Oleh: Novianti
Wacana-edukasi.com, OPINI–Tekanan pekerjaan dan tuntutan hidup yang semakin berat membuat banyak gen Z mengalami stres menghadapi rutinitas kerja. Untuk meredakannya dan beradaptasi dengan keadaan, mereka mencari cara agar tetap bahagia lewat berbagai bentuk apresiasi terhadap diri sendiri seperti lipstick efek, self-reward, dan self-care. Tidak heran barang kecil dengan harga mahal mulai dari produk kecantikan, kopi kekinian, parfum, tetap laku meski ekonomi sedang sulit.
Jebakan Paylater
Fenomena perilaku gen Z ini bertemu dengan kemajuan teknologi yang menawarkan berbagai layanan di antaranya adalah Buy Now Pay Later (BNPL) atau dikenal dengan istilah Pay Later. Akibatnya pola konsumtif makin menjadi dan menimbulkan persoalan baru yakni masalah keuangan yang serius. Pay later membuat belanja terasa begitu mudah hingga batas antara self reward dan utang menjadi kabur. Akhirnya penghasilan yang diterima habis dialokasikan untuk membayar cicilan.
PT Pefindo Biro Kredit, Lembaga Pengelola Informasi Perkreditan atau biro kredit swasta pertama di Indonesia mencatat adanya lonjakan jumlah debitur pay later hingga 49,23% year-on-year (YoY) per Desember 2025. Kelompok milenial dan Gen Z mendominasi sebagai pengutang. Jika dirinci, kelompok usia 20 tahun hingga 30 tahun dengan porsi 45,08%, lalu diikuti segmen usia lebih dari 30 tahun sampai 40 tahun sebesar 29,38%. Selanjutnya, debitur usia lebih dari 40 tahun hingga 50 tahun sebesar 14,03%. Tidak hanya itu, gen Z dan milenial pun penyumbang kredit macet terbesar.
Fakta ini tentunya tidak bisa dilihat sebagai angka, melainkan pay later berbasis riba sudah menjadi bagian dari budaya ekonomi masyarakat terutama anak muda. Ada beberapa faktor penyebabnya. Pertama, faktor kemudahan akses karena pay later tidak membutuhkan jaminan dan proses verifikasi rumit. Utang menjadi terasa ringan dan tidak menakutkan. Kedua, faktor literasi keuangan yang minim dimana pay later dipandang sebagai alat bantu bukan sebagai kewajiban finansial. Ketiga, faktor tekanan sosial dan gaya hidup yang berorientasi pada materi bahwa validasi seseorang ditentukan oleh seberapa kemewahan yang dimiliki. Keempat, faktor ekonomi yang makin sulit sehingga pay later jadi cara cepat untuk bertahan hidup.
Mindful Spending
Di tengah persoalan ini muncul konsep mindful spending yakni anjuran berbelanja dengan kesadaran penuh bukan semata-mata karena dorongan emosi sesaat, tren, maupun pengaruh lingkungan. Mindful spending dipopulerkan sebagai konsep yang bisa menjadi rem emosional untuk mengembalikan kendali atas uang kepada individu, bukan kepada algoritma atau iklan konsumerisme.
Tren mindful spending dipandang dapat menahan lajunya revenge spending yakni kebiasaan membelanjakan uang secara berlebihan atau impulsif sebagai bentuk “balas dendam” setelah seseorang lama menahan diri, merasa stres akibat pekerjaan, atau mengalami masa-masa pembatasan. Ini solusi untuk menjaga kewarasan seseorang dari jebakan self reward serta kemudahan transaksi digital.
Dengan memiliki mindful spending, seseorang diharapkan mampu menyaring setiap keputusan finansial sehingga belanja tetap sejalan dengan nilai dan tujuan hidup jangka panjang. Seseorang akan berpikir dulu sebelum membeli untuk memastikan apa yang dibeli adalah hal yang dibutuhkan dan memberikan manfaat jangka panjang. Lembaga edukasi, psikolog, hingga perencana keuangan meyakini bahwa mindful spending adalah bagian dari upaya menjaga kesehatan mental. Alokasi untuk self-reward tetap ada, tetapi dilakukan dengan terarah terencana dan tidak memunculkan rasa bersalah.
