Opini

Mendudukkan Sejarah Dalam Islam

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Silmi Dhiyaulhaq, S.Pd

Praktisi Pendidikan

wacana-edukasi.com,    “Orang bijak belajar dari sejarah”…

Peribahasa tersebut menggambarkan bahwa penting bagi kita belajar dari sejarah, apalagi sejarah tentang bangsa dan negeri kita sendiri. Bicara tentang sejarah memang tak pernah ada habisnya. Terkait sejarah ini, beberapa waktu lalu ada peristiwa fenomenal bagi bangsa Indonesia yakni penayangan Film Jejak Khilafah di Nusantara. Film Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN) diinisiasi oleh sejarawan bernama Nicko Pandawa bersama Komunitas Literasi Islam dalam rangka menyambut Tahun baru Islam 1442 H dan ditayangkan live di channel YouTube Khilafah Channel pada Kamis (20/8/2019) pukul 09.00 WIB. (Fajar.co.id,21/08/2020).

Film Jejak Khilafah di Nusantara bercerita tentang hubungan Nusantara (baca: Indonesia) yang berkaitan dengan khilafah Islamiyah, adidaya dunia saat itu. Film ini disajikan dalam bentuk dokumenter dan diangkat dari data-data otentik yang tercantum di dalam skripsi milik sejarawan Nicko Pandawa. Menurut Nicko Pandawa, film JKDN ini setidaknya akan membuka gerbang sejarah peradaban Islam di Indonesia atau Nusantara, memberikan kunci yang hilang di masa lalu yang seolah dikaburkan tertutup pasir. (bogor.pikiran-rakyat.com, 20/08/2020)

Film ini mendapatkan animo luar biasa di masyarakat terlihat dari trending topic di twitter selama pemutaran film tersebut. Bahkan sejak pagi hingga sore tagar film dokumenter JKDN terus mendapat dukungan. Kurang lebih 77.700 cuitan meramaikan tagar #JejakKhilafahdiNusantara.

Bahkan sempat bertahan sebagai top tren Indonesia. Beberapa tokoh pun memberikan tanggapan yang positif terkait film ini. Pimpinan MUI Kota Baubau, KH. Ir. Muhammad Guntur Dahlan memberikan testimoni. Saat memberikan testimoninya, mantan Kadis Pertambangan Kabupaten Buton ini sedang berada di situs Batu Popaua, tempat pelantikan Raja dan Sultan Buton.
Film ini tayang terlambat satu jam dari yang dijadwalkan. Walaupun begitu tidak menyurutkan antusias penonton untuk menyaksikannya. Terbukti 10 menit penayangan pertama, mendapatkan 43 ribu viewer. Sebuah rekor yang sangat fantastik untuk tayangan live, melebihi jumlah viewer stasiun TV ketika tayangan live. Hal ini tidaklah mengherankan karena Film JKDN terbilang baru, berbeda dengan film-film sejarah lain yang sebelumnya pernah dibuat. Menurut Penasihat Komunitas Literasi Islam (KLI) Ustadz Muhammad Ismail Yusanto penting bagi kita untuk menggali kebenaran, karena masa lalu itu kunci untuk menghadapi masa depan, kita harus menggali kebenaran dan apabila bisa diungkap kita bisa mendapatkan ibrah, makanya adanya film ini, untuk menyampaikan sejarah yang sesungguhnya.
Ismail juga mengatakan bahwa sejarah itu sebagai obyek pemikiran yang bisa memperkuat pemikiran yang kita anut, semisal kita sebagai Muslim memahami bahwa Khilafah adalah bagian dari sejarah Islam. (Publiksatu.co,21/08/2020)

Dalam Islam, sejarah memang bukan sumber hukum, tetapi bisa digunakan sebagai pembelajaran bagi manusia yang hidup di masa kini. Sejarah tidak boleh diambil dari musuh-musuh Islam agar kita tidak sampai memperoleh gambaran yang buruk tentang Islam dan sejarahnya. Jadi sejarah ini adalah objek dari ajaran, dan bukan hanya khayalan. Dengan adanya sejarah akan memperkuat bukti bagi umat Islam bahwa khilafah itu bagian dari ajaran Islam dan ada sejarahnya juga.

Terlepas dari pro-kontra para tokoh sejarawan yang menanggapi film ini, sang sutradara beserta krunya telah berhasil meyakinkan penonton bahwa khilafah itu pernah ada, dan sampai pula ke nusantara. Menariknya lagi, melalui kritik dari para sejarawan yang menonton film ini, justru mulai banyak terkuak fakta-fakta sejarah yang sebelumnya tidak pernah disampaikan dalam kurikulum sekolah.

Selama ini seperti ada missing link antara kerajaan Islam di Nusantara, Wali Songo dan Kekhilafahan Islam.
Oleh karena itu, hendaknya para kritikus film ini bisa memberikan masukan positif dan menyampaikan sejarah dengan jujur apa adanya. Dan tentu akan lebih baik lagi bila nanti ada episode lanjutan dari film ini yang menceritakan secara lebih detail sejarah Islam di Indonesia hingga bisa menjadi negeri muslim terbesar di dunia padahal sebelumnya merupakan kerajaan Hindu dan Budha.

Lalu kemudian seperti kita ketahui nusantara kini bisa berubah menjadi NKRI pada 17 Agustus 1945. Ada peran siapa di balik perubahan Nusantara menjadi NKRI? Adakah kaitannya dengan upaya penjegalan terhadap dakwah Islam akhir-akhir ini? Dengan adanya gambaran sejarah yang utuh dari sejarawan muslim yang jujur dan ikhlas semoga bangsa Indonesia mengetahui sejarah bangsanya dengan sebenar-benarnya tanpa ada fakta yang dikaburkan ataupun dikuburkan.

Wallahu’alam bishshawab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 14

Comment here