulus seorang ibu saat melihat rumah yang berantakan dan anak-anak yang merengek minta dibuatkan makanan.

Apalagi ditambah dengan frekuensi pertemuan dengan suami berkurang, membuat cinta dalam rumah tangga berkurang. Ketidakberdayaan suami yang gagal mmenuhi kebutuhan rumah membuat kekecewaan bertambah. Fenomena ini yang membuat begitu panjangnya antrian gugat cerai yang dilayangkan istri kepada suaminya. Begitu berat menjadi seorang ibu saat ini, apakah ini adalah takdir yang memang harus terjadi? Ataukah bisa kita perbaiki?

Kapitalisme Menambah Beban Berat Ibu

Semua ini terjadi tidak bisa dilepaskan dari sistem yang dipakai oleh negara. Apa hubungannya peran seorang ibu dengan sistem negara? Tentu saja berkaitan erat. Peran ibu yan bertambah tidak bisa dilepaskan dari sistem pendidikan, sistem perekonomian dan sistem politik sebuah negara.

Saat ini, negeri kita memakai sistem kapitalis sekuler dalam menjalankan roda pemerintahan. Sistem ekonomi kapitalis hanya menguntungkan para pemilik modal, bisa kita lihat faktanya sekarang. Orang kaya semakin kaya dan si miskin tambah susah. Para suami banyak yang di phk sehingga para ibu harus membantu mencari tambahan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Ditambah dengan sistem sosial yang serba bebas dan menjunjung tinggi individualistis tidak menunjang moral generasi muda. Beban seorang ibu terasa sangat berat dengan menghadapi pergaulan anak-anaknya diluar rumah yang tak terkendali. Anak-anak dengan mudah menghardik atau menyakiti orangtua secara fisik jika keinginannya tidak dipenuhi karena tuntutan gengsi pergaulannya.

Tidak jauh dengan sistem pendidikannya yang materialistis hanya berorientasi kepada kepentingan pasar. Terbukti dengan brebagai kebijakan yang dikeluarkan tidak menyentuh akar pendidikan, malah mengawinkan pendidikan dengan industri. Alhasil para lulusan yang dihasilkan hanya bermental buruh bukan tenaga ahli. Para lulusan hanya mengejar predikat, moral tidak lagi menjadi tujuan utama pendidikan.

Sistem kapitalis sekuler telah gagal menciptakan atmosfir yang nyaman untuk para ibu. Peran yang seharusnya dilakukan sebagai pendidik generasi tidak tercapai, malah bergati dengan beban berat mencari nafkah. Sistem ini berhasil membuat seorang ibu merelakan waktu emas bersama anak-anaknya demi sesuap nasi. Apakah tidak ada jala keluar untuk semua masalah ini?

Solusi Tuntas Permasalahan Para Ibu

Semua masalah ini terjadi akibat kesalahan sistemik yang mengakar, maka solusi yang diperlukan juga haruslah sistemik juga. Kita tidak bisa hanya membenahi satu masalah saja, karena semua masalah ini saling berkaitan. Negara dengan sistem yang sempurna akan menjamin maksimalnya peran ibu untuk mendidik generasi masa depan, tanpa membebaninya dengan kewajiban mencari nafkah.

Sistem Islam adalah satu-satunya sistem yang memuliakan wanita dengan memaksimalkan perannya sebagai pendidik generasi. Hal ini tergambar jelas dalam hadist Rasulullah saw. sebagaimana yang dituturkan oleh Ibn ‘Umar:
“Setiap kalian adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya…, seorang perempuan adalah pemimpin atas rumah tangga suaminya dan anak-anaknya yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya ….” (HR Bukhari-Muslim)
Begitu pula dengan sistem politiknya, berdasarkan hadist Rasulullah
الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari).

Karena posisinya sebagai perisai, maka penguasa umat Islam akan melayani umatnya denga baik. Mereka akan berusaha melaksanakan hadist ini karena landasan ketakwaanya kepada Allah dan akan memastikan peran seorang ibu yang diberikan oleh Rasul dapat terlaksana dengan baik.

Ditunjang dengan sistem ekonomi yang antiribawi dan pengelolaan sumber daya alam tanpa korupsi dan mafia, akan memaksimalkan kesejahteraan rakyatnya. lapangan pekerjaan akan tersedia dan para suami akan mampu memenuhi kebutuhan keluarganya tanpa membebani istrinya untuk mencari tambahan. Istri akan fokus pada fungsinya sebagai pengatur dan pendidik generasi.

Seperti itulah sistem Islam yang sempurna, karena datang dari yang Maha sempurna, Allah Azza wa Jalla. Apalagi sistem ini pernah menaungi umat Islam dalam kesejahteraan selama 13 abad lamanya dibawah sistem khilafah Islam. Mulai sejak hijrahnya Rasulullah dan para shabat ke Madinah hingga runtuhnya kekhilafahan ustmaniah pada tahun 1924. Saat sistem Islam tidak tegak dan diganti oleh sistem kapitalisme, umat Islam berada dibawah kesenggasaraan tiada henti, keterpurukan dan kehinaan serta kesulitan hidup yang tidak kunjung hilang.

Tidak ada solusi lain, selain kembali pada sistem Islam. Dengan Islam, perempuan tidak akan terjebak dalam pusaran ekonomi. Perempuan akan dimaksimalkan untuk menjadi ibu dan pengatur rumah tangga, yang darinya lahir calon pemimpin masa depan yang gemilang.

Wallahu a’lam bish shawab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 3

Comment here