Opini

Ibu Depresi, Bunuh Diri jadi Solusi?

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Yulweri Vovi Safitria

Wacana-edukasi.com — Seperti biasa, 22 Desember setiap tahunnya diperingati sebagai hari ibu. Peringatan hari ibu dilakukan sebagian bentuk penghargaan terhadap para perempuan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Tanggal tersebut dipilih karena dilatarbelakangi oleh Kongres Perempuan I di tahun 1928, tepatnya pada 22 Desember 1928 (tirto.id, 20/12/2020).

Namun ironi, di tengah agenda tahunan pemerintah tersebut, masih banyak kesenjangan yang terjadi terhadap wanita khususnya kaum ibu. Bahkan dampak dari wabah covid-19 kaum ibulah yang paling berat merasakannya. Bagaimana tidak, krisis wabah yang berkepanjangan dan belum menemukan titik terang, ditambah krisis ekonomi memperburuk keadaan. Sehingga tidak sedikit kasus di luar nalar menimpa para ibu di tanah air. Mulai dari angka perceraian yang terus meningkat, hingga kasus kekerasan yang dilakukan oleh seorang ibu terhadap anak juga suaminya.

Seperti yang baru-baru ini terjadi, dimana seorang ibu berinisial MT (30), tega membunuh tiga anak kandungnya sendiri yang masih balita. Usai membunuh ketiga anaknya itu pelaku sempat melakukan upaya bunuh diri dengan menggorok lehernya sendiri menggunakan parang (15/12/2020).

Hal yang sama juga terjadi di Pekan Baru, seorang ibu muda berusia 27 tahun ditemukan tewas gantung diri di rumahnya pada Senin (16/11/12). Diduga, sebelum bunuh diri, ia meracuni ketiga buah hatinya. Kasus ibu bunuh diri terus terjadi satu dekade ini.

Masalah Ekonomi

Mengapa kasus tersebut terjadi di tengah-tengah kita? Manusia seolah tidak lagi memiliki hati nurani. Bagaimana mungkin seorang ibu, manusia yang memiliki kelebihan yaitu akal, tega menghabisi anak kandungnya. Sedangkan hewan saja tidak sanggup melakukan hal tersebut terhadap anaknya.
Lagi-lagi, masalah ekonomi disebut menjadi pangkal masalah. Ya, penerapan sistem yang salah bisa saja menyebabkan semua ini terjadi. Bahkan untuk sekadar mendapatkan makanan. Ingin mengadu, tapi kepada siapa. Ingin meminta, tapi ke mana. Ibu frustrasi, anak meregang nyawa akibat kemiskinan yang terus mendera. Tekanan hidup yang bertubi-tubi membuat para ibu gelap mata, gangguan mental hingga depresi.

Sementara di sana, banyak orang yang rakus akan harta, mengambil hak yang seharusnya milik rakyat justru diembat. Tanpa ada rasa malu dan bersalah. Sistem demokrasi melahirkan orang-orang yang haus akan materi, meskipun pemimpin berganti tidak serta merta mengubah semua yang terjadi, selama tidak menerapkan aturan yang bersumber dari Ilahi. Kesejahteraan yang dijanjikan hanyalah pemanis bibir, jika pun ada yang peduli, itu hanyalah pribadi segelintir orang.

Hilangnya Nurani

Berbagai kasus kriminal mudah terjadi pada sistem demokrasi. Hal tersebut akibat dari aturan yang diterapkan adalah aturan buatan manusia. Naluri keibuan dan akal sehat tergerus dalam sistem ini. Seseorang mudah melakukan apa saja, bahkan di luar nalar manusia. Peran ibu yang begitu kompleks, sebagai anak yang dari orang tua yang masih harus berbakti, sebagai istri yang harus taat kepada suami, sebagai ibu yang bertanggung jawab mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anaknya, belum lagi tuntutan ekonomi yang juga harus ia pikul. Masalah kompleks yang membuat para ibu depresi. Dan puncaknya, mengakhiri hidupnya dianggap menjadi solusi.

Abainya jaminan kesejahteraan bagi masyarakat membuat fenomena depresi para ibu terus meningkat. Pendapatan suami yang minim, sementara biaya hidup dan harga kebutuhan pokok tak terjangkau, menimbulkan jeritan batin bagi para ibu. Sayangnya baik keluarga ataupun lingkungan tidak peka terhadap kondisi tersebut. Tekanan batin yang begitu kuat yang tidak mampu ia ungkapkan, akhirnya mencari jalan salah.

Kondisi Spritual

Hal paling penting yang seharusnya dimiliki adalah menjaga keimanan dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sehingga sesulit apa pun kondisinya, tidak akan pernah terbersit untuk melakukan hal-hal yang Allah tidak meridainya. Negara juga perlu menjamin agar rakyat sehat mental dan tidak mudah putus asa juga putus harapan. Menjamin kebutuhan spritual masyarakat sebagai bentuk tanggung jawab negara. Sehingga daya tahan masyarakat terhadap berbagai ujian yang datang menjadi lebih kokoh, selalu berpikir positif dalam menghadapi berbagai masalah. Sebab agama Islam mengajarkan umatnya untuk selalu huznuzan terhadap ketetapan Allah Swt.

Islam juga menjamin kebutuhan pokok rakyat dengan memberikan pekerjaan dan penghasilan yang layak bagi para suami, sehingga para ibu tidak perlu bekerja banting tulang untuk menopang ekonomi keluarga. Bahkan pemerintahan Islam memfasilitasi para suami untuk memperoleh kemudahan dalam mencari nafkah.

Dengan begitu, ibu sebagai pencetak generasi yang akan mengubah peradaban, menjadi orang yang betul-betul beriman dan bertakwa, menghargai hidupnya juga kehidupan keluarganya. Hanya dengan Islam, depresi dan gangguan mental dan berujung kematian bisa dicegah. Sebab kecerdasan spritual para ibu mengatakan bahwa kematian merupakan hak prerogatif Allah. Tidak ada seorang pun yang bisa memajukan dan memundurkan. Pun, menyadari bahwa bunuh diri merupakan dosa besar.

“Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu, ia akan di adzab dengan itu di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wallahua’lam bishshawab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

blank

Hits: 20

Comment here