Opini

Membersamai Para Pejuang Literasi

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh : Ayla Ghania

Wacana-edukasi.com — Memasuki era revolusi industri 4.0 membuat kita tergagap-gagap. Begitu cepat informasi mengalir setiap harinya bahkan setiap detik. Apalagi jika kita memiliki dan mengikuti perkembangan berita di beberapa sosial media. Permasalahan demi permasalahan sambung menyambung seperti tak berujung. Mulai masalah bidang sosial, moral, ekonomi, pendidikan, serta kesehatan. Masalah bidang politik pun semakin panas saja. Masuk dunia maya tapi serasa lebih nyata dari pada dunia nyata.

Moralitas semakin hancur. Kasus hamil diluar nikah dan aborsi sudah menjadi hal lumrah. Kasus anak hamili ibu kandung, ayah hamili anak kandung semakin marak. Pesta gay, pernikahan sejenis semakin bertambah. Dispensasi nikah akibat kehamilan pada anak juga semakin menggeliat. Kasus pelaporan anak terhadap ibu kandung terkait harta waris membuat hati teriris.

Di bidang politik, ratusan kepala daerah yang terjerat kasus korupsi tidak bisa dianggap sepele. Politik dinasti semakin menunjukan gigi taringnya. Sementara itu, suara kritis mahasiswa semakin hilang. Ditambah lagi kubu oposisi telah membaur dengan kubu koalisi. Rakyat hanya bisa berharap kepada pengemban dakwah sebagai penyambung aspirasi. Semakin hari rakyat dihadapkan dengan bermacam kebijakan yang mengiris hati.

Dakwah sebelumnya lebih banyak dilakukan dengan lisan. Dakwah tulisan masih diangap sebagai dakwah yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki pemahaman yang tinggi dan memiliki latar belakang kepenulisan. Namun, serangan pemikiran dan budaya berlangsung sangat cepat baik melalui media cetak, media online maupun media sosial. Kondisi demikian mengharuskan pengemban dakwah turut merambah dakwah tulisan.

Tentunya kita tidak bisa membiarkan pemikiran dan budaya yang bertentangan dengan Islam terus menguasai akal umat Islam. Dakwah lisan dikuatkan dengan Firman Allah SWT. dalam Al Qur’an surat Al-Qalam ayat 1 yang artinya, “Nuun, demi al-qalam (pena) dan apa yang mereka tulis.”
Juga dalam Al Qur’an Surat Al-Alaq ayat 4-5 yang artinya, “(Allah) yang mengajar (manusia) dengan perantaran pena (baca tulis). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Menjadi pengemban dakwah bukan berarti tidak tau adanya risiko. Hidup di zaman dimana ramai “orang gila good looking” suka menyerang ulama dan imam masjid. Di zaman orang kritis tak digrubris malah dipersekusi. Dakwah lisan memiliki risiko, begitupun dakwah tulisan. Dakwah tulisan meninggalkan jejak yang sewaktu-waktu bisa digunakan untuk menyerang para pengemban dakwah, pejuang literasi.

Namun, kondisi saat ini sungguh sulit untuk terus diam. Di saat bermacam kebijakan yang menyengsarakan rakyat, di saat ini pula tuduhan terhadap Islam semakin menjadi-jadi. Hingga upaya moderasi syariat Islam dalam kurikulum sekolah pun dilakukan. Para pejuang literasi memahami risiko, tapi tidak bisa mundur. Jika mundur, akan didapati risiko lebih besar. Islam tambah dihinakan. Carut marut urusan umat pun akan semakin semrawut.

Menjadi penulis bukan berarti harus memiliki latar belakang kepenulisan, lulusan sastra ataupun bahasa. Terbukti banyak di antara penulis memiliki pendidikan formal yang tidak nyambung dengan dunia literasi tapi mampu menghasilkan karya. Karena aktivitas menulis tidak tergantung dengan banyaknya teori. Segudang teori tidak akan berguna jika hanya diendapkan di dalam otak. Menulis hanya bisa dilakukan oleh orang yang berani memulai praktik menulis.

Pun demikian, tidak cukup meluruskan niat kemudian nekat menulis tanpa ilmu. Ilmu kepenulisan tetap dibutuhkan guna hasil tulisan yang baik dengan menghindari berita hoax, mengutamakan tema yang berkaitan dengan masalah keumatan, memiliki alur yang mudah dibaca dan isi yang berbobot.

Oleh karena itu, pejuang literasi harus rela mengorbankan waktu untuk belajar, meski dengan cara googling. Termasuk harus siap merogoh kocek jika perlu mengikuti kelas menulis. Mengingat tulisan tadi adalah dalam rangka dakwah, tentu isi tulisan tidak lepas dari amar maruf nahi mungkar. Artinya, setiap masalah yang diungkapkan hendaknya menawarkan solusi Islam. Menjadi penting bagi penulis untuk terus menambah tsaqofah Islam.

Menulis bukanlah pekerjaan yang dilakukan oleh seorang pengangguran. Menulis bukan karena memiliki banyak waktu luang, tetapi karena rela berkoban meluangkan waktu. Meskipun kebanyakan penulis adalah wanita, makhluk multitasking. Makhluk yang bisa melakukan beberapa aktivitas dalam waktu yang bersamaan.

Menulis adalah aktivitas yang membutuhkan waktu khusus, karena membutuhkan konsentrasi penuh.
Bagaimana jika penulis adalah seorang ibu rumah tangga? Di mana mereka juga harus menyelesaikan hak anak, hak suami, juga urusan rumah? Apatah lagi jika si wanita juga wanita karir? Ketika telah mengazamkan diri terjun di dunia literasi, maka tak ada jalan lain selain mengorbankan waktu pribadinya. Mengorbankan waktu istirahatnya. Menjadi penulis memaksa jam istirahat berkurang.

Menjadi penulis bukan melulu karena ingin terkenal. Bukan pula karena ingin mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Meski banyak penulis yang melakukannya karena hobi. Penting untuk meluruskan kembali niat menulis adalah untuk dakwah, membumikan syariat Allah SWT. Sehingga ketika menghadapi bermacam onak duri, tetap masih bisa bertahan. Insha Allah.

Selain itu, dakwah merupakan proyek besar sehingga harus dilakukan secara berjamaah. Pun demikian halnya dakwah literasi, tidak akan mampu dilakukan sendiri. Meskipun telah meluruskan niat. Bagaimana mungkin membiarkan seseorang sendiri berjuang merubah sistem di suatu negeri, bahkan merubah sistem di seluruh dunia? Maka dari itu fitrahnya dakwah literasi tetap dilakukan secara berjamaah. Pun jika pejuang literasi belum mendapati ruh jamaah, maka ia akan mencari sebuah jamaah/komunitas untuk tetap bertahan dalam kepenulisan.

Menjadi penting memberi support kepada para pejuang literasi. Bagaimanapun juga, mereka adalah manusia biasa yang bisa saja futur. Mereka telah berupaya mengorbankan waktu, mengerahkan pikiran, mengesampingkan urusan pribadi, keluarga dan urusan dunianya. Demi perbaikan kondisi umat. Keceriaan dan kekuatan mereka adalah ketika ada banyak kawan yang membersamai mereka. Hingga mereka tidak merasa sendiri.

Wallahu alam bish showab.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 0

Comment here