Oleh: Murni Sari, S.A.B.M.M (Dosen Politeknik Baubau)
Wacana-edukasi.com, OPINI–Tidak ada yang menyangka bahwa teknologi yang dahulu hanya mampu menjalankan perintah sederhana kini berkembang menjadi sesuatu yang dapat menulis, berbicara, menganalisis data, bahkan membantu manusia mengambil keputusan. Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang kehidupan.
Bagi sebagian orang, AI adalah simbol kemajuan. Ia menghadirkan harapan baru bagi dunia kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan penelitian. Namun, bagi sebagian lainnya, perkembangan AI juga menghadirkan pertanyaan besar: apakah manusia benar-benar siap menghadapi teknologi yang kemampuannya terus berkembang melampaui perkiraan?
Persoalan AI pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa canggih mesin yang berhasil dibuat manusia, tetapi juga tentang bagaimana manusia mengendalikan kecanggihan tersebut. Sebab, teknologi selalu memiliki dua kemungkinan: menjadi jalan menuju kemudahan atau menjadi sumber permasalahan apabila digunakan tanpa tanggung jawab.
Perkembangan kecerdasan buatan yang semakin cepat membuat sejumlah ilmuwan dunia memberikan peringatan agar pemerintah tidak hanya menikmati manfaat AI, tetapi juga mempersiapkan diri menghadapi risiko yang mungkin muncul. Geoffrey Hinton, salah satu tokoh yang memiliki peran besar dalam perkembangan teknologi AI modern dan sering disebut sebagai “Bapak AI”, bersama sejumlah peneliti lainnya mengingatkan bahwa perkembangan AI dapat memasuki fase yang disebut sebagai intelligence explosion atau ledakan kecerdasan, yaitu kondisi ketika kemampuan AI berkembang sangat cepat dan sulit diprediksi oleh manusia (CNN Indonesia,30/09/2026).
Kekhawatiran tersebut muncul karena AI saat ini tidak lagi sekadar menjadi alat yang mengikuti instruksi manusia. Sistem AI modern mampu mempelajari pola, menghasilkan informasi baru, serta memberikan rekomendasi berdasarkan data yang sangat besar. Perkembangan tersebut membuka kemungkinan bahwa suatu saat manusia dapat menghadapi teknologi yang jauh lebih kompleks dibandingkan kemampuan mereka dalam memahami cara kerjanya (Kompas.id, 28/9/2026).
Jika diperhatikan lebih dalam, permasalahan terbesar dari AI sebenarnya bukan terletak pada teknologinya. AI hanyalah sebuah alat yang dibuat manusia. Ia tidak memiliki niat, tujuan, atau nilai moral sendiri. Arah penggunaan AI sangat bergantung pada manusia yang menciptakan dan mengendalikannya.
Teknologi yang sama dapat memberikan manfaat besar di tangan orang yang memiliki tujuan baik, tetapi dapat menjadi ancaman apabila berada di tangan orang yang hanya mengejar kepentingan tanpa mempertimbangkan dampaknya.
Misalnya, AI dapat digunakan untuk membantu dokter menyelamatkan pasien, membantu guru meningkatkan kualitas pembelajaran, atau membantu peneliti menemukan solusi atas berbagai masalah manusia. Namun, teknologi yang sama juga dapat digunakan untuk menyebarkan kebohongan, melakukan manipulasi, atau memperbesar konflik.
Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak cukup hanya diukur dari seberapa pintar sebuah mesin bekerja. Kemajuan sejati juga harus dilihat dari bagaimana manusia menggunakan kecerdasannya secara bertanggung jawab.
Dalam pandangan Islam, kemampuan berpikir dan menciptakan teknologi merupakan bagian dari kemuliaan manusia sebagai makhluk yang diberikan akal. Allah SWT memberikan manusia kemampuan untuk belajar, memahami alam, dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Allah berfirman: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya…” (QS. Al-Baqarah: 31).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa ilmu merupakan bagian dari keistimewaan manusia. Dengan ilmu, manusia mampu menghasilkan berbagai karya dan teknologi. Namun, ilmu yang tidak diarahkan oleh nilai kebaikan dapat kehilangan tujuan utamanya.
Islam tidak pernah mengajarkan manusia untuk menolak perkembangan ilmu pengetahuan. Justru manusia diperintahkan untuk menggunakan akalnya dalam memahami kehidupan dan menjalankan tugasnya sebagai khalifah di bumi. Allah SWT berfirman: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.'” (QS. Al-Baqarah: 30)
Sebagai khalifah, manusia memiliki tanggung jawab untuk mengelola bumi dengan benar. Artinya, setiap ilmu dan teknologi yang dikembangkan harus membawa manfaat, bukan menciptakan kerusakan.
Dalam Islam, teknologi dapat dipandang sebagai bagian dari madaniyah, yaitu bentuk hasil kreativitas manusia yang pada dasarnya bersifat netral. AI termasuk dalam kategori ini karena ia merupakan produk ilmu pengetahuan manusia.
Namun, di balik teknologi tersebut terdapat unsur hadarah, yaitu pemikiran, nilai, dan pandangan hidup yang memengaruhi bagaimana teknologi itu dibuat dan digunakan. AI tidak berdiri sendiri. Data yang digunakan, tujuan pembuatannya, serta keputusan yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh nilai dan pemikiran manusia.
Karena itu, persoalan utama AI bukan hanya tentang kemampuan mesin, tetapi tentang siapa yang mengarahkan mesin tersebut dan nilai apa yang menjadi pedomannya. Jika AI dikembangkan dan digunakan oleh manusia yang memiliki kesadaran bahwa ilmu adalah amanah dari Allah, maka teknologi tersebut dapat menjadi sarana untuk memberikan manfaat luas bagi manusia. AI dapat membantu meningkatkan kesehatan, memperluas pendidikan, dan menyelesaikan berbagai persoalan sosial.
Namun, apabila AI dilepaskan dari nilai moral dan hanya mengikuti kepentingan manusia semata, maka teknologi tersebut dapat menjadi sumber kerusakan. Tidak semua hal yang mampu dilakukan manusia berarti pantas dilakukan tanpa mempertimbangkan akibatnya.
Oleh karena itu, perkembangan AI membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan teknologi. Dunia membutuhkan manusia yang memiliki kebijaksanaan dalam menggunakan teknologi tersebut.
Sistem kehidupan manusia harus memiliki pedoman yang mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan dan nilai kemanusiaan. Dalam perspektif Islam, syariat bukanlah penghambat perkembangan ilmu, tetapi menjadi panduan agar ilmu yang berkembang tetap berada pada jalan yang membawa kebaikan.
Views: 3


Comment here