Solusi Mandul
Mindful spending terkesan logis dan bisa menjadi solusi, tetapi gagasan ini tidak lepas dari kepentingan ekonomi kapitalisme. Manusia tetap dipaksa sebagai konsumen yang harus terus bergerak, tanpa benar-benar bisa meraih rasa aman dan sejahtera. Di dalam sistem kapitalisme yang mendorong industrialisasi, produk industri harus tetap terserap agar pertumbuhan ekonomi terus berlangsung. Untuk itu, manusia selamanya diposisikan sebagai bagian dari mesin produksi demi keuntungan industri. Produktivitasnya terus dipacu, sebagai konsekuensinya manusia akan sampai pada fase lelah luar biasa, tetapi tidak punya jalan keluar.
Ketika tekanan memuncak, kapitalisme menawarkan kesenangan sesaat melalui lipstik efek, self-reward, dan self-care. Saat kebutuhan primer seperti rumah sangat sulit dibeli, pilihannya adalah menikmati kemewahan yang bisa dijangkau meski kecil. Tidak perlu puluhan juta, cukup dengan puluhan atau ratusan ribu. Jika uang tidak cukup, dirancang transaksi yang semakin memudahkan memperoleh sesuatu. Belanja lewat beberapa sentuhan, pembayaran dapat ditunda demi bisa bahagia, meski hanya sesaat.
Yang tidak tersentuh oleh gagasan mindful spending ini bahwa mengapa manusia banyak yang stres dan tertekan. Akar masalahnya adalah sistem kapitalisme yang meniscayakan kehidupan makin berat, kebutuhan dasar manusia sulit dipenuhi. Hidup manusia akhirnya hanya berputar dalam siklus bekerja, lelah, berbelanja, lalu bekerja kembali untuk membayar belanjaan. Meski sudah bekerja mati-matian, tetap sulit naik ke level sejahtera. Penghasilan terkuras untuk biaya hidup yang terkerek inflasi. Ditambah lagi pemahaman konsep rezeki yang keliru, jika mau memperoleh uang lebih banyak, harus bekerja lebih keras. Semua terjerat oleh jebakan sistem kapitalisme yang memaksa manusia untuk terus berada dalam mode bertahan hidup.
Konsep Islam
Islam memiliki solusi yang menyentuh persoalan mendasar dari tingkat individu hingga sistem untuk meraih kebahagiaan. Pada level individu, Islam tegas berkaitan dengan belanja, yaitu bahwa hukum asal perbuatan adalah terikat hukum syarak. Bahwa harta akan dihisab dari mana asalnya dan dibelanjakan untuk apa. Dua prinsip ini membentuk kesadaran seorang muslim dalam membelanjakan harta sehingga tidak mudah terjebak fomo maupun tren konsumsi.
Rasulullah saw. bersabda bahwa tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara. Yakni tentang umurnya, untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya, apa yang telah diamalkan, tentang hartanya, dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan, dan tentang tubuhnya, untuk apa digunakan.
Pada level masyarakat, Islam mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang ditentukan oleh ketakwaannya bukan barang yang dimilikinya. Dengan demikian, budaya flexing yang menjadikan barang sebagai simbol status dan memicu fomo tidak menjadi standar masyarakat. Pada level sistem, industri gaya hidup tidak dibiarkan berkembang. Ukuran kesejahteraan pun jelas, yaitu terpenuhinya kebutuhan dasar setiap individu dan kemampuan memenuhi kebutuhan pelengkap. Negara tidak mendorong produksi tanpa batas demi pertumbuhan ekonomi, tetapi memastikan kebutuhan rakyat individu per individu terpenuhi.
Islam juga mengharamkan riba, sehingga transaksi ribawi,termasuk pay later yang memenuhi unsur riba akan dilarang. Negara menjamin kebutuhan pokok individu secara tidak langsung melalui penyediaan lapangan pekerjaan yang layak, khususnya bagi laki-laki, sebagai pihak yang berkewajiban menafkahi. Ada pun kebutuhan publik seperti pendidikan, kesehatan dan keamanan dijamin langsung oleh negara, sehingga seluruh rakyat dapat mengaksesnya secara gratis dengan kualitas terbaik.
Khatimah
Bekerja dalam Islam bukan semata-mata untuk bertahan hidup dalam tekanan melainkan aktivitas produktif bernilai ibadah demi memenuhi kebutuhan sekaligus menjalankan kewajiban. Islam memberikan solusi secara komprehensif dalam menyelesaikan persoalan budaya konsumerisme dan berbagai turunannya. Hanya saja, solusi ini bisa diterapkan ketika syariat Islam menjadi hukum untuk mengatur tata kelola negara. Berarti tidak ada pilihan lain untuk menjaga kewarasan dalam balutan takwa selain hidup di dalam sistem Islam.
Views: 2


Comment here