Opini

Obyektivitas Sejarah untuk Generasi

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Meitya Rahma, S.Pd.

Wacana-edukasi.com — “Jangan lupakan sejarah bangsa”, kalimat ini masih ingat dibenak saya ketika guru sejarah SMA mengajar di kelas kala itu. Dan memang benar, jika generasi melupakan sejarah maka mereka tidak akan tahu dan tidak akan pernah belajar dari masa lalu. Sejarah negri ini misalnya. ketika tidak disampaikan di sekolah sekolah maupun para pelaku sejarah, maka generasi muda tidak akan pernah belajar menghargai, tidak pernah belajar kesalahan dari masa lalu atau tidak pernah mengbil hal hal yang baik dari masa lampau. Sejarah merupakan potret masa lalu yang memiliki pelajaran hidup bagi kita di masa kini.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim banyak disorot publik terkait wacana penyederhanaan kurikulum. Dalam wacana tersebut, terselip kabar mata pelajaran sejarah akan terkena imbas. Sejarah akan dihapuskan dari mata pelajaran, jadi Kemendikbud memiliki wacana bahwa pelajaran sejarah tidak masuk kurikulum wajib bagi siswa SMA dan sederajat.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kemendikbud Totok Suprayitno menegaskan bahwa kabar pelajaran sejarah akan keluar dari kurikulum tidak benar (CNNIndonesia,29/09/20).”Kemendikbud mengutamakan sejarah sebagai bagian penting dari keragaman dan kemajemukan serta perjalanan hidup bangsa Indonesia, pada saat ini dan yang akan datang (CNNIndonesia,19/9/20).

Nadiem pun membantah wacana penghapusan Mata Pelajaran Sejarah dari Kurikulum Pendidikan di tingkat SMA/Setara tersebut.Nadiem menyebut isu ini muncul setelah beredarnya presentasi internal tentang permutasi l) penyederhanaan kurikulum. Beliau menyatakan tidak ada kebijakan apa pun yang akan keluar di 2021 dalam skala kurikulum nasional. Apalagi, penghapusan Mata Pelajaran Sejarah,” ucap Nadiem (CNNIndonesia19/9/20) .

Muncul pemberitaan juga bahwa penyesuaian kurikulum diinisiasi Sampoerna Foundation. Hal ini membuat media sosial khususnya Twitter kembali riuh. Bahkan, sejumlah tokoh ikut mengomentari hal tersebut. Seperti yang disampaikan Hidayat Nur Wahid dan Fadli Zon (CNNIndonesia, 19/9/20). Lewat akun Twitternya, mantan Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid mengatakan, bila benar penyederhanaan kurikulum yang menghilangkan mata pelajaran sejarah diinisiasi Sampoerna Foundation tanpa persetujuan DPR, ini merupakan bentuk pengabaian peraturan UU yg bisa berdampak pada kwalitas hasil pendidikan ( cnnindonesia, 19/9/20).

Yayasan Putera Sampoerna (PSF) angkat bicara terkait isu yang beredar terlibat dalam proses penyederhanaan kurikulum nasional. Namun PSF tidak berinisiatif melakukan perubahan atau penyederhanaan kurikulum nasional khususnya pelajaran sejarah. PSF fokus melatih dan menyebarkan praktik baik pendidikan ke seluruh penjuru Indonesia,” kata Head of Marketing & Communications PSF Ria Sutrisno melalui keterangan tertulis yang diterima pada Rabu (cnnindonesia23/9/2020). Menurut dia, perubahan kurikulum nasional merupakan tanggung jawab pemerintah dan bukan tanggung jawab masyarakat atau sektor swasta.

Pelajaran sejarah memiliki arti penting bagi kemajuan sebuah bangsa karena mengandung nilai karakter nyata dan teladan bagi generasi muda. Sudah sepatutnya membiasakan generasi saat ini untuk mau menghargai sejarah bangsanya. Maka pelajaran sejarah jangan sampai dihilangkan dari kurikulum sekolah. Dalam sebuah negeri yang menganut paham kapitalis maka sedikit banyaknya akan mempengaruhi obyektifitas dalam penulisan sejarah. Para sejarawan memiliki kecenderungan ketika menuliskan sejarah. Kadang dilebihkan atau dikurangi sesuai dengan kepentingan, termasuk sejarah perkembangan Islam dan kejayaan Islam di Nusantara.

Bantahan dari Mendikbud bahwa tidak akan menghapuskan pelajaran sejarah dari kurikulum bukan jaminan tidak akan ada penghapusan mata pelajaran Sejarah dalam kurikulum 2022.

Merekontruksi sejarah demi kemajuan bangsa dan generasi memang diperlukan. Namun harus bebas kepentingan politik, agar tidak dimanfaatkan untuk melanggengkan kekuasaan. Rekonstruksi sejarah harus dapat mengungkap realitas, bukan mengaburkan sejarah apalagi mengubur kebenaran. Sejarah PKI misalnya, ini harus diungkap realitas sesuai fakta. Jika tidak maka masyarakat kususnya generasi muda akan Menganggap bahwa PKI bukan suatu hal yang membahayakan. Maka generasi wajib memahami sejarah yang sebenarnya agar mampu waspada terhadap kebangkitan komunisme. Karena komunisme jelas bertentangan dengan akidah umat Islam.

Dengan demikian kebijakan perubahan kurikulum pendidikan yang terkait mata pelajaran sejarah harus terus dicermati. Agar tidak terjadi subyektifitas dalam penulisan sejarah. Jangan sampai sejarah kekejaman PKI dibenarkan, lalu perjuangan para santri, ulama dalam memperjuangkan kemerdekaan dikaburkan bahkan dikubur.

Maka diharapkan bagi para penulis sejarah, diharapakan menulis suatu yang benar sesuai fakta, berdasar research, sumber primer maupun sekunder. Karena setiap goresan yang dituangkan dalam lembaran akan dimintai -pertanggungjawaban kelak di akherat, dan juga karena obyektifitas dalam penulisan sejarah sesuatu yang penting bagi generasi yang akan datang untuk di ambil hikmah dari peristiwa sejarah.

Wallohualam Bishowab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 1

Comment here