Opini

Pajak Masuk, Kesejahteraan Diabaikan

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Sindi Laras Wari, S.K.M, (Aktivis Muslimah)

Wacana-edukasi.com, OPINI--“Libur telah tiba, libur telah tiba. Hatiku gembira….”

Penggalan lirik lagu anak di atas menggambarkan kondisi libur yang berlangsung akhir tahun sebelumnya hingga awal tahun berikutnya. Namun di tengah musim liburan, aparat negara mampu memastikan keadaan optimal dalam menjalankan tugasnya, hal ini terbukti dengan pencapaian yang diberikan. Namun sayangnya pencapaian yang diraih tidak mampu dirasakan masyarakat secara nyata, begini lah potret buram hidup dalam sistem sekuler kapitalis.

Selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), Kantor Wilayah Bea Cukai Sumatera Utara memastikan tetap berjalan secara optimal pengawasan dan pelayanan kepabeanan serta cukai di wilayah Belawan. Kinerja penerimaan Bea Cukai Belawan tercatat positif hingga akhir tahun 2025. Total yang diterima dari kepabeanan dan cukai mencapai Rp2,10 triliun atau sekitar 199,59 persen dari target. Penerimaan ini terdiri dari Bea Masuk sebesar Rp682,50 miliar, Bea Keluar Rp1,54 triliun, dan Cukai sebesar Rp20,65 juta (rri.co.id, 2/1/2026).

Kantor Wilayah Bea Cukai Sumatera Utara memastikan pelayanan dan pengawasan tetap berjalan secara optimal selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Kepastian yang diberikan menunjukkan sikap profesional kerja Bea Cukai selama masa liburan Nataru, di mana mereka akan menjaga arus penerimaan negara dan barang. Hingga akhirnya target mampu tercapai, pengawasan tetap optimal dan pegawai tetap siaga.

Namun sayangnya hingga kini rakyat tidak merasakan hasil dari pencapaian yang diterima melalui Bea Masuk, Bea Keluar dan Cukai yang mampu melampaui 100%. Kinerja yang optimal telah diberikan, tapi rakyat tetap tidak merasakan kesejahteraan yang sesungguhnya. Kesejahteraan rakyat selalu diabaikan dan banyak kasus yang tidak berpihak kepada rakyat.

Namun fokus saat ini hanya ada pada penerimaan negara dan kepatuhan fiskal yang merupakan buah dari logika sekuler. Negara menekankan pada angka, prosedur dan pajak yang menguntungkan pastinya, sebab yang mereka inginkan hanya keuntungan hal ini juga buah dari sistem ekonomi kapitalistik. Dengan kapitalisasi yang menghujam dalam bidang perekonomian, membuat kesejahteraan rakyat dan kemaslahatan sosial jadi terabaikan.

Saat ini mayoritas masyarakat hidup dalam keadaan yang semakin sempit. Harga komoditas yang semakin merangkak naik yang tidak sebanding dengan pendapatan yang diterima, walaupun upah sudah dinaikkan tetap saja tidak mampu menutupi kebutuhan hidup sehari-hari. Sebab keadaan ekonomi yang memang sedang tidak baik baik saja, namun negara tidak ambil pusing atas penderitaan rakyatnya.

Seharusnya dari pajak yang didapat negara melalui Bea Cukai dan memungut dari rakyat, rakyat bisa merasakan kenikmatan hidup di negeri ini. Namun pada faktanya tidak hanya kebutuhan yang sulit untuk dipenuhi, tetapi juga keadaan lingkungan dan jalanan banyak yang rusak. Tidak sedikit orang terkendala jalan rusak, yang mengakibatkan lambat untuk pergi bekerja dan menambah tingkat stres para pekerja. Sebab banyak hal yang harus mereka hadapi selain jalan rusak yang memakan waktu untuk tiba ke tujuan.

Tapi ini tidak hanya sebatas jalan rusak, banyak hal lainnya yang mengakibatkan rakyat mengeluarkan statemen “ke mana saja pajak yang sudah kita berikan, mengapa tidak kembali ke kita!”. Sebab minimnya kesejahteraan yang dirasakan oleh rakyat, ditambah dengan infrastruktur yang tidak baik, lapangan pekerjaan yang semakin sempit dan beban kerja yang sangat berat. Sistem ekonomi kapitalis sekuler memposisikan aparat dan para pegawai sebagai pemungut bukan sekedar pengayom, di mana kepentingan negara lebih didahulukan kepentingan hajat hidup orang banyak.

Dalam Islam pengawasan yang seperti dilakukan oleh Bea Cukai seharusnya diiringi dengan kebijakan pro kepada rakyat. Dengan mengedepankan kepentingan hajat hidup orang banyak atau kepentingan masyarakat dibandingkan dengan kepentingan segelintir orang atau para elit politik saja. Memastikan distribusi kebutuhan pangan dan barang kebutuhan lainnya tidak terhalang ataupun dipersulit demi mendapatkan keuntungan yang besar. Kemudian negara Islam akan meminimalisir bahkan menutup celah ketidakadilan. Bahkan penyelundupan yang jelas-jelas akan merugikan rakyat dan negara segera ditindak tegas.

Dalam Islam profesionalisme saja tidak cukup apabila kebijakan yang ada tidak pro kepada rakyat. Islam juga akan menuntut para aparat negara melaksanakan amanah dengan baik dan benar, serta sadar bahwa segala sesuatu yang dilakukan tidak lepas dari pandangan dan tanggung jawab terhadap Sang Pencipta sekaligus Sang Pengatur yakni Allah SWT. Sebagaimana firman Allah yang artinya: “Sungguh, Allah mengetahui apa yang gaib di langit dan di bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hujurat ayat 18)

Jadi, amanah yang diberikan akan dijalankan dengan sebaik mungkin dan pastinya selalu condong pada kebenaran. Dengan ekonomi yang bersih yang sesuai dengan syari’at Islam menjadikan pengawasan sebagai alat keadilan bukan hanya memenuhi syarat fiskal semata. Hal ini terbukti dengan berdirinya negara Islam selama 13 abad lamanya dan mampu memberikan kesejahteraan pada 2/3 dunia.

Wallahu a’lam bishawab.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 4

Comment here